New Maju Indonesia Ku

Showing posts with label USA. Show all posts
Showing posts with label USA. Show all posts

Wednesday, September 11, 2013

2014, Dua Helikopter Apache Tiba Di Indonesia

Jakarta (MID) - Delapan unit helikoper serbu Apache buatan Amerika Serikat akan memperkuat satuan penerbangan TNI AD. Dua unit pertama dijadwalkan tiba pada 2014 dan lima sisanya yang dilengkapi radar canggih akan dikirim secara bertahap hingga 2017 mendatang.

"Dua tiba 2014, itu bisa digunakan untuk pelatihan," ujar KSAD Jenderal Budiman usai menerima brevet Komando Kehormatan di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (11/9/2013).

Nota kesepahaman pengadaannya telah ditandangani oleh Menteri Pertahanan RI dan AS pada bulan lalu. Nilai kontraknya mencapai US$ 500 juta yang nantinya akan ditambah sesuai peningkatan spesifikasi dan kelengkapan pendukung heli bersangkutan.

"Keseluruhannya nanti 2017, itu ditanmbag dengan radar Longbow berkemampuan jarak jauh," sambungnya.(DETIK/WDN)
Continue reading →

Wednesday, September 4, 2013

Komisi I Siap Awasi Pengadaan Helikopter Apache

Jakarta (MID) – Komisi I DPR RI memastikan akan mengawasi realisasi pengadaan delapan unit helikopter Apache produksi Amerika Serikat. Kontrak pengadaan heli jenis serbu itu sudah diteken Menteri Pertahanan Poernomo Yusgiantoro, Senin pekan lalu.

Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin, kebijakan pembelian alutsista tersebut disepakati DPR dan pemerintah dengan syarat ada komitmen alih teknologi, jaminan suku cadang, serta bebas pakai.

"Adapun yang akan kita awasi adalah bagaimana realisasi pembelian helikopter itu, sudahkah sesuai syarat. Kalau perlu kemudian alutsista itu kita produksi sendiri di dalam negeri," katanya di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (2/9).

Pembelian Apache sudah direncanakan sejak awal 2013. Namun, TNI Angkatan Darat belum merealisasikannya karena Kementerian Keuangan memasukkannya dalam anggaran reguler sehingga bikin berat. Khawatir biaya operasional terganggu, TNI AD lalu meminta tambahan anggaran khusus pada APBN 2014.

Pembelian alutsista itu menghabiskan anggaran Rp 6,4 triliun. Pada Oktober 2014, helikopter tersebut diharapkan sudah datang lengkap dengan senjata dan suku cadangnya.(Jurnal Parlemen/WDN)
Continue reading →

Saturday, August 31, 2013

Kemhan Kirim Tim untuk Pelajari Spesifikasi Apache

Jakarta (MID) - Kementerian Pertahanan RI akan mengirimkan tim khusus ke Amerika Serikat untuk mengetahui secara pasti detail spesifikasi helikopter serbu Apache. Helikopter Apache disebut-sebut akan dibeli dan ikut memperkuat Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) Indonesia.

“Spesifikasi teknologinya harus jelas betul, yang dibeli seperti apa. Terakhir yang akan berangkat ke AS ada Sekjen Kemhan yang saat ini menjadi KSAD,” kata Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, yang ditemui sesaat setelah peluncuran buku Susaningtyas Nefo Handayani berjudul, 'Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Keamanan', Jumat (30/8).

Menurut Purnomo, sistem persenjataan sebuah alat tempur sangat mempengaruhi harga. Suatu peralatan tempur yang dilengkapi dengan sistem deteksi radar tentu lebih mahal dibandingkan dengan yang tidak ada.

Ditegaskan, pembelian helikopter Apache merupakan rencana pertahanan jangka panjang. Oleh sebab itu, kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dollar diharapkan tidak akan berpengaruh banyak terhadap rencana pembelian ini.

Dijelaskan Menhan, Indonesia membutuhkan satu skuadron helikopter serbu atau membutuhkan sebanyak 16 helikopter. Kalau Indonesia beli delapan unit heli Apache, maka bisa dikatakan baru setengah skuadron. Untuk menggenapinya, akan dikombinasi dengan heli tempur buatan dalam negeri .

“Yang dibutuhkan satu skuadron heli kopter serang atau sebanyak 16 unit. Kalau kita beli delapan unit helikopter Apache, berarti baru setengah skuadron. Mungkin ada kombinasi, seperti halnya pesawat tanpa awak (UAV), setengah skuadronnya merupakan buatan dalam negeri,” jelas Purnomo.

Sebelumnya, melalui kementerian Pertahanan AS, pembelian helikopter serang Apache AH-64 telah disetujui negara adidaya itu. Kementerian Pertahanan pun menyambut baik dengan berencana siapkan satu skuadron Helikopter Serang Apache AH-64, seiring disetujuinya pembelian helikopter dari AS.

Indonesia mengapresiasi komitmen Pemerintah AS untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan kemampuan pertahanan melalui berbagai program kerja sama pertahanan (Defence Cooperation). Salah satunya seperti pengadaan helikopter serbu Apache.(Berita Satu/WDN)
Continue reading →

Thursday, August 22, 2013

Rusia - AS Saling Berlomba Dalam Pengadaan Alutsista Indonesia

Jakarta (MID) - Rusia bertekad semakin aktif menjalin kerjasama dengan Indonesia di bidang pertahanan. Kerjasama ini tidak sebatas jual-beli alat-alat utama sistem pertahanan (alutsista), namun juga latihan militer bersama dan rencana membuat proyek patungan industri alutsista.

Saat masih berbentuk Uni Soviet (USSR), Rusia menjual persenjataannya ke Indonesia tidak lama setelah kedua negara membuka hubungan diplomatik pada 1950. Di tahun-tahun awal, banyak pula personel angkatan laut dan udara Indonesia dikirim ke Uni Soviet untuk menempuh pendidikan.

Namun, hubungan itu terganggu di pertengahan dekade 1960an karena alasan-alasan politis. Kedua negara kembali melanjutkan hubungan di awal dekade 1990an, walau baru berjalan erat satu dekade kemudian karena saat itu masih terhalang beberapa faktor.

Contohnya, pembicaraan soal jual-beli jet tempur Rusia Sukhoi-30 ke Indonesia sudah berlangsung sejak 1997. Namun jual-beli itu baru disepakati pada 2003.

Eratnya kembali kerjasama pertahanan Rusia-Indonesia banyak terbantu berkat rengganggnya hubungan serupa antara Indonesia dengan Amerika Serikat di akhir dekade 1990an. Kerenggangan itu muncul setelah Washington menjatuhkan embargo penjualan senjata ke Jakarta karena menilai Indonesia saat itu melanggar Hak Asasi Manusia di Timor Timur, yang kini bernama Timor Leste sejak menjadi negara berdaulat pada 2002.

Embargo senjata AS ke RI itu, berikut suku cadang, berlangsung selama 1999-2005. AS mengakhiri embargo ketika Presidennya saat itu, George W Bush, menganggap Indonesia termasuk mitra penting memerangi terorisme.

Setelah mencabut embargo, AS pun terlihat aktif menawarkan mesin-mesin perangnya kepada Indonesia. Pada 2011, AS sepakat mengirim 24 unit jet tempur bekas tipe F-16 seri C/D blok 25 kepada Indonesia secara cuma-cuma, kecuali untuk biaya pemutakhiran (upgrade).

Pada akhir 2012, AS dan Indonesia berunding untuk jual-beli helikopter serbaguna UH-60 Black Hawk dan helikopter tempur AH-60D buatan Boeing.

Namun, belajar dari embargo AS itu, Indonesia membuka pintu kerjasama seluas-luasnya kepada negara lain, termasuk Rusia, agar tidak lagi bergantung kepada satu pihak dalam pengadaan alutsista. Maka, sejak itu, Indonesia tidak hanya kembali berbisnis senjata dengan AS, namun juga mempererat kerjasama serupa dengan Rusia.

Maka, Indonesia dan Rusia bersepakat soal jual beli jet tempur dan mesin-mesin perang lain. Sejak 2003, Rusia telah mengirim 12 unit jet tempur Sukhoi ke Indonesia dan pengiriman empat unit lagi masih menunggu persetujuan lebih lanjut.

Moskow pun telah menjual sejumlah helikopter militer Mi-35 dan Mi-17 kepada Jakarta. Alutsista lain yang dijual Rusia ke Indonesia adalah kendaraan tempur lapis baja BMP-3F, kendaraan pengangkut personel BTR-80A, serta senapan serbu AK-102.

Untuk membeli persenjataan itu, Moskow pada 2007 memberi fasilitas kredit sebesar US$1 miliar kepada Jakarta. Kerjasama pertahanan di luar jual-beli persenjataan juga telah berlangsung, seperti menggelar latihan bersama memerangi perompak di laut antara pasukan Indonesia dengan Rusia pada 2011.

Kerjasama kedua negara juga mencakup kemitraan Rusia dengan ASEAN. Pada Juli 2004, Rusia dan ASEAN menyapakati deklarasi memerangi bersama terorisme.

ASEAN dan Rusia pun menggelar pertemuan tahunan dan kelompok-kelompok diskusi di bidang keamanan maritim, bantuan kemanusiaan, pengobatan militer, operasi penjaga perdamaian , dan pemberantasan ranjau darat.

Baru-baru ini Rusia menawarkan bantuan ke Indonesia membangun sistem pertahanan udara. Saat ini, Indonesia hanya memiliki rudal-rudal pertahanan SAM (surface-to-air missile) jarak dekat. Industri Pertahanan

Maka, Viktor Komardin dari perusahaan ekspor senjata-senjata Rusia (Rosoboronexport) mengungkapkan bahwa Moskow akan menjual perangkat sistem SAM sekaligus membantu mempersiapkan jaringan pertahanan udara.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Edy Prasetyono, menilai kerjasama pertahanan RI-Rusia masih belum maksimal, tidak saja dalam jual-beli alustsita, namun juga di bidang lain seperti pelatihan, dan pendidikan militer.

"Indonesia kini punya undang-undang industri pertahanan yang menyatakan bahwa pembangunan industri pertahanan bisa berlangsung melalui kerjasama internasional. Maka, ada ruang bagi Rusia untuk bekerjasama dengan Indonesia, terutama dalam beberapa platform senjata tertentu. Kedua negara perlu bernegosiasi soal ini," kata Prasetyono.(Vivanews/WDN)
Continue reading →

Friday, August 16, 2013

KSAD : 8 Unit Helikopter Apache Mulai Tiba 2018

Jakarta (MID) - Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Moeldoko memastikan pemerintah membeli delapan unit helikopter Apache. Menurut dia, Kementerian Pertahanan sudah memberi lampu hijau untuk membeli helikopter serang canggih AH-64-D Apache Longbow dari Amerika Serikat itu.

Dewan Perwakilan Rakyat yang sebelumnya menolak pembelian Apache karena dianggap kemahalan, kata Moeldoko, kini sudah sepakat menyetujuinya. ”DPR dan Kementerian Pertahanan sudah oke,” kata dia saat ditemui Tempo di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis, 15 Agustus 2013.

Moeldoko tak mau menyebut harga pembelian delapan helikopter itu dengan alasan tak tahu pasti harganya. ”Lagipula itu teknis.” Ia mengatakan, pemerintah pada tahun ini sudah mulai membayarkan uang muka ke pemerintah Amerika Serikat. ”Pembayaran uang muka menjadi awal kesepakatan pembelian helikopter,” ujar dia. Kedelapan helikopter akan diterima Indonesia secara bertahap mulai 2018 hingga 2021.

Adapun Komisi Pertahanan DPR membenarkan menyetujui pembelian Apache, meski awalnya menolak. ”Setelah dipikir-pikir, memang dibutuhkan Apache untuk memperkuat jajaran Angkatan Darat,” ujar Wakil Ketua Komisi Pertahanan, Tubagus Hasanuddin.

Helikopter yang akan dibeli Indonesia adalah produksi tahun 2007-2008. "Untuk ukuran usia pesawat bersayap putar, umurnya masih 5-6 tahun tergolong masih bisa dikatakan baru." Helikopter ini mampu menembakkan rudal ke darat dalam jangkauan 500 m - 8 kilometer.

"Helikopter ini juga tepat sasaran karena punya alat pengindraan jarak jauh, " kata dia. Tubagus menjelaskan, menyebutkan, anggaran yang bakal disiapkan mencapai Rp. 3,1 triliun.

Rizal Darma Putra, pengamat militer dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia, meminta Kementerian Pertahanan dan DPR teliti dalam membeli delapan helikopter Apache. Ia mengingatkan pemerintah dan DPR agar tidak lengah membaca kontrak pembelian dengan pihak Amerika Serikat, pemilik Apache. "Kalau tidak teliti, sudah pasti rugi," kata Rizal kemarin.

Menurut dia, kerugian pertama adalah soal harga yang mahal. Pembelian alat utama sistem persenjataan bekas biasanya disertai klausul perbaikan atau "retrofit". "Jika tidak teliti, biaya perbaikan ini bisa membengkat di luar estimasi." Kerugian kedua, tidak mendapatkan alat persenjataan yang lengkap.(Tempo/MIK/WDN)
Continue reading →

Thursday, April 4, 2013

TNI AL Dan Amerika Lakukan Latihan Bersama

Jakarta – TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut Amerika Serikat (United Statis Pasific Command/USPACOM) dalam waktu dekat akan menggelar latihan bersama dengan nama sandi latihan Carat 2013 (Cooperation Afloat Readiness and Training 2013). Latihan ini dalam kerangka kerja sama bilateral antara Indonesia dengan Amerika Serikat.

Dalam laporan kesiapan yang dipaparkan oleh Kolonel Laut (P) Deny Septiana, S.Ip selaku Komandan Satgas yang juga menjabat Komandan Satuan kapal Patroli Armabar kepada Wakil Asisten Operasi Kasal (Waasops Kasal) Laksamana Pertama TNI Arie H. Sembiring di Markas Besar Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta Timur bahwa latihan akan dilaksanakan menjadi dua tahap, yaitu tahap pangkalan yang meliputi kegiatan simposium, pelatihan, olah raga persahabatan dan interaksi sosial melalui pertunjukan musik, dan kunjungan ke Sekolah Dasar di wilayah Jakarta Utara.

Tahap laut yang meliputi kegiatan latihan tempur kapal di perairan Laut Jawa dan latihan Marinir di daerah latihan Koprs Marinir, Antralina, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. “Latihan bersama nantinya akan dilaksanakan kurang lebih selama sebelas hari, dan melibatkan pasukan elit kedua negara serta kapal perang termasuk kapal selam,” kata Dan Satgas.

Waasops Kasal Laksamana Pertama TNI Arie H. Sembiring pada kesempatan tersebut menambahkan bahwa latihan ini digelar guna meningkatkan kerja sama internasional khususnya dibidang pertahanan, antara Angkatan Laut kedua negara dalam menambah profesionalisme prajurit, dihadapkan pada perkembangan tuntutan dan dinamika tugas ke depan yang semakin kompleks, khususnya terkait masalah keamanan di wilayah perairan.

Materi latihan yang akan diaplikasikan diantaranya peningkatan kemampuan teknis dan taktis pada pelaksanaan Operasi Militer Perang (OMP), peningkatan kemampuan teknis dan taktis pada pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), dan pelaksanaan simposium tentang perkembangan teknologi alutsista masa kini. Sedangkan lokasi latihan yang digunakan adalah wilayah Jakarta dengan pos Komando di Mako Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar), perairan Tanjung Priok hingga Kepulauan Seribu, serta Tanjung Pasir, Tangerang, Provinsi Banten.

Sisi sentuhan di bidang kemasyarakatan pada latihan bersama ini adalah akan laksanakan kegiatan bakti sosial dan pembangunan, antara lain rumah tahan gempa yang dibangun di daerah Tanjung Pasir, Tangerang, Provinsi Banten, sedangkan pada sisi teknologi militer adalah berupa uji coba pengoperasian/penerbangan pesawat tanpa awak milik US Navy.(Pos Kota/WDN)
Continue reading →

Monday, February 25, 2013

KSAD Kecewa Dengan Hasil Negosiasi Apache

Jakarta - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Pramono Edhie Wibowo lebih memilih membeli helikopter Black Hawk daripada Apache.

Sebab harga Apache lebih mahal dua kali lipat daripada Black Hawk. "Kami masih mengkaji terus. Black Hawk menjadi pilihan bagus," kata Pramono di Mabes TNI AD, Senin (25/2).

Dijelaskannya, pada awal kunjungan ke pabrik helikopter di Amerika Serikat, harga Apache sebenarnya masih standar. Meski tidak menyebut harga, Pramono tampak kecewa ketika menjelang persetujuan pembelian harganya meningkat.

Karena hanya mendapat alokasi 200 juta dolar AS, pihaknya akhirnya lebih membeli helikopter Black Hawk. "Harga tidak boleh dinaikkan. Pas datang harga sesuai, pasti deal harga naik. Siapa yang menaikkan? Saya tidak tahu," cetus Pramono.

Terkait pengadaan tank tempur utama Leopard, Pramono mengatakan tinggal penyelesaian pembayaran. "Leopard pada tahap penyelesaian di Kemenhan," ujarnya.(Republika/WDN)
Continue reading →

Tuesday, February 12, 2013

KSAD : TNI AD Akan Beli 20 Helikopter Black Hawk dari AS

Banda Aceh - TNI Angkatan Darat (AD) akan membeli 20 unit helikopter tempur jenis Black Hawk dari Amerika Serikat untuk memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista).

“Saya sedang berkomunikasi dengan satuan pembuat atau negara pembuat, Insya Allah kalau diizinkan dan data itu ada, kami akan membeli Black Hawk 20 unit dari Amerika,” kata KSDA, Jenderal TNI Pramono Edi Wibowo, kepada wartawan di Makodam Iskandar Muda Aceh, Senin (11/2/2013).

TNI AD, kata dia, juga memesan 20 unit helikopter serba guna jenis Bell 412 EP. Dari 20 unit yang dipesan, 10 unit di antaranya sudah kelar.

Heli tersebut akan dijadikan cadangan pusat dan dibagi kepada satuan-satuan utama TNI AD di Indonesia. “Agar lebih mudah untuk mengendalikan keamanan,” terang Pramono.

Menurutnya, penjagaan keamanan wilayah NKRI, khususnya di Aceh, saat ini berjalan baik. Kepada semua pihak di Aceh, Pramono berpesan agar terus menjaga perdamaian dan keamanan untuk pembangunan Aceh lebih baik.(OKEZONE/WDN)
Continue reading →

Wednesday, January 30, 2013

TNI AL Inginkan Tingkatkan Alih Teknologi Dengan AS

Jakarta - TNI Angkatan Laut berharap kerjasama keamanan maritim dengan Amerika Serikat bisa ditingkatkan. Namun lingkup kerjasamanya tidak sekadar dialog, pelatihan, dan saling kunjung, melainkan juga transfer teknologi dan dukungan "analisis perangkat intelijen."

Harapan itu disampaikan Kepala Pusat Olah Yudha (War Game Center) dari Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut, Kolonel Laut Judijanto. Dalam suatu diskusi di Jakarta hari ini, Judijanto menyampaikan pemaparan mengenai kerjasama maritim Indonesia-Amerika Serikat bersama dengan Atase Angkatan Laut Kedutaan Besar AS, Kolonel Laut Adrian Jansen, dan diplomat veteran Amerika yang kini memimpin lembaga persahabatan Usindo, David Merrill.

Judijanto mengungkapkan kerjasama keamanan maritim Indonesia - AS beberapa tahun belakangan kian erat sejak dibentuk Kemitraan Strategis kedua negara sejak November 2010. Tujuan dari kemitraan itu adalah menciptakan kerangka kerjasama maritim bilateral yang koheren dalam mendukung pemanfaatan laut yang berkelanjutan.

Sejak itu kerjasama militer ke militer dua negara terus meningkat di beberapa program, seperti saling kunjung perwira, latihan bersama, dialog, dan pendidikan," kata Judijanto. Namun dia melihat masih ada beberapa peluang kunci yang dibutuhkan kedua negara untuk mendapat dampak yang lebih positif dalam kerjasama keamanan maritim.

"Salah satunya adalah melibatkan lebih banyak pihak, termasuk menggandeng lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat. Bahkan bisa juga melibatkan pihak sipil dalam mendukung latihan dan mekanisme operasional bersama, baik di tingkat strategi, operasi, dan taktik," kata Kolonel Judijanto.

Selain itu, kedua angkatan laut perlu meningkatkan kerjasama dalam pembangunan kapabilitas komando, kendali, komunikasi, komputer, informasi, pemantauan dan pengintaian. "Diperlukan juga dukungan analisis perangkat intelijen keamanan maritim, alih teknologi, dan pengadaan kapabilitas maritim yang mutakhir, dengan menitikberatkan keamanan lingkungan maritim, keselamatan maritim, dan bencana alam," kata Judijanto.

Sementara itu, Kolonel Jansen dari Kedubes AS memaparkan bahwa kerjasama TNI AL dan Angkatan Laut AS memiliki sejumlah kepentingan bersama. "Ada dua faktor, yaitu menjamin demokrasi/kebebasan dan keamanan maritim," kata Jansen.

Dia juga mengungkapkan bahwa angkatan laut kedua negara juga menghadapi ancaman bersama. "Beberapa ancaman itu adalah pembajakan, terorisme, dan kejahatan lintas negara. Selain itu kedua angkatan laut juga bekerjasama menangani tanggap darurat akibat bencana alam dan krisis kemanusiaan," kata Jansen.(Vivanews/WDN)
Continue reading →

Indonesia Dan AS Punya Kepentingan Yang Sama Dalam Sengketa Wilayah

Jakarta - Atase Angkatan Laut Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Kapten Adrian Jensen menyebut Indonesia mempunyai kepentingan yang sama dengan negara yang diwakilinya dalam isu sengketa wilayah maritim di kawasan Asia Pasifik.

"Kami mempunyai kepentingan bersama dengan Indonesia di bidang maritim, khususnya mengenai sengketa wilayah, di kawasan Asia Pasifik. Oleh karena itu kerja sama keamanan harus ditingkatkan," kata Jensen dalam diskusi "The United States-Indonesia Security Partnership: Maritime Cooperation" di Jakarta, Selasa.

Jensen mengatakan bahwa peningkatan kerja sama militer antara Amerika Serikat dan Indonesia diperlukan untuk menjaga "demokrasi dan kebebasan" di Asia Pasifik.

"Sebagai negara demokrasi terbesar kedua dan ketiga di dunia, kedua negara mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan prinsip demokrasi di kawasan," kata dia.

Jensen juga berpendapat bahwa Amerika Serikat merasa perlu untuk membantu Indonesia menjaga keamanan wilayah lautnya yang strategis.

Pernyataan Jensen tersebut semakin menegaskan sikap Amerika Serikat terhadap sengketa wilayah di kawasan Asia Pasifik yang melibatkan China. China bersengketa dengan Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara Asia Tenggara atas kepemilikan beberapa kepulauan berbeda di Laut China Selatan.

Sebelumnya pada Jumat 18 Januari lalu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mengeluarkan pernyataan keras yang "menentang semua tindakan sepihak" terhadap kepulauan sengketa. China, melalui Kantor Berita Xinhua, kemudian merespon dengan menulis bahwa negara tersebut "sangat tidak puas" dengan pernyataan Ny. Clinton. Pernyataan Jensen mengenai penjagaan demokrasi dan kebebasan di Asia Pasifik itu juga pernah dikeluarkan oleh Ny. Clinton pada tahun 2010 di Vietnam. Pada saat itu, Menteri Luar Negeri mengatakan bahwa Amerika Serikat mempunyai " kepentingan yang tidak bisa dinegosiasikan" terhadap kebebasan berlayar di Laut China Selatan.

Kantor Berita AFP menyebut pernyataan itu sebagai "momen penentu perubahan sikap Amerika Serikat terhadap China". Di sisi lain, untuk menjaga demokrasi dan kebebasan di wilayah maritim Asia Pasifik, Jensen menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Indonesia telah meningkatkan kerja sama sampai dengan 100 program pada tahun 2011, atau naik 20 kali lipat dibanding 2005 lalu.

"Kami banyak melakukan pelatihan bersama Angkatan Laut Indonesia," kata Jensen tanpa menyebut lebih lanjut rincian 100 program kerja sama maritim pada 2011.

Sementara itu dari pihak Indonesia, Kapten Judianto dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa kesepakatan kerja sama keamanan yang komprehensif telah disepakati antara dua negara pada tahun 2012.

Selain soal sengketa wilayah dan keamanan kawasan, peningkatan hubungan maritim Amerika Serikat dan Indonesia juga meliputi isu nuklir, pembajakan, dan penanganan bencana alam.

Secara khusus, Judianto menyebut masalah pembajakan sebagai ancaman keamanan non-tradisional yang harus segera diatasi.

"Secara geografis Indonesia terletak di rute pelayaran penting dunia, sedikitnya 63 ribu kapal melewati Selat Malaka tiap tahunnya. Oleh karena itu negara ini rentan terhadap kejahatan," kata dia.(ANT/WDN)
Continue reading →

Thursday, January 10, 2013

Kemhan Lanjutkan Pembelian Helikopter Apache

Jakarta - Kementerian Pertahanan akan tetap membeli helikopter Apache dari Amerika Serikat. Harga yang mahal tidak menyurutkan niat pemerintah. "Harganya memang sangat mahal, kami harus mempertimbangkan kekuatan anggaran," ujar Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Mayor Jenderal Ediwan Prabowo kepada Tempo, Rabu, 9 Januari 2013.

Harga mahal itu, kata Ediwan, adalah konsekuensi dari pemerintah Amerika Serikat. "Mereka ingin standar keselamatan yang tinggi. Tidak mau kalau helikopter itu jatuh di sini (Indonesia) dan merugikan citra mereka," kata dia.

Rencana pembelian delapan helikopter Apache Longbow AH 64 D itu sudah dikabulkan oleh kongres negeri Abang Sam. "Congress notification sudah kami terima, kini tinggal tunggu persetujuan DPR kita," kata Ediwan.

Untuk menyiasati mahalnya harga heli Apache, Kementerian akan menyesuaikan perencanaan anggarannya. "Kami akan sesuaikan pos anggaran yang lain agar bisa mencukupi."

Harga per unit heli Apache sendiri diperkirakan mencapai US$ 40 juta. Kementerian Pertahanan dan TNI AD sebelumnya sudah menandatangani kontrak pengadaan heli serbu dan heli serang dengan PT Dirgantara Indonesia. Kontrak tersebut masing-masing bernilai US$ 90 juta dan US$ 170 juta.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Saturday, December 1, 2012

Indonesia Kirim Hercules Untuk Retrofit Di ARINC, LLC USA

Jakarta - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menyerahkan pesawat C-130H A-1303 Hercules kepada ARINC, LLC USA, untuk pelaksanaan Retrofit bertempat di Hangar Satuan Pemeliharaan 15 Depohar 10 Lanud Husein Sastranegara, Bandung, Kamis (29/11).

Pada penyerahan pesawat Kemhan RI diwakili oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan (Ka Baranahan) Mayor Jendral TNI Ediwan Prabowo. Dalam sambutannya Ka Baranahan menyampaikan bahwa Keman RI telah menandatangani kontrak dengan ARINC pada tanggal 8 Desember 2008 untuk melaksanakan retrofit 5 pesawat C-130H milik TNI Angkatan Udara. Kemhan yakin bahwa ARINC akan dapat menyelesaikan kontrak tepat waktu.

Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk menandai keberhasilan pelaksanaan tugas, kesempatan ini sebagai wujud rasa syukur kehadirat yang Kuasa dimana sampai saat ini Tentara Nasional Indonesia telah mampu dan berhasil melaksanakan tugasnya dalam Operasi Militer Perang maupun Operasi Militer Selain Perang. Demikian pula telah tercatat dalam sejarah Indonesia bahwa TNI telah banyak berkiprah dalam menjaga kedaulatan RI serta pelaksanaan operasi penanggulangan bencana. Oleh karena itu kehadiran pesawat C-130 Hercules yang lebih modern setelah dilaksanakan retrofit diharapkan mampu menghadapi tantangan yang lebih kompleks dimasa yang akan datang.

Penyerahan pesawat ditandai dengan penandatanganan berita acara penyerahan pesawat oleh Ka Baranahan dan Mr. Larry D. Lamb dari ARINC, LCC USA. Penandatanganan disaksikan oleh Komandan Koharmatau Marsda TNI Sumarno, Kadisaeroau Marsma TNI Hasan Londang dan Kadiskomlekau Marsma M Yunus.(TNI AU/WDN)
Continue reading →

Thursday, November 29, 2012

Diplomat AS : AS Harus Tingkatkan Hubungan Militer dengan Indonesia

Jakarta - Seorang pejabat senior Amerika mengatakan AS seharusnya mengembangkan hubungan militernya dengan Indonesia dalam konteks sebagai dua negara demokrasi yang sangat dinamis.

Diplomat senior untuk Asia Timur, Kurt Campbell, mengatakan hubungan-hubungan antara dua negara telah berkembang dalam tahun-tahun terakhir, namun tidak cukup cepat.

Campbell berbicara pada Selasa (27/11) dalam pertemuan Masyarakat AS-Indonesia di Washington.

Hubungan militer dengan AS yang memburuk selama beberapa tahun setelah penyerbuan berdarah di Timor Leste pada 1999. Pemerintah Indonesia sendiri sejak itu telah berupaya meningkatkan profesionalisme dan modernitas militer. Pembatasan AS terhadap hubungan dengan Komando Pasukan Khusus (Kopasus) yang ditakuti telah dicabut pada 2010.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa penyalahgunaan wewenang yang dilakukan militer Indonesia terus berlangsung, terutama di provinsi Papua Barat.

Campbell juga mendorong hubungan yang lebih erat antara dua pemerintahan dan memuji kepemimpinan Indonesia dalam diplomasi regional.(VOA/WDN)
Continue reading →

Thursday, November 22, 2012

Lockheed Martin Dan PT CMI Teknologi Siap Memproduksi Radar Untuk Program NASRI

Jakarta - Lockheed Martin dan perusahaan teknologi asal Indonesia yaitu PT CMI Teknologi (CMI) baru saja menyelesaikan untuk melihatkan persyaratan dalam kesiapan produksi PT CMI selaku produsen untuk radar TPS-77 dan FPS-117 yang merupakan radar pengawasan jarak jauh (long-range surveillance radars).

Lockheed Martin dan CMI bersama-sama untuk mempercepat program pengawasan udara nasioanal Republik Indonesia (NASRI). Dengan program ini akan memproduksi lebih dari 20 radar baru untuk meningkatkan manajemen pengawasan wilayah udara, keamanan di atas wilayah Indonesia, program revialisasi ini didukung penuh oleh Departemen Pertahanan Indonesia.

“Keberhasilan ini karena segi kesiapan produksi karena didukung oleh tenaga ahli PT CMI selaku perakit row receivers pada radar yang merupakan sebuah langkah besar dalam proses persyaratan yang telah ditentukan,” kata James Gribbon selaku Presiden Lockheed Martin di kawasan Asia Pasifik.

“Hal ini merupakan sebuah kunci keberhasilan dalam membuat solid-state design dan L-band dimana radar ini mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dan telah dioperasikan di 25 negara di seluruh dunia.”

Dari hasil peninjauan kesiapan produksi merupakan babak baru dalam mendukung pemerintah Indonesia untuk lebih meningkatkan wilayah kedaulatan dan pengawasan udara yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dan untuk memperluas kemampuan industri pertahanan Indonesia.

Penyedia data dari jaringan baru juga akan meningkatkan control lalu lintas penerbangan sipil, termasuk manajemen lalu lintas penerbangan sipil yang selama ini di kontrol oleh radar milik Singapura.

PT CMI Teknologi yang terletak di Bandung, Jawa Barat merupakan perusahaan teknologi swasta yang fokus dalam mendesain dan memproduksi microwave. Perusahaan tersebut saat ini memegang kontrak untuk pengembangan dan pendukung system radar militer Indonesia. Pihak Lockheed Martin sendiri telah menandatangani kontrak kerjasama dengan PT CMI pada awal tahun ini dan bulan Agustus, pihak Lockheed Martin menjadi PT CMI sebagai subkontraktor dalam proses kualifikasi dalam membangun radar row receivers.

Lockheed Martin saat ini telah memproduksi lebih dari 170 unit radar jarak jauh yang telah beroperasi di seluruh dunia memiliki jangkauan pengawasan hingga 250 mil. Radar ini memiliki kemampuan untuk beroperasi tanpa menggunakan awak, berbeda dengan radar lain yang selama ini telah dilakukan selama bertahun-tahun di daerah terpencil dan ekstrim dalam pengoperasionalkan selama beberapa dekade lalu.

Bermarkas di Bethesda, Md, Lockheed Martin merupakan perusahaan keamanan global dan kedirgantaraan yang telah mempekerjakan sekitar 120.000 orang di seluruh dunia dan fokus dalam pengembangan, desain penelitian, manufaktur, produksi, integrasi, jasa dan memelihara kelangsungan sistem teknologi canggih. Perusaahaan ini memiliki keuntungan bersih sekitar $ 46.5 miliar dollar.(Lockheed Martin/MIK/WDN)
Continue reading →

Tuesday, November 20, 2012

AS Setujui Pengadaan 180 Unit Rudal Anti Tank Javelin Kepada Indonesia

Washington (MIK/WDN) - Agen Badan Pertahanan AS memberitahukan kepada Konggres AS untuk menjual alutsistanya kepada Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dalam pengadaan 180 unit rudal Javelin blok I, peralatan pendukung, suku cadang, pelatihan dan logistik dengan perkiraan senilai $ 60 juta.

Pemerintah Indonesia telah meminta untuk pengadaan 180 Rudal Javelin Blok I, 25 unit Command Launch Units (CLU), Missile Simulation Rounds (MSR), Battery Coolant Units (BCU), Enhanced Basic Skills Trainer, Weapon Effects Simulator, batteries, battery chargers, alat pendukung, suku cadang, perbaikan, pelatihan personil, peralatan pelatihan, dan data teknis. Pemerintah AS sebagai selaku kontraktor, bantuan teknis dan dukungan logistik dengan perkiraan biaya sebesar $ 60 juta.

Melalui penjualan ini akan memberikan kontribusi dalam kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS dengan membantu meningkatkan keamanan yang menjadi kekuatan penting bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di Asia Tenggara.

Selain itu juga merupakan aset penting untuk melindungi wilayah kedaulatan dan mencegah potensi ancaman bagi Indonesia. Pengadaan Sistem Rudal Javelin merupakan bagian dari program modernisasi alutsista bagi TNI AD. Serta mendorong kerjasama yang lebih erat antara Indonesia dan AS, yang membuat Indonesia sebagai mitra regional yang paling penting dan utama di kawasan tersebut.

Rencana penjualan Rudal dan alat pendukung tidak akan mempengaruhi stabilitas militer di kawasan tersebut.

Para kontraktor utama yang ikut berpartisipasi Raytheon/Lockheed Martin Javelin Joint Venture (JJV) yang bermarkas di Tucson, Arizona dan Orlando, Florida. Dalam pengadaan tidak ada persyaratan khusus.

Dalam pengadaan ini tidak memerlukan pengawasan baik dari Pemerintah atau perwakilan kontraktor di Indonesia.

Selain itu pengadaan ini tidak akan memberikan dampak negatif bagi keamanan AS sebagai hasil penjualan yang diusulkan.(DSCA/MIK/WDN)
Continue reading →

Sunday, November 11, 2012

Dubes AS : Masih Senang Bisa Ikut Dalam Indo Defence 2012

Jakarta - Sebanyak 50 negara berpartisipasi dalam pameran internasional industri peralatan pertahanan Indonesia ke-5 tahun 2012 atau Indodefence 2012 Expo and Forum di Jakarta Internasional Expo, Kemayoran Jakarta, pada 7-10 November 2012.

Ada 600 perusahaan dari berbagai dunia yang berpartisipasi di pameran ini. Salah satunya perusahaan dari Amerika Serikat.

Konon, jarang sekali bagi AS untuk memamerkan teknologi militernya di negara lain. Tapi, di Indodefence 2012 ini, negara adidaya ini ikut serta memeriahkan pameran.

Wakil Duta Besar AS, Kristen F Bauer mengaku gembira bisa berpartisipasi dalam pameran ini. "Kami sangat senang bisa ikut pameran ini. perusahaan-perusahaan kami ingin bermitra dengan perusahaan indonesia. Perusahaan kami menghasilkan perangkat militer terbaik di dunia. Mereka ingin berbagi produk dan bermitra dengan Indonesia dalam industri pertahanan", katanya.

Menurut Bauer, peralatan pertahanan yang disajikan AS sangat beragam. "Produk industri pertahanan kami sangat beragam, dari helikopter, sistem radio. pokoknya kami punya bermacam peralatan yang bisa ditawarkan. itu sebabnya kami senang bisa berpartisipasi", tambahnya.

Tak mau kalah, Rusia dan Jerman juga memamerkan peralatan militernya. Industri Pertahanan Rusia memperkenalkan roket penembak sasaran. Sementara, Jerman memperlihatkan alat pengintai berteknologi infra merah.(Liputan 6/WDN)
Continue reading →

Thursday, November 1, 2012

TNI AD Tunda Pengadaan Heli Apache Karena Terbentur Anggaran

Jakarta - Meski pihak pemerintah dan Senat Amerika Serikat (AS) telah memberi lampu hijau bagi Indonesia membeli helikopter serbu Apache, TNI AD memutuskan belum dapat merealisasikan pembelian Apache pada tahun depan. Sebab, terganjal persoalan anggaran yang belum cukup.

"Dalam masa persidangan kemarin, hal ini sudah dibicarakan di Komisi I. TNI AD meminta pembelian Apache dari AS agar ditunda dulu sampai dengan anggarannya cukup. Jadi, kemungkinan pembicaraan pembelian Apache akan kembali dibuka paling cepat untuk pengadaan di 2014," kata anggota Komisi I DPR Hayono Isman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/11).

Tambah Hayono, Komisi I menyetujui adanya permintaan penundaan pembelian Apache dari AS tersebut mengingat yang berkepentingan dalam hal ini user-nya sendiri (TNI AD).

Hayono mengatakan, ihwal penundaan pembelian Apache ini, karena pihak TNI AD meminta agar anggaran pengadaan heli serbu itu di luar anggaran reguler pada pagu anggaran di APBN 2013. "Mereka (TNI AD) mengakui harga Apache meski second tetap mahal. Karenanya jika Apache itu dibeli dengan menggunakan anggaran reguler TNI AD di APBN, dikhawatirkan akan mengganggu program yang sudah ada. Karenaya mereka meminta alokasi anggarannya lewan on top. Karena anggarannya belum terlihat jelas, akhirnya TNI AD memutuskan untuk menunda saja pembelian Apache di 2013 tersebut," ujar politisi Partai Demokrat ini.

Hayono menjelaskan, Senat AS telah memberi dukungan bagi rencana Pemerintah Indonesia membeli heli serbu Apache tersebut. Hal ini sebagaimana disampaikan Senator AS Richard G Lugar yang melakukan kunjungan ke Komisi I DPR pada Rabu (31/10).

Hayono mengatakan, dari kunjungan Richard G Lugar kemarin itu terungkap, sudah ada congressional notice kepada Pemerintah AS yang berisi pemberitahuan tidak ada penolakan terhadap penjualan heli Apache ke Indonesia.

Seperti diketahui, AS berencana menjual sejumlah heli Apache ke RI. Rencana penjualan itu dikemukakan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, kepada Menlu RI Marty Natalegawa saat bertemu di Washington DC pada 20 September silam.

Apache yang ditawarkan AS ini adalah seri AH-64D Longbow. Jenis yang diproduksi Boeing ini merupakan helikopter andalan Angkatan Darat AS untuk operasi tempur terbatas. Tipe ini menggantikan helikopter AH-1 Cobra. Angkatan Darat AS sendiri sudah menggunakan Apache sejak Maret 1997. Dibanding seri pendahulunya, AH-64D Longbow ini memiliki sejumlah kelebihan dalam konektivitas digital, sensor, sistem persenjataan, peralatan pelatihan, dan sistem dukungan pemeliharaan.(Jurnal Parlemen/WDN)
Continue reading →

Dubes AS : Senat AS Dukung Heli Apache Dijual ke Indonesia

Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat berencana menjual sejumlah unit helikopter tempur Apache ke Indonesia. Langkah AS ini terkait kebijakan Indonesia yang tengah meremajakan alutsista. Senat AS dijamin tidak akan menggagalkan rencana tersebut.

"Senat akan mendukung penguatan kerjasama militer Amerika Serikat dengan Indonesia," ujar anggota Komisi I DPR Helmy Fauzi usai bertemu dengan Senator AS Richard G Lugar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (31/10).

Menurut Helmy, Senator Lugar dalam pertemuan tersebut tegas menyatakan akan mendorong pemulihan kerjasama militer AS-Indonesia. Bentuk kerjasama yang sudah disebut-sebut antara lain adanya pelatihan militer.

"Bahkan beliau (Richard) menegaskan tidak ada objection (penolakan) dari Senat terhadap rencana penjualan heli Apache ke Indonesia," urai anggota FPDIP ini.

Dia menambahkan, Dubes AS untuk RI Scott Marciel juga memperkuat pernyataan Richard. Scott, seperti ditirukan Helmy, mengungkapkan sudah ada congressional notice kepada pemerintah AS yang berisi pemberitahuan tidak ada penolakan terhadap penjualan heli Apache. "Mendengar kepastian ini, kami tentu senang dan mengapresiasi sikap Senat yang mendukung pemulihan kerjasama militer," tandas Helmy.

Seperti diwartakan, AS berencana menjual sejumlah heli Apache ke RI. Rencana penjualan itu dikemukakan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, kepada Menlu RI Marty Natalegawa saat bertemu di Washington DC pada 20 September silam.

Apache yang ditawarkan AS ini adalah seri AH-64D seri Longbow. Jenis yang diproduksi Boeing ini merupakan helikopter andalan Angkatan Darat AS untuk operasi tempur terbatas. Tipe ini menggantikan helikopter AH-1 Cobra. Angkatan Darat AS sendiri sudah menggunakan Apache sejak Maret 1997.

Selain AS, kini militer dari sejumlah negara sudah menggunakannya, yaitu Mesir, Yunani, Israel, Jepang, Kuwait, Belanda, Arab Saudi, Singapura, Uni Emirat Arab, dan Inggris. Dibanding dari seri pendahulunya, AH-64D Longbow ini memiliki sejumlah kelebihan dalam konektivitas digital, sensor, sistem persenjataan, peralatan pelatihan, dan sistem dukungan pemeliharaan.(Merdeka/WDN)
Continue reading →

Monday, September 24, 2012

Panglima TNI : TNI AD Masih Kaji Pembelian Helikopter Apache

Jakarta - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menegaskan bahwa TNI Angkatan Darat (AD) masih melakukan kajian terkait rencana pembelian delapan unit helikopter serbu, Apache dari Amerika Serikat.

"Di dalam konteks pembangunan kekuatan pokok minimum (Minimum Esensial Force/MEF) memang ada heli serbu yang mau dibeli oleh Angkatan Darat. Heli serbu itu bermacam-macam, ada Apache, Black Hawk dan lainnya," katanya di Jakarta, Minggu.

Ia mengatakan hal itu setelah membuka Kejuaraan Terjun Payung Militer pertama atau Dewan Olahraga Militer Internasional (Concil International du Sport Militaire/CISM) dan Kejuaraan Terjun Payung TNI Terbuka 2012 yang diselenggarakan sejak 23 September hingga 30 September 2012 di Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Menurut dia, TNI AD sendiri masih mengkaji pilihan antara Apache atau Black Hawk.

"Saya serahkan sepenuhnya kepada TNI AD untuk mengkaji dan menentukan pilihannya karena pembinanya Angkatan Darat, penggunanya memang Panglima TNI," katanya.

"Saya hanya melihat konteks dalam penggunaan ketiga matra apakah bisa kita satukan atau tidak. Kalau semuanya memungkinkan, kita akan lakukan bersama-bersama," katanya juga.

Pemerintah belum menyiapkan langkah apapun terkait rencana pengadaan helikopter serbu Apache dari Amerika Serikat itu.

Pemerintah juga belum pernah melakukan pengajuan resmi untuk membeli alat utama sistem senjata (alutsista) tersebut.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Mayor Jenderal TNI Hartind Asrin sebelumnya mengatakan, selama ini memang sudah ada lobi-lobi antara kedua negara terkait kemungkinan pengadaan helikopter serbu Apache itu.

"Sejauh ini Indonesia belum mempersiapkan apa-apa. Kita tunggu surat penawaran resmi dari mereka. Bukan kita yang mengajukan, mereka yang menawarkan. Kita hanya berpesan kalau mau jual Apache, tolong kita diberi tahu," kata Hartind.

Jika surat penawaran tersebut diterima, maka akan ada tim yang dikirim ke Amerika Serikat untuk melakukan pengecekan berbagai hal, seperti spesifikasi teknis helikopter, dan perlengkapan persenjataan.

Tim tersebut berasal dari TNI Angkatan Darat, selaku calon pengguna Apache.

Selanjutnya, tim melakukan pemaparan kepada Mabes TNI untuk kemudian diteruskan ke Kementerian Pertahanan dan dilakukan rapat anggaran.

Sementara itu, pengamat militer Wawan Hari Purwanto menilai, pengadaan delapan unit Helikopter Apache dari Amerika Serikat bakal menambah kekuatan pertahanan Indonesia. Ini karena alutsista TNI yang sudah usang dan tua, sekitar 60-70 tahun.

"Prajurit kita yang terbaik meninggal bukan di pertempuran, tetapi pada saat latihan. Ini disebabkan alutsista kita sudah usang," katanya disela-sela "Exibition Bola Volley Timnas Selection dan Coaching Clinic" Siswa SMA se-Jabodetabek di SMAN 106 Pekayon, Jakarta Timur, Jumat (21/9).

Helikopter Apache merupakan salah satu jenis helikopter jenis serbu yang andal, dan merupakan yang diandalkan militer beberapa negara, termasuk Angkatan Darat Amerika Serikat.(ANT/WDN)
Continue reading →

Saturday, September 22, 2012

Ini Dia Harga Dan Spesifikasi Apache AH-64D Block III Longbow Untuk Indonesia

New York - The Defense Security Cooperation Agency (DSCA) diberitahu oleh Konggres pada 19 September 2012, untuk menjual 8 helikopter serang Apache AH-64D blok III serta suku cadang, pelatihan dan dukungan logistik kepada Pemerintah Indonesia. Semua itu diperkirakan memerlukan biaya sekitar USD 1.42 Milyar.

Pemerintah Indonesia telah mengajukan pengajuan untuk membeli 8 helikopter serang Apache AH-64D Blok III, termasuk 19 mesin T-700-GE-701D (16 dipasang dan 3 untuk suku cadang), 9 Modernized Target Acquisitin dan Designation Sight/Modernized Pilot Night Vision Sensor, 4 radar jenis AN/APG-78 Fire Control Radar (FCR) dengan unit radar elektronik (komponen Longbow), 4 AN/APR-48A Radar Frequency Interferometers, 10 AAR-57(V) 3/5 Common Missile Warning Systems (CMWS) with 5th Sensor dan Improved Countermeasure Dispenser, 10 AN/AVR-2B Laser Detecting Sets, 10 AN/APR-39A(V)4 Radar Signal Detecting Sets, 24 Integrated Helmet dan Display Sight Systems (IHDSS-21), 32 M299A1 HELLFIRE Missile Launchers, dan 140 HELLFIRE AGM-114R3 Missiles.

Selain itu akan dilengkapi juga dentification Friend or Foe transponders, 30mm guns and ammunition, communication equipment, tools and test equipment, training devices, simulators, generators, transportation, wheeled vehicles, organizational equipment, spare and repair parts, support equipment, personnel training and training equipment. Pemerintah AS juga akan melakukan kontraktor engineering, teknis, layanan dukungan logistik dan elemen terkait lainnya dari dukungan logistik. Yang semua itu membutuhkan biasa USD 1.42 Milyar.

Penjualan helikopter tersebut diusulkan konggres untuk memberikan kontribusi kepada kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS untuk meningkatkan stabilitas politik dan kemajuan ekonomi ASEAN.

Selain itu penjualan helikopter diusulkan agar Pemerintah Indonesia bisa melindungi aset penting dan mencegah potensi ancaman baik dari luar dan lainnya. Indonesia akan menggunakan helikopter Apache untuk menjaga perbatasan, penumpasan teroris dan operasi pembajakan dan mengendalikan arus pengiriman barang yang melalui selat Malaka.

Melalui program ini memungkinkan Indonesia untuk memberikan kemampuan lebih untuk menjaga pertahanan dan menyediakan unsur-unsur penting yang diperlukan untuk bekerjasama dengan pasukan AS.

Rencana penjualan helikopter ini tidak akan mempengaruhi keseimbangan militer di kawasan ASEAN.

Adapun para produsen yang akan ikut serta dalam mendukung pengadaan helikopter tersebut yaitu Boeing, Lockheed Martin, General Electric, Lockheed Martin Milimeter Techonolgy dan Longbow Corporation Limited Liability. Dalam pelaksanaan penjualan yang diusulkan akan dilibat lima produsen dari AS dan tiga perwakilan pemerintah AS yang mendukung semua peralatan tersebut.

Dalam pengadaan tersebut tidak akan berdampak negatif terhadap pertahanan AS. (DSCA/WDN/MIK)
Continue reading →

Total Pageviews

Blog Archive

Labels

Followers