New Maju Indonesia Ku

Showing posts with label Africa. Show all posts
Showing posts with label Africa. Show all posts

Saturday, July 6, 2013

Wamenhan : Senegal Minta Fasilitas Kredit Buat Beli CN 295

Dakar (MID) - Menteri Pertahanan Senegal Augustine Tine memuji kinerja pesawat CN 235 buatan Indonesia dan berminat untuk menambah pesawat angkut militer buatan PT Dirgantara Indonesia tersebut.

"Kami menggunakan pesawat itu untuk berbagai keperluan dan saya puas dengan kemampuannya," kata Augustine seusai pertemuan dengan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Dakar, Senegal, Kamis (4/7).

Angkatan Bersenjata Senegal memiliki satu unit pesawat angkut militer CN 235 yang dibeli secara kredit dari penjamin di Belgia. Tingkat penggunaan pesawat tersebut sangat tinggi. "Besok saya akan naik pesawat itu ke daerah. Kadang digunakan untuk ke negara tetangga seperti Mali atau Benin," kata Augustine.

Sjafrie yang didampingi Dirjen Strategi Pertahanan Sonny Prasetyo dan Direktur Pemasaran PT DI Budiman Saleh menawarkan tambahan pesawat CN 235 dan generasi terbarunya CN 295 yang lebih canggih. "Saya berharap bisa tambah satu yang generasi baru, adakah diberikan fasilitas kreditnya?" tanya Augustine.

Sjafrie menjawab kemungkinan fasilitas kredit itu bisa diberikan, namun akan tanya dulu kepada Menteri Keuangan. "Soal kredit bukan wewenang saya, tapi Menteri Keuangan," katanya.

Sjafrie mengundang Augustine datang ke Indonesia untuk melihat sendiri produk industri pertahanan Indonesia. "Saya ingin datang namun saya harus minta izin dulu ke Perdana Menteri," katanya seraya mengatakan Senegal juga membutuhkan peralatan militer seperti senapan dan amunisi.

Sjafrie mengatakan kunjungan ke Afrika untuk meningkatkan kerja sama militer dan menjajaki peluang kerja sama produk industri pertahanan. Indonesia, katanya, ikut ambil bagian dalam pasukan penjaga perdamaian di Afrika.

"Terima kasih Senegal sudah menggunakan CN 235, kami tawarkan produk lain seperti senjata dan nonsenjata," kata Sjafrie yang memberikan contoh produk dari mulai helm, rompi, dan makanan prajurit.

Menhan Senegal setuju memperkuat kerja sama dengan Indonesia. Senegal juga ikut pasukan penjaga perdamaian PBB. Senegal juga sepakat untuk kerja sama melawan terorisme. Sjafrie menyatakan setuju dengan kerja sama membasmi terorisme yang menjadi kejahatan internasional.(MetroTv/WDN)
Continue reading →

Monday, April 29, 2013

Misi Damai PBB, TNI Bawa Helikopter Mi-17V5 ke Sudan

Jakarta - Pasukan pemelihara perdamaian PBB dari TNI segera bertugas ke Darfur, Sudan. Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Sabtu (27/4) mengecek kesiapan alat utama sistem senjata (alutsista) yang akan digunakan. KSAD juga meninjau kesiapan latihan gabungan TNI di Markas Penerbad (Penerbangan TNI AD) Semarang, Jawa Tengah.

Dalam kesempatan itu KSAD memotivasi 120 prajurit yang akan bertugas ke benua hitam tersebut. "Kalau tidak bisa membawa nama baik nama Indonesia, akan ditarik dan dipecat. Kalian ini bukan lagi membawa nama korps, tetapi atas nama negara Indonesia, sehingga jangan sampai membuat malu bangsa ini," ungkap adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.

Prajurit yang akan bergabung dalam korps baret biru muda PBB itu dilengkapi dengan tiga helikopter tipe MI17-V5. Pasukan itu juga akan turut dalam latihan gabungan matra darat, laut, dan udara, yang berlangsung di Asem Bagus, Situbondo, Jawa Timur, 1-4 Mei. Sementara untuk latihan gabungan, akan digunakan 5 helikopter tempur canggih MI 35 serta 4 unit MI 17-V5 sebagai helikopter angkut personel.

Selain itu, ada helikopter Bell 205 (2 buah), Bell 412 (10 buah), NBO 105 (3 buah), serta 1 buah pesawat Casa. Dalam latihan gabungan ini, kata Pramono, fungsi Penerbad adalah mendukung tembakan dari udara bagi satuan darat yang bergerak di lapangan. "Jadi, ini latihan terbesar yang melibatkan pesawat puluhan helikopter dan satu pesawat," katanya. Pasukan yang dikirim ke Darfur adalah pasukan Garuda 35 A UNAMID.

Salah seorang prajurit, Letda Deswiwi, mengaku baru pertama menjadi pasukan perdamaian PBB. Rencananya dia bertugas di Sudan selama setahun. "Perlu dipersiapkan segalanya karena satu tahun harus meninggalkan keluarga," ungkap ibu dengan dua anak ini.

Deswiwi mengakui ada perasaan takut sekaligus bangga ketika dipilih menjadi pasukan PBB. "Rasa takut itu pasti ada, tetapi itu manusiawi. Sebagai anak bangsa saya merasa bangga bisa mengikuti pengiriman prajurit untuk perdamaian di Sudan," katanya.(JPNN/WDN)
Continue reading →

Saturday, June 9, 2012

Afsel Ingin Bekerjasama Dengan Indonesia Dibidang Industri Pertahanan

Jakarta - Afrika Selatan berkeinginan menggandeng Indonesia untuk mengembangkan kerjasama industri strategis. Keinginan itu mencuat dalam kunjungan Paramount Group, sebuah perusahaan berskala global yang bergerak dalam bidang industri pertahanan berbasis di Afrika Selatan, ke Indonesia (5-6/6/2012).

“Kunjungan Paramount Group ke Indonesia bertujuan untuk menjajaki kemungkinan terbentuknya kerja sama dan kemitraan di bidang industri strategis dengan pihak Indonesia serta membentuk kerja sama bisnis dan teknik yang saling menguntungkan melalui proses alih teknologi dan penelitian dan pengembangan,” demikian rilis yang dikeluarkan Direktorat Afrika Kemlu.

Delegasi Paramount Group diwakili oleh direksi dan pimpinan manajerial, yang dipimpin oleh John Craig, Under CEO, Paramount Group.

Dalam kunjungan ke PT. Pindad dan PT. Dirgantara Indonesia, delegasi Paramount Group yang didampingi oleh Direktorat Afrika dan pejabat fungsi ekonomi KBRI Pretoria menyatakan Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk memperdalam dan memperluas bisnis dalam produk industri peralatan militer dan keamanan.

Selain itu dinyatakan bahwa Indonesia juga terlibat aktif dalam kegiatan peace keeping forces untuk perdamaian global.

Dengan modalitas demikian, Paramount Group memiliki keinginan untuk memperluas jaringan akses kerja sama industri dan teknologi dengan Indonesia. Lebih lanjut, Paramount Group juga ingin menjadikan Indonesia sebagai basis pengembangan produk industrinya di kawasan Asia Tenggara.

Menanggapi tawaran kerja sama dari Paramount Group tersebut, direksi PT. Pindad dan PT. Dirgantara Indonesia mengemukakan bahwa Paramount Group menawarkan kontinuitas kerja sama yang bersifat jangka panjang melalui mekanisme pendanaan yang teratur dan tidak menekankan hanya pada proses jual-beli serta profit semata.

Oleh karena itu, kunjungan ini merupakan sarana dan wadah yang baik untuk memulai langkah awal kerja sama, sehingga ke depan Indonesia dapat mengembangkan sayap lebih jauh melalui kemitraan strategis dengan pihak yang tepat dan berdaya guna optimal.(Kemlu/WDN)
Continue reading →

Tuesday, July 26, 2011

TNI AU Sedang Menjajaki UAV Buatan Afsel

Belitung - TNI AU akan menempatkan satu skuadron pesawat tanpa awak di Lapangan Udara TNI AU Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Skuadron itu akan direncanakan minimal berkekuatan enam pesawat tanpa awak.

Panglima Komando Operasi I TNI AU Marsekal Muda Sunaryo mengatakan, saat ini fasilitas di Supadio sedang disiapkan agar bisa dijadikan markas pesawat tanpa awak. "Untuk pelatihan personelnya masih dikaji kapan akan mulai dilakukan," ujarnya disela latihan TNI AU dengan sandi Operasi Jalak Sakti 2011 di Belitung, Selasa (26/7/2011).

Skuadron itu rencananya akan diperkuat minimal enam pesawat tanpa awak. Skuadron itu akan menjadi kesatuan pesawat tanpa awak milik Indonesia. "Sedang dijajaki pengadaan (pesawat) buatan Afrika Selatan," ujarnya.

Sunaryo juga mengungkapkan, jet tempur buatan Korea Selatan akan ditempatkan di Medan, Sumatera Utara. Penempatan itu rencananya akan mulai dilakukan tahun 2012. "Di Medan nanti satu skuadron," ujarnya.

Sementara itu, Komandan Wing I Lapangan Udara Halim Perdana Kusumah Kolonel Penerbang Tribowo Budi mengatakan, jet sejenis akan ditempatkan juga di Manado. Waktu penempatan juga diperkirakan tahun depan. "Konsep kerja samanya adalah transfer teknologi antara Korea Selatan dan Indonesia. Korea Selatan dan Indonesia akan membangun bersama jet tempur canggih," ujarnya.

Dua lapangan udara itu paling dekat dengan wilayah perbatasan yang ramai dilewati pihak asing. Lanud Medan berdekatan dengan Selat Malaka. Sementara itu, Lanud Manado mengawasi kawasan timur Indonesia. "Sedapat mungkin alutsista (alat utama sistem persenjataan) ini dimaksimalkan untuk menjaga wilayah," ujar Tribowo.

Pengganti Sunaryo mengatakan, pengadaan jet tempur buatan Korea Selatan itu untuk mengganti armada saat ini. Beberapa armada, seperti Hawk buatan Inggris dan F5 buatan Amerika Serikat, sudah tua dan harus diganti. "Alusista sedang dimodernisasi dengan alat yang lebih canggih dan variatif," tuturnya.

Selain dengan Korea Selatan, Indonesia juga menjajaki pembelian jet tempur dengan Brasil dan Rusia. Selain itu, Indonesia mendorong perusahaan dalam negeri untuk memproduksi alutsista. "Hal itu kewenangan mabes," ujarnya. (Kompas/WDN)
Continue reading →

Tuesday, June 7, 2011

TNI Mendapat Medali PBB Di Kongo

Penyerahan medali PBB kepada pasukan TNI.

Jakarta - Satuan Tugas Kompi Zeni TNI Konga XX-H di Kongo, mendapat Medali PBB atas keberhasilannya menjalankan misi perdamaian PBB di Kongo (Monusco) selama enam bulan.

"Penyematan medali penghargaan PBB itu dilakukan Komandan Monuso Letjen Chender Prakhas di Bumi Cenderawasih Camp Dungu, Kongo" kata perwira penerangan Konga XX-H/Monusco Letnan Satu Infantri Imam Mahmud melalui surat elektroniknya Selasa 7 Juni 2011. "Medali PBB diberikan kepada Komandan Satgas Letkol Czi Widiyanto".

Menurut Letjen Prakhas, selama penugasan di Kongo, Kontingen Indonesia telah menunjukkan prestasi luar biasa. Diantaranya pembangunan jalan Dungu-Faradje sejauh 147 KM. "Kontingen Indonesia bukan hanya membangun jalan dan jembatan antara Dungu-Faradje, tetapi juga telah membangun jembatan hati antara orang Kongo dengan tentara PBB khususnya Monusco"," tutur Prakhas.

Prakhas menambahkan, Indonesian Engineering Company (IEC) juga dinilai telah berbuat ramah terhadap penduduk lokal dan komunitas lokal.

Prakhas menyatakan Medali PBB adalah bukti nyata kontribusi IEC selama enam bulan di Kongo, sekaligus kontribusi TNI dalam menciptakan perdamaian di wilayah Kongo.

Pada kesempatan itu kepada Kontingen negara lain, Letjen Prakhas menekankan agar dapat mengambil pelajaran dan contoh dari Kontingen Zeni Indonesia dalam kerja kerasnya kepada UN dan Monusco.

Sejak 1956 Indonesia telah mengirimkan militernya untuk bergabung dalam misi perdamaian PBB di Mesir, yang dikenal dengan nama Kontingen Garuda.

Prakhas menilai, militer Indonesia mempunyai upaya tinggi sebagai pasukan penjaga perdamaian di seluruh dunia. Saat ini terdapat 1.795 personel TNI yang tergabung dalam berbagai misi PBB.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Monday, June 6, 2011

Interview Dengan Kolonel Laut A. Taufiqoerrochman Dalam Pembebasan MV Sinar Kudus

Kapal MV Sinar Kudus Dikawal Dua Kapal Perang Milik TNI.

Jakarta - Teks berita di televisi itu menarik perhatian Kolonel Laut A. Taufiqoerrochman. Kapal MV Sinar Kudus dikabarkan dibajak di perairan Somalia. Sang Kolonel membatin, "Kelihatannya saya akan berangkat ke sana." Sebelum menonton televisi, Taufiq-nama singkat yang tertera di baju dinasnya-baru saja menyerahkan jabatan Komandan Latihan Komando Armada Timur di Surabaya. Dia didapuk menjadi Komandan Komando Pelaksana Operasi Gugus Tempur Laut Komando Armada Barat. Pangkatnya mestinya sudah naik menjadi laksamana pertama, tapi belum ada upacara penyematan pangkat secara resmi.

Benar saja, Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya Marsetio memanggil Taufiq dan menunjuknya sebagai komandan operasi pembebasan awak MV Sinar Kudus yang disandera lanun Somalia. Kemudian Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengajak Taufiq menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kediamannya di Puri Cikeas. "Presiden menyampaikan arahan, yang penting keselamatan sandera harus diutamakan," ujarnya.

Resmilah Taufiq menjadi Komandan Satuan Tugas Merah Putih untuk membebaskan awak kapal Sinar Kudus. Kapal yang mengangkut bijih nikel senilai Rp 1,5 triliun itu berangkat dari Pomalaa, Sulawesi Tenggara, menuju Rotterdam, Belanda. Namun kapal dengan 20 awak itu dibajak sejak 29 Februari. Para awak disekap perompak selama 46 hari.

Operasi melibatkan pasukan khusus dari berbagai angkatan. Ada Detasemen Jala Mengkara alias Denjaka dari Marinir, Satuan Penanggulangan Teror alias Gultor dari Kopassus TNI Angkatan Darat, Komando Pasukan Katak alias Kopaska dari TNI Angkatan Laut, dan Pasukan Intai Amfibi alias Taifib dari Marinir. Taufiq berangkat memimpin operasi dengan tiga melati masih tersemat di pundaknya. Dia memimpin dua kapal perang: KRI Abdul Halim Perdanakusuma, yang dilengkapi satu helikopter jenis Bolkow, dan KRI Yos Sudarso.

Tim Merah Putih akhirnya berhasil membawa pulang kapal dan awaknya dengan selamat, meski uang tebusan US$ 4,5 juta digondol perompak, Ahad dua pekan lalu. Keberhasilan pasukan Indonesia ini diapresiasi sejumlah pihak, termasuk komandan pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di kawasan perairan sekitar Somalia. "Belum pernah ada kapal yang masuk ke perairan Somalia, kecuali Indonesia," kata Taufiq. "Sudah begitu, menembak mati perompak pula."

Rabu pekan lalu, Taufiq, yang sudah resmi menyandang satu bintang di pundaknya, menerima Nugroho Dewanto, Yandi M. Rofiyandi, dan Fanny Febiana dari Tempo di Markas Komando Armada Barat, Jakarta. Pria berpembawaan humoris ini menuturkan lika-liku operasi secara lugas diselingi canda, termasuk tentang sandi "Gudang Garam-Dji Sam Soe" yang biasa digunakan sesama pelaut Indonesia.

Bagaimana ceritanya Anda ditugasi memimpin operasi pembebasan awak kapal MV Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia
?

Saya baru ditugasi menjadi Komandan Komando Pelaksana Operasi Gugus Tempur Laut Komando Armada Barat. Setelah serah-terima 17 Maret di Surabaya, saya membaca running text televisi sore: kapal Sinar Kudus dibajak. Saya membatin, kelihatannya akan berangkat. Saya berinisiatif mengambil buku dan mencorat-coret strategi operasi. Jadi, kalau diperintahkan, saya sudah punya konsep. Saya ke Jakarta dan mau menghadap Panglima Armada Barat. Tiba-tiba ditelepon Kepala Staf Armada Barat dan disuruh langsung ke Markas Besar TNI Angkatan Laut di Cilangkap.

Jadi Anda langsung ke Cilangkap sebelum sampai ke kantor baru?


Enggak sempat ke sini. Di Cilangkap, Wakil Kepala Staf Angkatan Laut sudah rapat. Beliau mengatakan, "Kamu yang bawa, ya. Kamu kan jadi Komandan Gugus Tempur Laut besok. Kalau perlu, serah-terima malam ini." Pasukan sudah ada di Cilandak, yakni Denjaka, Gultor, Taifib, dan Kopaska. Saya ke Cilandak, lalu kembali ke Cilangkap dan ke rumah Panglima. Saya baru pulang dan sampai di rumah di Salemba jam tiga pagi. Jam tujuh seharusnya acara serah-terima, tapi kapal sudah datang, sehingga harus segera mengecek.

Siapa yang memberikan arahan operasi kepada Anda?

Setelah mengecek dan pasukan masuk ke kapal, jam setengah delapan pagi saya mendampingi Panglima TNI menghadap Presiden di Cikeas. Presiden menerima paparan dari Panglima TNI dan Komandan Korps Marinir. Pertemuan itu dihadiri Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Panglima Kostrad, dan Komandan Kopassus. Presiden menyetujui rencana garis besar yang disampaikan Panglima TNI. Operasi militer harus meminta persetujuan dari yang memberi perintah, yaitu Presiden.

Apa arahan Presiden waktu itu?


Arahan beliau sangat runtut dan beliau menguasai sekali operasi militer. Saya catat semua dan menjadi dasar membuat rencana operasi. Yang paling utama adalah keselamatan sandera. Presiden juga meminta kami membuat rencana cadangan kalau ada perubahan situasi.

Dalam pemaparan rencana operasi, apakah termasuk skenario penyergapan di Laut Arab?


Kami memang berencana mengambil kapal di Laut Arab. Kami sudah menghitung posisi ketika kapal ditangkap. Bahan bakar kapal akan cukup sampai di Laut Arab kira-kira sampai 10 April. Saya rencanakan paling lambat 3 April sudah berada di posisi menyergap. Begitu disetujui, besoknya saya berangkat.

Ketika Anda berangkat, bagaimana tanggapan keluarga?

Ha-ha-ha.... Sudah biasa. Saya berangkat besok, subuhnya istri malah sudah berangkat ke Manado. Ketika saya antar dia ke bandar udara, belum dikasih tahu mau berangkat. Baru jam tiga sore, Panglima TNI mengatakan berangkat jam 18.00. Saya selalu menyampaikan bahwa pada saat roh ditiupkan, file-nya sudah ada, kapan meninggal, juga nasib buruk dan baik.

Ada perubahan rencana operasi di tengah jalan?

Ya. Kami berangkat dan baru melintang di Padang pada 25 Maret. Ternyata kapal sudah lego jangkar di perairan Somalia. Karenanya, target menjadi lebih sulit karena terlalu dekat daratan. Selain itu, ada kapal lain sehingga kemungkinan sandera dipisah. Jadi, ketika dalam perjalanan ke Laut Arab, kami ubah ke El-Dhanan.

Bagaimana berkoordinasi dengan pasukan multinasional di perairan Somalia?

Ketika pertama masuk, kami belum menjalin komunikasi dengan mereka. Tapi kami terus berhubungan dengan Markas Angkatan Laut. Pasukan multinasional tergelar di Gulf of Aden, Thorn of Africa, Arabian Sea, dan Somalian Basin.

Selama pengintaian, seberapa dekat kapal dengan target?

Pada 4 April, unsur terdepan kami sudah berada satu mil dari sasaran. Perompak tidak tahu bahwa kami sudah datang. Lalu kami analisis. Jadi, begitu masuk, jangan dibayangkan hanya ada kapal Sinar Kudus. Di sekitar situ saja ada delapan kapal. Kalau sudah begini, sulit menentukan yang mana Sinar Kudus. (Taufiq memperlihatkan foto citra radar dari kapal Abdul Halim Perdanakusuma.) Kami lalu mengintai dengan helikopter dan permukaan. Kami kaburkan identitas helikopter.

Semua itu dilaporkan ke Panglima TNI?


Kami melaporkan posisi dan rencana aksi pada malam harinya dengan metode raid. Serbu, lalu mundur. Pasukan dibekali senjata berperedam suara. Masuk dengan senyap, naik, sikat, turun, dan mundur. Kalau mesin kapal bisa dihidupkan, langsung dikawal.

Bagaimana tanggapan Panglima TNI?

Panglima menanyakan tingkat keberhasilannya. Saya menjawab 50-50, karena posisi sandera tidak diketahui selama pengintaian. Atas arahan Presiden, operasi baru dilaksanakan kalau tingkat keberhasilan di atas 70 persen. Ini operasi istimewa dan keputusannya akan berdampak internasional, sehingga komando penuh ada di Presiden, dan Panglima sebagai komando operasinya. Makanya saya butuh posisi sandera. Operasi kami tunda sambil menganalisis dan mencari data. Kesempatan itu digunakan untuk berkoordinasi dengan satuan multinasional. Kami berbagi informasi intelligence, surveillance, and reconnaissance.

Apa langkah selanjutnya?

Kami diperintahkan segera membebaskan sandera pada 28 April karena ada negosiasi. Presiden mengatakan negara tak melakukan negosiasi tapi tak bisa melarang perusahaan memilih berunding. Ternyata perundingan mundur sampai 30 April.

Apakah Anda mengetahui opsi perundingan oleh pemilik kapal itu?

Saya tahu, tapi di luar konteks. Saya hanya bertugas mengamankan. Pada 30 April, tebusan didrop dan sandera dijanjikan akan bebas jam dua siang. Setelah ditunggu dua sampai empat jam, ternyata tak dibebaskan juga.

Bagaimana ekspresi pasukan Anda ketika mengetahui ada opsi negosiasi?

Saya merasakan anak-anak gemas. Sudah jauh-jauh datang, tak jadi perang, ha-ha-ha.... Kami hanya pelaksana operasi dan harus siap mengubah postur dengan cepat. Awalnya postur menyerang, jadi postur diplomasi.

Bagaimana Anda berkomunikasi dengan awak kapal MV Sinar Kudus selama pengintaian?

Saya punya pengalaman ketika masih menjadi kapten. Waktu melintas di perairan Italia, ada panggilan "Gudang Garam-Dji Sam Soe" melalui handy talkie. Waktu itu saya enggak paham. Rupanya, itu sebagai tanda, ada orang Indonesia di kapal lain. Saya gunakan pengalaman itu ketika di Somalia. Meski lambat dijawab, akhirnya tersambung juga.

Apakah perompak tak curiga dengan percakapan awak kapal di handy talkie?

Kami hanya berkomunikasi sebentar-sebentar. Kami dianggap awak kapal karena memang komunikasi mereka di anjungan dan buritan menggunakan handy talkie. Kami lalu merangkai semua informasi dan data. Perompak rupanya bergerak menuju Eyl. Jarak dari El-Dhanan ke Eyl itu 90 mil, hampir 170 kilometer. Mereka bergerak jam empat pagi pada 1 Mei. Kami mengintai dan menjaga supaya tetap di perairan internasional. Jangan sampai kehadiran kami jadi kontraproduktif.

Semua pasukan mengikuti sampai Eyl?


Saya menyiapkan sea rider dan helikopter. Bayangkan, sea rider yang biasanya beroperasi di arus tenang berada di laut dengan kedalaman 8.000 meter dan berombak besar. Mereka seperti naik kuda tanpa pelana. Jam dua siang, kapal berhenti. Saya dekatkan sea rider ke kapal. Helikopter dalam posisi siap. Tiba-tiba awak kapal Sinar Kudus berteriak melalui handy talkie. Perompak kembali beraksi.

Bagaimana sampai ada kontak senjata hingga empat perompak tewas?


Perompak ini memiliki beberapa kelompok. Ada yang setuju dan tidak dengan perundingan. Kelompok yang tak setuju itu bermaksud membajak kapal lagi. Teriakan permintaan tolong itu menjadi dasar kami masuk ke perairan Somalia. Kami masuk sampai jarak lima mil. Helikopter menembaki perompak yang hendak membajak kapal lagi. Empat orang tewas dan tak ada yang menggunakan baju awak kapal. Jadi mungkin memang perompak.

Berapa lama kontak senjata itu?

Tidak lama. Kami hanya menyapu supaya perompak tak naik. Setelah selesai, saya kirim tim untuk sterilisasi, khawatir ada bom atau penyusup.

Bagaimana kondisi awak kapal?

Ketika saya naik, tampak awak kapal mengalami tekanan psikis. Wajar saja karena setiap hari ditodong senjata. Setelah aman, kami mengawal mereka ke Oman. Belum sehari berangkat menuju Oman, kapal mogok. Ternyata kehabisan air tawar untuk mendinginkan mesin. Kapal sampai di Oman pada 4 Mei dan awak kapal pulang, diganti awak baru. Kapal kemudian melanjutkan perjalanan ke Rotterdam dan ada petugas kami di atas kapal untuk mengawal.

Tanggapan pasukan multinasional?

Kebetulan saya kenal komandan pasukan NATO di sana. Dia mengirim surat elektronik dan menulis: "You do make different." Tadinya saya tidak paham apa maksudnya. Ternyata tak pernah ada kapal yang masuk ke perairan Somalia, kecuali Indonesia. Apalagi sampai menembak mati perompak.

Kabarnya pernah melakukan operasi menghadapi perompak di Selat Malaka?

Ya, pada 2004. Ada tanker dibajak dan 36 awaknya disandera. Jam sepuluh malam, kami menyerbu. Perompak memiliki senjata lebih bagus, tapi kami lebih terlatih. Terjadi pertempuran jarak sangat dekat, paling jauh lima meter. Padahal senjata mereka bisa dipakai sampai 600 meter. Keberhasilan sempurna: 36 orang dibebaskan tanpa cedera dan lima perompak tewas. Jadi, kalau dikatakan TNI tidak mampu, kami sudah melaksanakan sebelumnya. Namun sedikit diberitakan.

Waktu melakukan operasi pembebasan sandera di Selat Malaka, apakah dengan pasukan khusus seperti di Somalia?

Hanya dengan anak buah saya yang ada di kapal. Mereka semua memang sudah terlatih. Organisasi kapal itu ada empat, yaitu tempur, administratif, pemeliharaan, dan penjagaan. Semua bisa berubah setiap saat. Dasar organisasi kapal itu tempur. Mungkin sehari-harinya juru masak, tapi dia bisa menjadi penembak meriam atau senapan mesin dalam pertempuran.

Dengan operasi itu, Angkatan Laut membuktikan bisa mengamankan perairan Selat Malaka?

Panglima Armada Pasifik Amerika pernah mengatakan Selat Malaka masuk daerah hitam, banyak perompak. Muncul stigma negara pantai tak bisa mengamankan wilayahnya. Tapi kita buktikan mampu mengamankan perairan itu.

LAKSAMANA PERTAMA AHMAD TAUFIQOERROCHMAN


Tempat dan Tanggal Lahir: Sukabumi, Jawa Barat, 18 Oktober 1961

Pendidikan:

Akademi Angkatan Laut, 1985
Pendidikan Lanjutan Perwira I, 1990
Pendidikan Lanjutan Perwira II, 1993
Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut, 1998
Sekolah Staf dan Komando TNI, 2009

Karier:


Komandan KRI Pulau Rani, KRI Badik, KRI Karel Satsuit Tubun
Komandan Satuan Patroli Komando, Satuan Kapal Eskorta, dan Komando Latihan Armada Timur
Dosen Instruktur Akademi Angkatan Laut, Komando Pendidikan TNI AL, dan Sekolah Staf dan Komando TNI
Komandan Komando Pelaksana Operasi Gugus Tempur Laut Komando Armada Barat.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Wednesday, June 1, 2011

TNI AL Siapkan Dua Opsi Pengawalan Untuk Mengatasi Perompakan

Jakarta - TNI AL menyiapkan dua opsi pengawalan untuk kapal-kapal dagang RI yang melewati laut Arab dan Somalia. Bergabung dengan task forces di perairan Somalia atau menempatkan personel TNI di kapal-kapal dagang RI

"Yang paling penting adalah menjamin keselamatan," ujar Kepala Staf TNI AL, Laksamana Soeparno di sela-sela pertemuan dengan masyarakat maritim di Wisma Elang Laut, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (1/6/2011).

Soeparno menambahkan, pihaknya siap untuk melakukan dua opsi ini. Menurutnya masalah ini masih dibahas di Mabes TNI.

"Butuh izin dari Panglima sampai presiden untuk ini," terangnya.

Tatap muka antara TNI AL dan masyarakat Maritim ini dilakukan untuk memberikan gambaran pentingnya keselamatan bagi kapal-kapan niaga saat melakukan pelayaran. Harapannya, tidak ada lagi kapal RI yang dibajak seperti kapal MV Sinar Kudus.(DETIK/WDN)
Continue reading →

Monday, May 23, 2011

Menhan : Dana Penyelamatan Korban Perompak Somalia Sekitar Rp 50 Miliar

Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan operasi penyelamatan awak kapal MV Sinar Kudus menghabiskan dana sekitar Rp 50 miliar. "Tidak besar. Tidak sampai Rp 50 miliar," kata Purnomo seusai acara penyambutan pasukan Satuan Tugas Merah Putih di Markas Komando Lintas Laut Militer Tanjung Priok, Jakarta, Ahad, 22 Mei 2011.

Detail pengeluaran dana operasi belum bisa diumumkan. Purnomo beralasan dana itu masih dalam proses audit.

Dibanding operasi perburuan Usamah bin Ladin, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto menilai biaya operasi penyelamatan sandera ini masih jauh lebih kecil. "Yang penting semua awak kapal dan kapal dapat diselamatkan," katanya.

Menurut Djoko, sebagian anggaran diambil dari dana kontingensi Tentara Nasional Indonesia. Alokasi dana ini bisa dipakai untuk operasional tanpa menunggu persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Namun, Menteri Pertahanan mengkomunikasikan dana itu dengan Dewan.

Kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta sejumlah menteri dan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menyambut kedatangan Satuan Tugas Duta Samudra di Dermaga Komando Lintas Laut Militer, Jakarta. Duta Samudra terdiri atas tiga kapal, yakni KRI Abdul Halim Perdanakusuma, KRI Yos Sudarso, dan KRI Banjarmasin. Satuan tugas ini merupakan bagian dari Satuan Tugas Merah Putih.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan tiga pasukan khusus dikirim ke perairan Somalia pada Maret dan April lalu. Pasukan itu terdiri atas 480 personel satuan tugas, 488 personel pasukan kekuatan, 15 personel dari satuan tugas intelijen gabungan Badan Intelijen Negara dan TNI, serta 16 pasukan penerbang.

Presiden Yudhoyono mengaku lega bisa membeberkan pengiriman Satuan Tugas Merah Putih. Alasannya, ia sudah sekian lama harus bungkam soal misi tersebut. "Tidak mungkin saya bilang sudah dikirim seminggu lalu, posisinya di sini, sama saja dengan setor nyawa," dia menuturkan.

Atas keberhasilan memimpin Satuan Tugas Duta Samudra, Komandan Gugus Tempur Laut Armada Barat Kolonel Laut (P) Ahmad Taufiqoerachman naik pangkat menjadi laksamana pertama.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Presiden Berikan Tiga Tugas Operasi Militer Somalia


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( tengah), didampingi oleh Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono ( kiri), saat menyambut kedatangan Satuan Tugas Merah Putih di Dermaga Kolinlamil, Jakarta, Minggu ( 22/5). Penyambutan kedatangan Satuan Tugas Merah Putih, seusai melaksanakan misi kemanusiaan menyelamatkan sandra awak Kapal MV Sinar Kudus yang dibajak oleh Perompak Somalia di Perairan Somalia.

Jakarta - Satuan Tugas Merah Putih yang dibentuk untuk pembebasan awak Kapal Kargo Sinar Kudus dari perompak di perairan Somalia dinilai berhasil melakukan misinya. Mereka ternyata mendapat tiga tugas pokok yang dilakukan Satgas dengan 999 personil gabungan TNI dan BIN itu.

" Tugas pokok pertama, menyelamatkan 20 warga Indonesia" kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam upacara penyambutan Satuan Tugas tersebut di Dermaga Komando Lintas Laut Militer Tanjung Priok, Ahad 22 Mei 2011.

Presiden mengatakan, dalam berbagai operasi pembebasan yang dilakukan negara lain, banyak warga mereka yang tidak selamat. Termasuk diantaranya, negara adidaya seperti Amerika Serikat, ternyata tidak mampu menyelamatkan nyawa warganya dari ancaman perompak.

Karenanya, Presiden tak mau awak Sinar Kudus mengalami nasib naas seperti pelaut Amerika Serikat yang tewas itu. "Banyak yang tidak selamat. Ada warga negara Amerika, semua tewas karena ada upaya untuk membebaskan itu terjadi," kata Yudhoyono. " Tugas kedua itu adalah membawa kembali Sinar Kudus ke Indonesia, atau mengawal kapal kargo itu ke tujuan semula, Eropa".

Tugas ketiga, kata Yudhoyono, setelah warga negara Indonesia selamat, mengejar para pembajak. "Kalau perlu, sampai garis pantai Somalia," ucapnya. "Ketiganya dirumuskan menjadi misi Satgas, Selebihnya adalah sejarah,"

Yudhoyono memuji langkah sejumlah perwira yang turun saat mengejar empat perompak di akhir drama penyanderaan Sinar Kudus. Sebetulnya, cukup prajurit setingkat sersan dan bintara saja yang ikut serta.

"Mungkin karena sudah lama berlayar, jengkel, geregetan, turun juga. Saya bangga, sekali-kali perlu, dengan demikian moral prajurit akan tinggi," tuturnya.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Panglima TNI : 999 Personil Dikirim Atasi Bajak Laut Somalia

Jakarta - Pemerintah ternyata mengirim total sejumlah 999 personel gabungan anggota TNI, BIN dan anak buah kapal untuk operasi pembebasan Kapal Kargo Sinar Kudus dari perompak Somalia. Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan pasukan yang dinamai Satuan Tugas (satgas) Merah Putih ini terbagi dalam tiga kelompok komando yaitu Satgas, Pasukan Pendukung dan Pasukan Intelijen Gabungan.

"Satgas Merah Putih terdiri dari 480 personel," kata Agus Suhartono usai acara penyambutan pasukan satuan tugas (satgas) Merah Putih di Markas Komando Lintas Laut Militer Tanjung Priok Jakarta, Minggu 22 Mei 2011. Pasukan ini terdiri dari anak buah kapal, personel Komando Pasukan Katak (Kopaska) Angkatan Laut, Detasemen Jalan Mangkara, Sandi Yudha Komando Pasukan Khusus (Kopasus) Angkatan Darat, dan Unit Ton Tai Pur Kostrad.

Pasukan pertama dipimpin Komandan Gugus Tempur Laut Armada RI Kawasan Barat Laksamana Pertama Ahmad Taufikurrahman. Pasukan ini diangkut oleh dua kapal perang jenis fregat yaitu KRI Yos Sudarso dan KRI Abdul Halim Perdanakusumah. Kedua KRI juga dilengkapi dengan 1 helikopter dan boat C-Rider.

Pasukan pertama juga didukung dengan TNI Angkatan Udara yang mengirim pesawat jenis Boeing 737-400 yang berawak 16 personel. Pasukan ini dipimpin Letnan Kolonel Penerbang Ronald Siregar. Sedangkan pasukan kedua adalah satgas pasukan kekuatan pendukung yang dipimpin oleh Mayor Jenderal (Mar) Alfan Baharudin. Pasukan ini menyusul dengan kapal jenis LPD, KRI Banjarmasin.

Kapal diawaki oleh 488 personel terdiri dari Kopaska Angkatan Laut, Pasukan Intai Amphibi Marinir, Kopasus Angkatan darat, pasukan Ray Hoowitzer, Satuan Tugas 81 Kopasus dan Unit Ton Tai Pur Kostrad. KRI Banjarmasin juga dipersenjatai dengan 1 heli NP412, 7 boat C-Rider, 5 tank BMP3F, 4 unit Howitzer dan 18 perahu karet.

Pasukan pendukung terakhir adalah satgas intel gabungan yang terdiri dari 15 personel intelijen TNI dan personel BadanIntelijen Negara (BIN). Total pasukan 999 personel. Panglima mengatakan operasi ini direncanakan dalam waktu yang sangat singkat dengan beberapa kendala, seperti tujuan operasi yang jauh dan posisi pangkalan terdekat berada di negara lain.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Video : Liputan Khusus Pembebasan MV Sinar Kudus Dari Perompak Somalia

(RCTI)

Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku lega kini bisa berterus terang tentang pengiriman Satuan Tugas Merah Putih untuk operasi pembebasan Kapal Kargo Sinar Kudus dari perompak di perairan Somalia. Soalnya, sudah sekian lama ia harus bungkam tentang misi itu.

"Saya menahan diri selama dua bulan tidak berbicara karena tidak ingin prajurit yang sedang bertugas, jiwa dan raganya dikorbankan," kata Yudhoyono dalam penyambutan Satuan Tugas tersebut di Dermaga Kolinlamil, Ahad, 22 Mei 2011.

Meski dihujani kritik sebagai pemimpin yang lamban, katanya, Yudhoyono tetap harus berdiam diri. "Tidak mungkin saya bilang sudah dikirim seminggu lalu, posisinya di sini, sama saja dengan setor nyawa," ujarnya.

Sejak hari pertama Sinar Kudus dibajak, Yudhoyono mengaku telah dilapori para menterinya. Presiden lantas langsung menggelar lima rapat terbatas berturut-turut untuk menyiapkan pemberangkatan Satuan Tugas untuk pembebasan dari perompak Somalia.

Bahkan, Satuan Tugas pun dibekali dengan persenjataan lengkap untuk melangsungkan operasi militer. Hanya, takdir menggariskan lain. Pemilik kapal memilih membayar tebusan. "Kenapa kita kirimkan kekuatan lebih dari satu batalion, karena kita sudah siapkan segalanya. Operasi dirancang untuk melakukan sesuatu yang lebih dari yang ditakdirkan Tuhan," tuturnya.

Ia meminta para petinggi TNI menceritakan keseluruhan proses kepada masyarakat agar semua orang tahu apa saja yang telah mereka lakukan dalam misi tersebut.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Sunday, May 22, 2011

Pemerintah Somalia Menyuruh TNI Untuk Invasi Daerah Perompak Somalia


Pasukan Denjaka korps marinir TNI AL

Jakarta - Minggu siang ini, 22 Mei 2011, upacara penyambutan kedatangan Satuan Tugas Pembebasan Sandera Kapal Sinar Kudus akan digelar di Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Jakarta Utara. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan menerima kedatangan pasukan TNI yang telah sebulan lebih bertugas ke perairan Somalia itu.

Tuntas sudah tugas mereka melakukan operasi pembebasan sandera kapal kargo Sinar Kudus. Namun, sejumlah cerita di balik operasi pembebasan sandera melawan para bajak laut Somalia masih tersisa. Salah satunya soal rencana Satgas menduduki Pantai Ceel Dhahanaan (El Dhanan), Somalia, saat Sinar Kudus masih dikuasai perompak. Pemerintah Somalia rupanya mendukung penuh rencana itu.

Kepada Tempo, Duta Besar Somalia untuk Indonesia Mohamud Olow Barow menyatakan pihaknya tak berkeberatan dengan rencana pasukan TNI menduduki Pantai El Dhanan, saat melakukan operasi pembebasan kapal Sinar Kudus bulan lalu. "Kami setuju. Siapa pun yang mau melawan kelompok bajak laut, kami 100 persen persilakan," ujarnya, Jumat lalu, 20 Mei 2011.

Meskipun, ia belum diberi tahu Pemerintah Indonesia soal niat menduduki El Dhanan sebagai bagian dari strategi Satgas merebut kapal Sinar Kudus. Dukungan penuh ini diberikan karena Indonesia adalah sesama negara dengan mayoritas penduduk muslim, sama seperti Somalia. Saat Sinar Kudus masih dikuasai perompak, Barow memang selalu menunjukkan dukungannya pada pelaksanaan operasi militer. "Di laut maupun di darat, kami izinkan," ucapnya.

Ia juga sempat menunjukkan kegemasannya karena mafia perompak di perairan negaranya semakin marak saja. Bahkan, penyandang dana aksi para pembajak ditengarai berasal dari luar Somalia. Warga Somalia hanya jadi pelaksana di lapangan. "Somalia cuma tempat parkir, pemiliknya internasional," tuturnya di kantornya, Kedutaan Besar Somalia, di Jakarta, 15 Maret lalu.

Ketika itu, karena khawatir pada keselamatan awak Sinar Kudus, pemerintah belum berterus terang soal rencana pembebasan kapal kargo tersebut. Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah bahkan pernah berucap bahwa pernyataan Pemerintah Somalia, yang mengizinkan Indonesia mengirim pasukan untuk membebaskan sandera awak kapal Sinar Kudus, tak banyak berarti. Sebab, pemerintah di sana memang tidak memegang kekuasaan atas seluruh wilayahnya.

"Pemerintah Somalia bisa memberi statement (pernyataan) apa saja, tapi adalah fakta bahwa mereka tidak menguasai negaranya sendiri," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, beberapa waktu lalu.

Seperti diberitakan Tempointeraktif.com dan Koran Tempo pekan lalu, Satuan Tugas “Merah Putih”--nama satuan operasi pembebasan sandera Sinar Kudus--ternyata menyiapkan strategi khusus saat menggelar operasi di Somalia itu. Strategi itu adalah menduduki Pantai El Dhanan, Somalia, yang menjadi basis para perompak. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kabarnya menyetujui bahkan memerintahkan langkah menduduki pantai yang hanya berjarak 500-600 meter dari kampung para perompak itu.

“Untuk mencegah bantuan dari darat pada saat melakukan penindakan, duduki pantai El Dhanan,” kata Komandan Korps Marinir TNI AL, Mayor Jenderal (Mar) Alfan Baharudin kepada Tempo. Presiden oke dengan strategi itu saat Alfan mamaparkan strategi operasi pembebasan sandera di Istana Cipanas, 16 April 2011.

Alfan, yang juga ditunjuk sebagai Komandan Satgas “Merah Putih” ini beralasan, El Dhanan memiliki posisi yang strategis untuk mencegah perompak mengerahkan bala bantuan saat kapal Sinar Kudus disergap pasukan TNI. Sebab, jarak kapal Sinar Kudus ketika lego jangkar hanya sekitar 3,5 Nautical Mile saja dari bibir pantai El Dhanan. “Ini sangat dekat untuk mengerahkan bantuan,” ujar Alfan.
Selain menyetop bantuan, langkah menduduki El Dhanan adalah taktik psywar alias "perang urat saraf" menghadapi perompak. Apalagi jika mereka sampai menggunakan 20 awak Sinar Kudus sebagai tameng hidup saat pasukan menyerang.

"Bodoh-bodohnya begini, elu mau bunuh 20 orang Indonesia di kapal? Gue habisin nih satu kampung, ada anak-istri elu di situ. Saya yakin dia punya rasa kemanusiaan, ada rasa takut," kata Alfan. "Saya ambil (cara) psikologis itu. Kami akan punya posisi tawar sangat tinggi bila El Dhanan diduduki," ujarnya.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Saturday, May 21, 2011

Militer China Serukan Serang Markas Perompak Somalia

Beijing - Militer China menyerukan agar dilakukan serangan darat terhadap markas perompak Somalia.

Angkatan Laut China selama ini sudah ambil bagian dalam patroli antiperompak di Teluk Aden sejak Desember 2008 namun hingga kini belum pernah ada serangan terhadap wilayah yang selama ini dijadikan markas perompak.

Namun, dalam sebuah konferensi pers di Washington, Kamis (19/5), Jenderal Chen Bingde mengatakan bahwa serangan terhadap markas para perompak Somalia di darat harus dilakukan agar operasi antiperompakan bisa berjalan efektif.

Selama ini, Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain yang ambil bagian dalam kampanye antiperompak ragu untuk melancarkan serangan ke wilayah darat Somalia.(MI.COM/WDN)
Continue reading →

Thursday, May 19, 2011

Kapal Penjemput TKI Dari Arab Saudi Pun Sempat Mau Dirompak


Petugas mengangkat tenaga kerja Indonesia (TKI) yang sakit turun dari Kapal Motor Labobar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (4/5). Kementerian Kesehatan mencatat ada 2.352 orang TKI bermasalah yang dipulangkan, terdiri dari 2.163 orang dewasa, 123 orang di antaranya ibu hamil, 93 anak-anak, dan 96 bayi. Para TKI tersebut dipulangkan karena melebihi masa tinggal (overstay) di Arab Saudi.

Jakarta - Para bajak laut Somalia memang tidak pilih-pilih sasaran. Tak hanya “menyikat” kapal kargo seperti halnya Sinar Kudus, kapal penumpang pun mau diembat. Kapal Motor (KM) Labobar milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) misalnya, juga tak luput dari incaran mereka.

Saat kapal Sinar Kudus masih dikuasai perompak, pertengahan April lalu, Labobar juga sempat melintasi perairan Somalia. Pada 10 April 2011, Labobar bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, untuk menjemput 2.928 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang terlantar di Arab Saudi.

Berangkat dari Tanjung Priok dengan kecepatan 20 knot perjam, Labobar dijadwalkan tiba di Jeddah, Arab Saudi dalam waktu 10 hari. Lebih dari separuh waktu yang direncanakan, kapal penumpang yang dilengkapi berbagai fasilitas ini mulai memasuki perairan Somalia, daerah yang ditandai sebagai zona merah perompakan.

Nah, saat melintasi zona merah inilah, empat speedboat kawanan perompak tertangkap radar sedang membuntuti Labobar. Satu speedboat perompak bahkan sudah sempat memepet kapal berkapasitas 3.000-an penumpang itu pada jarak yang cukup dekat.

Untungnya, sebelum para bajak laut ini melompat ke atas kapal Labobar, puluhan pasukan TNI yang ikut di kapal tersebut sudah lebih dulu menghambur ke haluan, memperlihatkan diri pada perompak. "Melihat ada kekuatan di atas kapal, mereka (perompak) kabur lagi," kata Komandan Detasemen Jala Mangkara Marinir, Kolonel (Mar) Suhartono, yang memimpin operasi pembebasan Sinar Kudus.

Sejak berangkat dari Jakarta, KM Labobar memang sudah dikawal oleh sekitar 75 orang tim pengamanan dan petugas pendukung yang ikut di dalam kapal. Asisten Operasi Korps Marinir, Kolonel (Mar) Eddy Setiawan mengatakan, setidaknya ada 20 anggota pasukan khusus TNI yang ikut di kapal Labobar. “Pasukan Marinir 16 orang dan empat anggota Komando Pasukan Khusus TNI AD,” kata perancang operasi militer pembebasan sandera Sinar Kudus ini kepada Tempo, Jumat pekan lalu.

Meski kawanan perompak berhasil dihalau, tak berarti Labobar benar-benar aman melintasi zona merah. Dua kapal perang TNI Angkatan Laut yang sudah berada di perairan Somalia untuk membebaskan Sinar Kudus, yakni KRI Yos Sudarso dan KRI Halim Perdana Kusuma, akhirnya harus mengawal kapal penumpang tersebut. Dua kapal jenis fregat yang berangkat ke Somalia sejak 23 Maret 2011 lalu itu, sudah berada dalam posisi siaga tak kurang 3 mil dari perairan Somalia.

KM Labobar melaporkan posisinya pada dua KRI itu dan meminta dukungan pengawalan. Laporan bahwa Labobar sempat dibuntuti bajak laut ini kemudian diterima Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal (Mar) Alfan Baharudin, yang ditunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Komandan Satuan Tugas Merah Putih, satuan operasi pembebasan sandera Sinar Kudus. Saat itu Alfan masih berada di Jakarta, belum menyusul pasukannya ke Somalia menggunakan KRI Banjarmasin. Laporan soal Labobar ini kemudian disampaikannya ke Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono.

Dan, tugas yang diemban pasukannya pun bertambah, tak cuma membebaskan Sinar Kudus dari tangan perompak. "Ada tugas tambahan dari komando atas, dalam hal ini Panglima TNI untuk menjemput dan mengawal Labobar," kata Alfan kepada Tempo. Ia pun melanjutkan perintah Panglima TNI itu kepada pimpinan dua kapal perang TNI AL yang sudah berada di Somalia, Komandan Gugus Tempur Laut Armada Barat TNI AL, Kolonel (Laut) Taufikurrahman.

KRI Yos Sudarso dan KRI Halim Perdana Kusuma akhirnya berlayar meninggalkan daerah operasi pembebasan Sinar kudus di perairan El Dhanan, Somalia, dan berbalik arah untuk menjemput Labobar. Empat hari menyisir perairan Arab, ketiga kapal akhirnya bertemu di tengah laut. "Lalu di escort-lah Labobar oleh dua kapal ini," kata Alfan.

Dua KRI yang mengangkut berbagai perlengkapan tempur seperti tank BMP 3F, artileri howitzer, Sea Rider (speedboat Marinir) serta helikopter, ini kemudian mengawal Labobar hingga memasuki zona aman di Teluk Aden yang diapit Arab Saudi dan Ethiopia. Para perompak memang hanya beroperasi sampai mulut teluk yang berbatasan dengan Somalia itu. Setelah memastikan Labobar aman, KRI Yos Sudarso dan Halim Perdana Kusuma kembali berlayar selama empat hari menuju daerah operasi Sinar Kudus, yang sepekan lebih ditinggalkan. (TEMPO/WDN)
Continue reading →

Wednesday, May 18, 2011

Liputan Khusus : Geregetan Tak Kunjung Serang Bajak Somalia, Drum pun Jadi Sasaran

Jakarta - Berhari-hari terkatung di samudera menunggu kepastian operasi memang membosankan. Apa reaksi pasukan TNI begitu tahu opsi militer bukan menjadi prioritas utama pembebasan kapal Sinar Kudus? 185 orang pasukan yang tergabung dalam Satuan Tugas Merah Putih—nama satuan operasi pembebasan sandera awak Sinar Kudus—tentu saja kecewa.

Sebagai obat kekecewaan, mereka sempat melampiaskannya dengan menggelar latihan perang dan menembaki drum-drum sebagai sasaran yang sengaja dilemparkan ke tengah laut.

“Untuk mengobati kekecewaan, sekaligus agar mereka (pasukan) tetap berlatih,” kata Komandan Detasemen Jala Mengkara (Denjaka) Marinir TNI Angkatan laut, Kolonel (Mar) Suhartono kepada Tempo, Jumat pekan lalu. “Mereka tentu saja kecewa.”

Suhartono belum lama ini kembali dari Oman, usai memimpin satuan penindak operasi pembebasan sandera Sinar Kudus. Dia membawahi 185 orang pasukan elite TNI gabungan Denjaka, Komando Pasukan Katak dan Intai Amfibi Marinir serta Satuan Penanggulangan Teror Komando Pasukan Khusus TNI AD yang diberangkatkan ke perairan Somalia.

Hal senada diungkapkan Komandan Korps Marinir, Mayor Jenderal (Mar) Alfan Baharudin. Menurut Alfan, begitu mendengar kabar tuntutan dipenuhi oleh PT Samudera Indonesia, pemilik kapal Sinar Kudus, semua anggotanya di kapal berteriak: “Waduuh, tuntutan dipenuhi. gue nggak ada kerjaan nih,” ujar Komandan Satgas Merah Putih itu, menirukan ungkapan kekecewaan pasukannya.

Saat tuntutan dipenuhi, Alfan dan sebagian pasukannya tengah berada di atas kapal KRI Banjarmasin, yang sedang menempuh perjalanan menuju perairan Somalia. Sementara dua kapal lain, KRI Yos Sudarso dan KRI Halim Perdana Kusuma, sudah lebih dulu tiba.

Para anak buahnya bahkan sempat nyeletuk; “Hantam saja pakai (artileri) howitzer." “Mereka sudah geregetan,” ujar Alfan.

Untungnya, kekecewaan pasukan TNI itu “terobati.” Mereka menembak mati empat orang perompak yang berniat membajak kembali kapal Sinar Kudus. Empat perompak, yang diduga berasal dari kelompok berbeda, menumpang speed boat warna putih dan mencoba mengejar Sinar Kudus. Mereka mencoba menghadang Sinar Kudus setelah enam orang terakhir dari anggota perompak melepaskan sandera dan turun dari kapal.

“Pucuk dicinta ulam tiba. Waktu sandera dirilis, satu kelompok (perompak) mengejar lagi, mau menguasai kembali kapal itu. Kita sikat, habis empat orang,” kata Alfan, dengan berapi-api.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Tuesday, May 17, 2011

Liputan Khusus : Inilah Strategi 'Psy War' TNI Hadapi Lanun Somalia

Jakarta - Tak hanya diberangkatkan untuk operasi pembebasan awak Kapal Kargo Sinar Kudus, Satuan Tugas "Merah Putih" TNI yang dipimpin Komandan Marinir Mayor Jenderal (Mar) Alfan Baharudin ternyata juga menyiapkan strategi "psy war" alias perang urat syaraf menghadapi para lanun.

Strategi ini sebenarnya akan dilakukan setelah pasukan elite TNI, gabungan Detasemen Jala Mengkara (Denjaka) Marinir TNI Angkatan Laut, dan Satuan Penanggulangan Teror Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat berhasil menduduki kampung perompak Ceel Dhahanaan (El Dhanan). Kampung yang menjadi basis para bajak laut itu akan diduduki untuk mencegah mereka mengerahkan bantuan saat kapal Sinar Kudus disergap pasukan TNI.

“Jaraknya sangat dekat untuk mengerahkan bantuan,” ujar Alfan kepada Tempo, Jumat 13 Mei 2011. Jarak Sinar Kudus yang tengah lego jangkar hanya sekitar 3,5 Nautical Mile saja dari bibir pantai El Dhanan. Hanya sekitar 15 menit, bala bantuan perompak bisa mencapai Sinar Kudus.

Selain untuk menutup bantuan, menduduki kampung perompak yang hanya berjarak 500-600 meter saja dari bibir pantai itu juga sebagai langkah mengambil bargaining position (posisi tawar) dengan para perompak. Apalagi, menurut Alfan, jika perompak sampai menggunakan 20 awak kapal Sinar Kudus menjadi tameng hidup saat pasukan TNI menyerang.

Seperti apa pernyataan provokasi itu? "Bodoh-bodohnya begini, elu mau bunuh 20 orang Indonesia di kapal? gue habisin nih satu kampung," kata Alfan. "Di sini ada anak, istri lu di situ. Saya yakin dia punya rasa kemanusiaan juga, ada rasa takut.”

Menurut Komandan Korps Marinir TNI AL ini, “Saya ambil (cara) psikologis itu. Kami akan punya posisi tawar yang sangat tinggi apabila El Dhanan diduduki. Sayangnya itu tidak terjadi.”

Menurut Alfan, pasukan di bawah pimpinannya tak akan menghancurkan kampung perompak El-Dhanan. Kampung itu hanya akan diduduki untuk memberi ultimatum kepada para perompak agar membebaskan kapal Sinar Kudus dan 20 awaknya. “Saya yakin, saya manusia, kalau disuruh milih antara (melepas) keluarga atau sandera, saya pilih (melepas) sandera,” ujar Alfan.

Menurut Alfan, secara taktis militer, menduduki daratan itu dibenarkan sebagai upaya menutup bantuan dari darat. “Karena pasti mereka (perompak) akan memberikan bantuan,” ujarnya. Lagi pula, Pemerintah Somalia juga sudah mengizinkannya.

Untuk mendukung strategi pendudukan Pantai El Dhanan dan menjalankan "psy war" itu, Satgas TNI juga membawa sejumlah peralatan tempur di KRI Yos Sudarso dan KRI Halim Perdana Kusuma yang diberangkatkan ke Somalia. Dua kapal perang TNI AL ini di bawah pimpinan Komandan Gugus Tempur Laut Armada Barat TNI AL, Kolonel (Laut) Taufikurrahman.

Peralatan tempur yang dibawa itu antara lain lima unit tank BNP3F buatan Rusia dan empat unit artileri holitzer milik Marinir. “Semuanya peralatan berat,” kata Komandan Denjaka, Kolonel (Mar) Suhartono, pemimpin operasi.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Liputan Khusus : KRI Yos Sudarso, Kapal Penyelamat Sinar Kudus di Teluk Bayur

Padang - Masih ingat dengan misi penyelamatan pasukan elite TNI terhadap awak kapal MV Sinar Kudus yang dibajak perompak Somalia beberapa waktu lalu? Kemarin (16/5), KRI Yos Sudarso pembawa 240 pasukan elite TNI tersebut merapat di Pelabuhan Teluk Bayur. Seperti apa pengalaman pasukan elite TNI itu?

Padang Ekspres kemarin (16/5), berkesempatan mewancarai Kepala Staf Gugus Tempur Laut Armada Barat, Kolonel Laut (P) Ariawan, di Pelabuhan Teluk Bayur. Aksi penyelamatan menggunakan kata sandi Satgas Duta Samudera 1 2011 ini berjumlah 240 orang. Pasukan ini merupakan gabungan KRI, pasukan Gultor, Kopasus, Denjaka, Kopaska, dibantu tim pendukung dinas penerangan dan penyelaman.

Pelabuhan Teluk Bayur merupakan daratan pertama disinggahi setelah 11 hari di laut. Rencananya, mereka akan membongkar amunisi yang sebelumnya akan diantar untuk Lantamal II Padang. Setelah mengisi bekal ulang, pemantapan teknis kapal, mereka akan kembali ke markas di Jakarta.

Kolonel Ariawan mengaku tak ada halangan berarti mereka selama berlayar dari Oman menuju Indonesia. Malahan pasukan elite ini sempat menolong kapal tanker negara lain yang terancam dibajak di perairan laut Arab, usai pembebasan MV Sinar Kudus.

”Mereka minta tolong, karena kapal mereka ditembaki perahu pembajak. Kami langsung mengambil aksi cepat mendekat ke kapal tersebut. Saat kami sudah dekat, pihak kapal tanker mengatakan pembajak itu sudah semakin dekat. Akhirnya, kami memutuskan melepaskan tembakan. Mendengar tembakan dari kapal perang, perompak itu mengurungkan niatnya membajak kapal tanker itu. Sempat kami buru, namun hari sudah gelap. Dengan speed boat yang kencang pembajak itu bisa menghilang,” ujar Ariawan.


Dari beberapa anggota pasukan juga terangkum cerita menarik. Salah seorang anggota pasukan mengungkapkan, awalnya KRI Yos Sudarso rencananya memang berangkat ke Teluk Bayur mengantar amunisi dan peralatan Lantamal II Padang. Namun, karena ada peristiwa penyanderaan 20 WNI yang tak lain awak kapal MV Sinar Kudus, rencana pun berubah. Akhirnya, mereka berangkat ke Somalia.

KRI Yos Sudarso sendiri berangkat dari Dermaga Kolinlamil Tanjung Priok, Jakarta, tanggal 23 Maret bersama KRI Abdul Halim Perdana Kusumah. Sepasang fregat ini bertolak menuju Kolombo, Sri Lanka. Tanggal 29 Maret, sebuah Boeing 737 TNI AU mengangkut personel Kopassus TNI AD dan Denjaka, pasukan Intai Amfibi TNI AL. Pasukan khusus ditempatkan ke dua KRI di Sri Lanka. Perjalanan dilanjutkan ke daerah operasi 30 Maret.


Satgas mulai tanggal 5 April mulai mengumpulkan data intelijen dan pengintaian di perairan Somalia. Sewaktu di Somalia, kekuatan pasukan elite ini bertambah seiring merapatnya KRI Banjarmasin, sebuah kapal tipe landing platform dock. Kapal ini mampu mengangkut beberapa helikopter dan puluhan kendaraan tempur. KRI Banjarmasin sendiri juga berangkat dari Pelabuhan Kolinlamil, 21 April.

Pada 25 April, Satgas Duta Samudra tiba di Pelabuhan Salalah, Oman, untuk mengisi ulang perbekalan. Esoknya, Satgas Duta Samudra kembali ke daerah operasi di perairan Somalia. Lokasi MV Sinar Kudus berada di Pesisir Eyl, kampung nelayan sekaligus sarang perompak Somalia. Tepatnya, sekitar 500 mil sebelah utara Ibu Kota Mogadishu.

Sebelum operasi pembebasan sandera dimulai, perompak dengan pemilik kapal berhasil mendapat kata sepakat. Konsekuensinya pemilik kapal memenuhi tembusan perompak. Waktu itu, perompak berjumlah 80 orang tersebut berjanji 1 Mei membebaskan sandera. Pukul 06.00 waktu setempat, akhirnya satu per satu perompak turun di daerah bernama Eyl. Setelah semua perompak turun, kapal MV Sinar Kudus pun melanjutkan perjalanan.
Awalnya, menurut salah satu anggota pasukan elite AL ini, TNI sangat siap menggempur perompak itu. ”Serangan militer tidak dilakukan, karena permintaan keluarga dan para nakhoda kapal niaga. Juga, para sandera berada di tempat terpisah,” ujarnya.

Informasinya, setelah tim berada di lautan Somalia, perompak mencampur-campur tawanan mereka. Bahkan, memindah-mindahkan mereka ke kapal lainnya. Artinya, jika dilakukan serangan, belum tentu semua sandera bisa lepas dalam waktu bersamaan. ”KRI kami membayangi para bajak laut dan MV Sinar Kudus yang bergerak. Kami mengawal sampai semua bajak laut meninggalkan kapal. Kami mencegah agar jangan sampai ada kelompok bajak laut lain mengambil kesempatan,” ujarnya.
Ternyata, apa yang dikhawatirkan hampir terjadi. Baru lepas dari satu pembajak, datang perompak lainnya hendak membajak kapal MV Sinar Kudus. Pasukan TNI yang sejak berangkat sudah geram, akhirnya berinisiatif menghadang dan terjadi kontak senjata dengan perompak.

”Kami turun dengan dua sea rider (speedboat tempur, red). Kami berhadapan dengan dua boat perompak yang juga berkekuatan penuh. Terjadilah baku tembak di tengah laut. Akhirnya, kami berhasil menggagalkan pembajakan MV Sinar Kudus kedua kalinya,” ujarnya.

Salah serorang prajurit yang sudah berpengalaman di medan perang itu menegaskan bahwa mereka bukannya takut. Justru sejak awal mereka sangat bersemangat mengobrak-abrik perompak. Dalam baku tembak itu, satu boat berhasil dilumpuhkan, satunya lagi kabur.
Prajurit sudah 60 hari meninggalkan anak istri ini mengatakan, kapal perompak itu langsung mereka sita. Di dalamnya, ditemukan pakaian prajurit berpangkat letnan. Menurut informasi beredar, perompak itu kebanyakan mantan prajurit, senjata mereka juga canggih.

Di atas kapal, dengan misi membela nama negara, mereka tentu saja meninggalkan keluarga. Pasukan-pasukan terlatih ini hanya bisa menahan rindu, karena tugas utama mereka adalah mengabdi pada negara. Kadang saat ada sinyal di tengah laut, mereka mengirim pesan melalui handphone. ”Kami tidak bisa menelepon, karena sinyal hilang timbul. Biayanya juga mahal, karena satu kali SMS saja bisa kena empat ribu,” ujar salah satu prajurit lainnya.

Di atas kapal, saat ketegangan sudah mengendur, mereka tidak ada hiburan. Hanya ada gitar atau musik yang menjadi hiburan mereka. Apalagi ketika stok logistik mulai menipis, rokok habis pula. ”Ingin rasanya loncat ke laut dan berenang untuk membeli rokok,” ujarnya bercanda.(Padang Post/WDN)
Continue reading →

Liputan Khusus : Penantian 40 Hari dan 7 Jam Operasi Sinar Kudus


Jakarta - Dilepas sejak 23 Maret 2011 di Tanjung Priok, Jakarta Utara, ratusan pasukan khusus TNI terpaksa menahan kesabaran dan geregetan selama 40 hari lebih untuk tidak menyerbu perompak Somalia yang menyandera 20 awak kapal Sinar Kudus. Operasi tujuh jam di Semenanjung Somalia dan Yaman akhirnya dilakukan, dengan empat nyawa lanun plus US$ 3 juta sebagai imbalan. Inilah detik-detik terakhir pembebasan, kapal kargo milik PT Samudera Indonesia.

Berita acara penyerahan buntelan duit dolar itu selesai diteken Kapten Kapal Kargo Sinar Kudus Slamet Juari. “Already Receive This Money”. Begitu bunyi dokumen terakhir. Jepret-jepret foto selesai, dokumen di-scan dan dikirim via surat elektronik ke Jakarta. Tanda kalau tebusan sudah diterima perompak Somalia.

Hari itu, Sabtu sore, 30 April 2011. Di geladak Kapal Sinar Kudus yang buang jangkar di teluk Aden, perairan antara Yaman dan Somalia ini, Slamet menghela napas panjang. Terbayang sudah, enam jam lagi, sesuai dengan waktu yang dijanjikan perompak, kebebasan itu ada di depan mata. “Saya sudah kangen telepon rumah,” ujarnya.

Empat puluh enam hari sudah, Kapten Slamet Juari dan kawan-kawanya bergelut dengan ketegangan, begitu kapal kargo Sinar Kudus PT Samudera Indonesia dirompak lanun Somalia, sejak 16 Maret. “Kami menantikan betul detik-detik kebebasan itu,” kata Slamet.

Namun, Slamet harus bersabar. Kebebasan itu masih butuh perjuangan, lebih dari 20 jam lagi. Di anjungan, Slamet dan Masbukin, mualim Sinar Kudus, hanya bisa berpandangan mendengar suara gedebak-gedebuk. “Mereka adu jotos,” kata Slamet. “Tak sepakat dengan pembagian duit tebusan.”

Ketegangan pun merayap. Slamet dan Masbukin mengaku, emoh peristiwa ancam-mengancam berlaku lagi. Dua hari sebelumnya, saat nego tebusan itu alot berlangsung, para awak kapal dikumpulkan di Palka 2. Sekitar 20 awak kapal itu dijejer satu-satu. Berdiri di depan para lanun yang siap dengan senjata terkokang. “Mereka mengancam akan membunuh kami,” kata Masbukin.

Saat itu, banyak awak sudah meneteskan air mata. Kapten Slamet pun memilih pasang badan. “Saya sempat tawarkan diri, mau tinggal sama mereka asal anak buah bebas,” ujarnya. “Kalau uang tebusan dijatuhkan dan kami tetap dibunuh, kami tak bisa apa-apa.”

Tak mau peristiwa berulang, Masbukin dan Slamet pun beranjak bertanya. Para perompak itu minta waktu beberapa jam lagi. Menjelang pukul 20.00, mereka akhirnya keluar dari rembukan. Para perompak itu minta diturunkan ke tiga titik.

Semula Slamet emoh memenuhi permintaan. “Kapal kami kok dibuat kayak angkot saja,” ujarnya. “Mereka beralasan kalau turun langsung dan bawa duit bisa dibunuh di tengah perjalanan.” Toh Slamet mengiyakan.

Walhasil, malam itu Slamet melepas jangkar dan mengantar kloter pertama perompak di daerah Danane. Rombongan berikutnya, belasan orang minta diantar ke Eil, sekitar 8-9 jam dari Danane. Pukul 04.15 mereka bergerak ke Eil dan berencana menurunkan enam orang. Terakhir, enam orang lagi akan diturunkan di desa asal Perompak. Diperkirakan, para perompak betul-betul bebas dari kapal pukul 13.10.

Saat itulah, Masbukin bersiasat. Mualim Sinar Kudus asal Kediri, Jawa Timur, itu membujuk mereka memakai helm putih sebelum turun. “Sengaja supaya terlihat helikopter angkatan perang kita,” ujarnya. Masbukin juga mengontak kapal perang yang siaga, 24 mil. Kodenya: helm putih.

Seluruh kejadian yang terjadi di kapal, dilaporkan para awak ke Kolonel Marinir Suhartono, Komandan Detasemen Jala Mangkara, pemimpin operasi di Somalia.

Termasuk perselisihan antarkubu perompak.” Saat itu sudah ada perintah dari komandan, jika seluruh perompak tidak turun, operasi akan dijalankan,” kata Suhartono. “Apalagi ada faksi perompak yang tak setuju nilai tebusan dan sepakat akan mengambil alih kapal.”

Saat yang ditunggu itu pun tiba. Matahari sudah tegak di atas kapal, ketika Sinar Kudus akan melepas enam perompak terakhir dari atas kapal.

Saat Muhammad Sallah, komandan perompak, akan turun dari kapal, tiba-tiba ada tiga speed boat putih meluncur dari daratan, menghadang Sinar Kudus. Awak Sinar Kudus sempat mengingatkan Muhammad, “Ada perampok, dia bilang no problem.”

Ketegangan merambat. Dari kamar nakhoda, Masbukin berteriak-teriak “May Day, May Day.“ Pasukan pun dikontak. “Pak, tolong ini dari pantai mereka sudah mengejar.” Di atas kapal, seluruh awak diteriaki menyiapkan air panas, linggis, atau apa pun untuk menyerang.

Di atas kapal, para awak diperintahkan menutup semua ruangan, termasuk pintu kedap. Sepuluh menit kemudian, tiga unit sea rider—kapal cepat--TNI Angkatan Laut mengejar para perompak. Helikopter ikut menguntit. Aksi tembak pun akhirnya terjadi. “Kami selamatkan dulu Sinar Kudus, baru mengejar target,” kata Majen Alfan Baharuddin, Komandan Mako Korps Marinir yang jadi Komandan Satgas Operasi.

Kejadian itu terjadi pada jarak sekitar 1 mil dari Sinar Kudus. Keempat perompak tewas tertembus peluru. “Kami tidak bisa mendapatkan tubuhnya. Mereka jatuh ke laut,” kata Alfan. Dua kapal perompak dibawa pasukan TNI.

Alfan menduga, perompak yang menyusul adalah kelompok lama yang tak setuju dengan pembagian kompensasi. Masbukin malah menyakini, ini adalah lawan kelompok Muhammad Sallah, bos perompak Sinar Kudus. “Dia pakai baju dan jam tangan saya,” ujarnya. “Dia yang tidak setuju dengan jumlah kompensasi dan merencanakan mencegat Muhammad setelah turun.”

Hampir bersamaan dengan aksi pengejaran, sekelompok pasukan TNI naik ke atas Sinar Kudus. Mereka mengecek seluruh bagian kapal, termasuk memastikan tidak ada bahan peledak yang dipasang perompak.

Setelah semua aman, Sinar Kudus konvoi dengan kapal perang menuju Oman. Sejumlah barang Sinar Kudus raib turut digondol perompak, seperti mesin perahu sekoci, lampu, piring, sendok, hingga alat tidur.

Kapal pun akhirnya dibawa ke Shalala Oman untuk dioperasi. Selanjutnya Sinar Kudus yang membawa nikel milik PT Aneka Tambang itu melanjutkan perjalanan ke Rotterdam, Belanda, dengan awak dan kru baru, plus pengawalan dari pasukan TNI. Para awak aslinya pulang ke Tanah Air, setelah disandera berpuluh hari.

Operasi beberapa jam ini menutup kisah 40 hari pasukan TNI di laut lepas. Mereka menguji kesabaran dan geregetan karena operasi militer yang harusnya bisa dilakukan tak kunjung dilakukan.

Dilepas sejak 23 Maret dari Tanjung Priok ke Colombo, Sri Lanka, sebelum akhirnya berada di perairan Somalia, gabungan pasukan ini berhari-hari dipenuhi kegiatan mengintai dan mengamati kapal-kapal yang dikuasai lanun.

Lampu hijau dari Jakarta untuk menyerbu baru muncul 6 April lalu. Seorang perwira TNI mengatakan, pasukan sudah siap melakukan operasi militer merebut Sinar Kudus. “Anak-anak sudah geregetan,” kata pria.

Keputusan penyerbuan sendiri baru diambil 18 April 2011, begitu otoritas itu keluar dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Meski begitu, pilihan yang diambil adalah opsi militer bukan jadi prioritas utama. Prioritas utama adalah keselamatan para sandera,” kata Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono.

Selama itu, kapal perang itu parkir mendekat ke Sinar Kudus, hanya 10 hingga 15 mil. Sejumlah aksi strategi penyerangan sudah disusun, termasuk menyerbu kampung perompak. “Masalahnya ada sejumlah kondisi tak memungkinkan.”

Walhasil, operasi tujuh jam akhirnya diselesaikan di Semenanjung Somalia dan Yaman. Imbalannya empat nyawa lanun plus US$ 3 juta yang tak bisa kembali.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Monday, May 16, 2011

Liputan Khusus : Info Intelijen Tak Akurat, TNI Batal Serang Lanun

Jakarta - Pasukan TNI sebenarnya dapat dengan mudah melumpuhkan para perompak Somalia yang menyandera kapal MV Sinar Kudus dan 20 orang awaknya. Kendati akhirnya, pemerintah dan PT Samudera Indonesia, pemilik kapal, memilih memenuhi tuntutan para perompak dengan membayar uang tebusan.

Mudahnya menekuk para lanun Somalia ini ditegaskan Komandan Korps Marinir TNI Angkatan Laut, Mayor Jenderal (Mar) Alfan Baharudin dan Komandan Detasemen Jala Mengkara (Denjaka) Marinir TNI AL Kolonel (Mar) Suhartono. Alfan ditunjuk sebagai Komandan Satuan Tugas “Merah Putih”, nama satuan operasi pembebasan sandera Somalia. Adapun Suhartono, sebagai Komandan Satuan Penindak di lapangan yang membawahi 185 orang pasukan elite gabungan dari Denjaka Marinir TNI AL dan Satuan Penanggulangan Teror Kopassus TNI AD.

Pasukan TNI melakukan pengintaian awal terhadap kapal Sinar Kudus yang masih dikuasai perompak, pada 4 April 2011. Dari pengintaian udara menggunakan helikopter TNI AL, selain kapal Sinar Kudus yang sedang lego jangkar di lepas pantai Ceel Dhahanaan (El Dhanan), Somalia, juga tampak sejumlah kapal lain yang masih dikuasai para pembajak. “Awalnya ada delapan kapal bajakan, salah satunya Sinar Kudus,” kata Suhartono, yang saat itu memimpin pengintaian.

Setelah mengintai dari udara itulah pasukan TNI mempertimbangkan operasi militer pembebasan sandera dapat segera dilakukan. “Waktu itu sebetulnya sudah mengajukan saran. Tanggal 5 April itu adalah tanggal yang tepat untuk melakukan tindakan,” ujarnya dalam wawancara khusus Tempo di Markas Marinir Kwitang, Jakarta Pusat, Jumat pekan lalu, 13 Mei 2011.

Pertimbangannya, di perairan Somalia saat itu dalam kondisi bulan mati. Sejak sore hingga esok paginya, bulan tak nampak sama sekali. “Sehingga gelap, ini menguntungkan untuk menyergap,” kata Suhartono. Kondisi permukaan air laut juga jernih dan datar layaknya cermin. “Jadi mau manuver apapun enak sekali.” Kondisi ini jauh berbeda ketika memasuki bulan Mei, cuaca memburuk dan air laut mulai bergelombang.

Keyakinan pasukan dapat segera merebut Sinar Kudus juga diperkuat sejumlah peralatan memadai yang dibawa saat itu, seperti tiga buah Sea Riders Marinir TNI AL. Speedboat dengan bantalan karet disekelilingnya itu bisa melesat diatas permukaan laut dengan kecepatan hingga 45 Nautical Mile perjam. Setiap Sea Riders diawaki tiga orang; motoris, pembantu motoris dan satu penembak senapan mesin. Boat ini juga bisa mengangkut 10 personil pasukan khusus. “Tiap pasukan kita bekali dengan senapan mesin,” kata Suhartono.

Sayangnya, keyakinan pasukan di lapangan kurang mendapat sokongan dari Jakarta untuk melakukan serangan militer terhadap perompak. “Kami minta izin, tapi ada pertimbangan lain dari Panglima TNI,” kata Alfan Baharudin. “Rencana itu harus disampaikan dulu ke Panglima TNI dan Presiden. Sebelum bertindak izin dulu ke atas.”

Jakarta rupanya mendapat informasi penempatan sandera Sinar Kudus dipisah-pisah. “Kondisi yang diharapkan Bapak Presiden, keberhasilan 70 persen itu jadi masih tanda tanya. Peluang keberhasilan tidak bisa dinilai,” kata Alfan. Karena informasi itulah Panglima TNI tak mengizinkan pasukan segera menyerang. “Karena yang tahu di depan. Saran tetap diajukan terus dari depan.”

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menilai posisi sandera yang terpisah membuat upaya TNI melakukan serangan militer mengalami kesulitan dan beresiko tinggi. "Selain itu, kapal Sinar Kudus berada diantara delapan kapal lainnya. Jadi akses kami sulit," ujar Agus di Markas Besar TNI Cilangkap, awal Mei lalu. Banyaknya perompak yang berjaga di kapal juga menyulitkan penyerangan. "Ada sekitar 15-20 kelompok terorganisir dengan setiap kelompok terdiri dari 30-50 orang," katanya.

Informasi lain, para awak Sinar Kudus diacak dengan sandera negara lain dari kapal berbeda. “Mungkin lima (sandera) di kapal mana, lima dimana, sehingga kalau kita bebaskan Sinar Kudus, paling banter kita dapat sandera lima orang, sisanya dari negara lain. Ini kan rawan,” kata Suhartono.

Satgas juga beroleh informasi para sandera telah dibawa perompak ke Hobyo, sebuah camp di selatan El Dhanan. “Mungkin karena pertimbangan itu dijadikan acuan jangan menyerang dulu, karena data intelijen belum lengkap,” ujarnya.

Seperti halnya rencana merebut kapal dari tangan perompak, Satgas Merah Putih juga yakin dapat menduduki Pantai El Dhanan, basis para perompak. Pantai ini akan diduduki untuk mencegah bala bantuan dikerahkan perompak saat Sinar Kudus disergap oleh TNI. “Tidak sulit (menduduki El Dhanan),” kata Suhartono. “Tapi, semua kan tergantung keputusan dari atas. “Kalau diizinkan baru kita laksanakan.”

Informasi-informasi yang membatalkan rencana penyerangan terhadap perompak itu ternyata tak sepenuhnya akurat. Karena ketika Sinar Kudus berhasil dikuasai pasukan TNI, para awak kapal mengaku tak pernah dipisah-pisah dan selalu bersama di satu kapal. “Tidak benar, kami satu posisi saja, tetap di kapal,” tutur Masbukhin, mualim kapal Sinar Kudus kepada Tempo. “Entah informasi dari mana itu,” ujar Alfan Baharudin.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Liputan Khusus : TNI Sempat Sasar Kampung Bajak Laut Somalia

BMP 3F Marinir Juga Dibawa Ke Somalia.

Jakarta - Andai pembebasan awak Sinar Kudus itu dilakukan dengan operasi militer, opsi apa saja yang disiapkan pasukan TNI? Setidaknya ada dua strategi besar yang disiapkan ketika pasukan ini diberangkatkan dengan dua kapal perang jenis fregat TNI Angkatan Laut, KRI Yos Sudarso dan KRI Halim Perdana Kusuma, ke perairan Somalia, 23 Maret lalu.

Rencana pertama adalah menyergap kapal Sinar Kudus yang dikuasai perompak, saat tengah berlayar di tengah laut. Kedua, melakukan serangan militer terhadap perompak saat Sinar Kudus lego jangkar atau merapat ke daratan.

Di luar dua rencana itu, ternyata Satuan Tugas “Merah Putih”--nama satuan operasi pembebasan sandera Somalia--ternyata sempat menyiapkan opsi khusus, yaitu menduduki Pantai Ceel Dhahanaan (El Dhanan) Somalia. Di pantai itu, bermukim ribuan perompak dan keluarganya.

Kabarnya, opsi khusus ini juga disetujui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan, Panglima Tertinggi TNI itu juga memerintahkan TNI "menguasai" pantai yang hanya berjarak 500-600 meter dari kampung para perompak itu.

“Pantai itu diduduki untuk mencegah bantuan dari darat pada saat operasi pembebasan Sinar Kudus dilakukan," kata Komandan Korps Marinir TNI AL, Mayor Jenderal (Mar) Alfan Baharudin. Perintah Presiden itu diberikan saat membahas rencana operasi pembebasan sandera di Istana Cipanas, 16 April 2011.

Alfan, yang juga ditunjuk sebagai Komandan Satgas “Merah Putih” ini beralasan, El Dhanan memiliki posisi yang strategis untuk mencegah perompak mengerahkan bala bantuan saat kapal Sinar Kudus disergap pasukan TNI. Sebab, jarak kapal Sinar Kudus ketika lego jangkar hanya sekitar 3,5 Nautical Mile saja dari bibir pantai El Dhanan.

“Ini sangat dekat untuk mengerahkan bantuan,” ujar Alfan kepada Tempo, Jumat pekan lalu, 13 Mei 2011. Rencana menduduki kampung perompak di daratan ini, menurut Alfan, sudah mendapat restu dari Pemerintah Somalia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene juga membenarkan Pemerintah Somalia telah memberi izin kepada Pemerintah RI untuk menggelar operasi militer di wilayahnya. "Benar, boleh menggelar kekuatan," kata Michael. Bahkan, kata dia, restu Pemerintah Somalia untuk menggelar pasukan pembebasan sandera di wilayahnya telah dituangkan dalam sebuah resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa,

Guna mendukung rencana menduduki pantai Somalia itulah, dua kapal fregat yang diberangkatkan ke perairan Somalia juga membawa serta lima buah tank BNP3F milik Korps Marinir TNI AL. Selain tank, Satgas pembebasan sandera juga membawa sejumlah artileri lain. “Semuanya peralatan berat,” kata Komandan Detasemen Jala Mengkara Marinir TNI AL, Kolonel (Mar) Suhartono, pemimpin operasi militer di lapangan.

Perintah menduduki basis para perompak ini secara gamblang dituangkan dalam tugas pokok satgas pembebasan sandera yang disetujui Presiden. Tugas pokok penanggulangan teror TNI adalah melaksanakan operasi khusus pada hari H, jam J di perairan Somalia, dan menduduki Pantai El Dhanan. Serta, “Merebut dan menguasai kembali MV Sinar Kudus dalam rangka membebaskan sandera dari tangan pembajak.” kata Suhartono kepada Tempo.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Total Pageviews

Blog Archive

Labels

Followers