New Maju Indonesia Ku

Showing posts with label Satelit. Show all posts
Showing posts with label Satelit. Show all posts

Thursday, August 22, 2013

Komisi I Dukung Pengadaan Satelit Untuk Pertahanan Negara

Jakarta (MID) - Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar (F-PG) Agus Gumiwang Kartasasmita mendukung rencana pengadaan satelit untuk keperluan militer. Selama ini, satelit yang digunakan untuk kebutuhan pertahanan negara, masih menyewa, sehingga rentan dari segi keamanan dan rawan pencurian data oleh pihak lain.

"Kami akan mendukung pengadaan satelit untuk militer itu, guna mengakhiri ketergantungan dari pihak lain. Karena selama ini satelit untuk sistem pengamanan negara masih sewa," ujar Agus Gumiwang Kartasasmita kepada JurnalParlemen, Kamis (22/8).

Agus pun berharap, pengadaan satelit untuk kepentingan militer itu menggunakan buatan dalam negeri sendiri. Sebab, jika ditinjau dari keamanannya, akan lebih aman daripada membeli satelit dari negara lain.

"Kami dengar putra-putri dalam negeri sudah mampu membuat satelit sendiri, yang kualitas dan speknya tidak kalah dengan satelit buatan negara lain. Karena itu, kami akan mendukung pengadaan satelit untuk militer itu, jika menggunakan bauatan dalam negeri sendiri. Karena dari segi keamanannya juga terjamin."

Agus pun optimistis rencana pengadaan dan pembelian satelit untuk militer itu dapat segera terwujud, seiring dengan anggaran Kementerian Pertahanan pada RAPBN 2014, yang mencapai lebih dari 83 triliun, di luar dana tambahan dan dana on top. "Saya kira soal anggaran tidak masalah. Dapat menggunakan anggaran di RAPBN 2014, di luar anggaran rutin yang bersifat operasional. Karena kita juga dukung adanya penambahan anggaran di luar pagu yang ada," katanya.(Jurnal Parlemen/WDN)
Continue reading →

Saturday, May 18, 2013

November, LAPAN Akan Luncurkan Roket Pembawa Satelit Di Morotai

Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) meluncurkan roket pembawa satelit di Kabupaten Morotai, Maluku Utara, pada November 2013, karena daerah itu dinilai sangat strategis untuk peluncuran roket satelit itu.

Kepala Bappeda Pulau Morotai, Syamsuddin, di Ternate, Sabtu (18/5), mengatakan, tim dari Lapan telah melakukan survei lokasi di Pulau Morotai yang akan menjadi titik peluncuran satelit tersebut.

"Peluncuran roket dari Lapan sudah dipastikan pada bulan November 2013 di wilayah Sangowo Morotai Timur Kabupaten Pulau Morotai," katanya.

Ia mengatakan, tim Lapan dan Bappenas sudah kembali melakukan survei lokasi peluncuran, sehingga peluncuran roket di Sangowo itu ada kepastian pada November mendatang.

Menurut dia, kedatangan tim Lapan bersama Bappenas adalah sebagai mitra kerja untuk meninjau lokasi kepastian peluncuran roket oleh Lapan, sehingga dari Lapan sendiri berharap ada dukungan dari Pemda Morotai untuk kegiatan tersebut.

"Dari Lapan meminta ada dukungan dari Pemda dan Pemda sendiri merespons kegiatan peluncuran roket dari Lapan akan dilaksanakan pada bulan November mendatang," katanya.

Untuk peluncuran tersebut nantinya akan bersamaan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Lapan, sedangkan untuk persiapan-persiapan yang akan dilakukan nanti dipastikan selesai bulan Oktober, mulai dari bangunan untuk operator, VIP, dan beberapa tenda untuk para tim yang akan datang.

Selain itu, untuk lokasi peluncuran roket sendiri rata-rata minimal berjarak 1,5 km dari pemukiman warga, seperti yang sudah dilakukan peluncuran di Jepang dan daerah lain, namun untuk peluncuran roket Lapan di Sangowo nantinya akan berjarak 3 km dari area pemukiman.

"Untuk peluncuran roket dari Lapan sendiri secara tidak langsung juga bertujuan untuk mendukung penelitian Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi) dan menarik Sumber Daya Manusia (SDM)," katanya.(SuaraPembaruan/WDN)
Continue reading →

Tuesday, November 27, 2012

Lapan Tawarkan Kerjasama Bandara Antariksa Morotai Kepada Korsel

Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) siap menjajaki kerjasama dengan negara lain dalam pembangunan bandar antariksa (spaceport). Rencananya, bandar antariksa itu akan terwujud pada 2025 mendatang.

"Korea Selatan akan kami tawarkan kerjasama, karena negara ini tidak punya bandar antariksa," kata Kepala LAPAN, Bambang S Tedja, di Puspitek Serpong, Tangerang Selatan, Selasa 27 November 2012.

Ia mengatakan posisi Indonesia yang berada di garis ekuator yang sering dilalui orbit satelit memberikan keuntungan tersendiri. "Korea Selatan itu mau luncurkan satelit tidak bisa, karena melewati Jepang dan diprotes Jepang," ujarnya.

Adapun kerjasama yang dimaksud adalah pembangunan infrastruktur bandar antariksa, maupun yang lainnya. Meski membuka peluang kerjasama, Bambang memastikan bahwa kepemilikan bandar antariksa sepenuhnya tetap menjadi milik Indonesia, tidak jatuh ke tangan asing.

"Tetap milik kita, dia (Korea Selatan) statusnya hanya simpan satelit di bandar kita, dia juga harus izin ke Kemenristek," tegasnya.

Ia menggambarkan bahwa pihak yang nantinya menjalin kerjasama dalam pembangunan bandar antariksa, akan mendapat fasilitas tertentu. Tapi tidak dijelaskan secara detail mengenai fasilitas yang dimaksud.

"Ada perjanjian dan kewajiban tertentu, tapi masing-masing untung. Bagian penting bandar tetap punya kita," kata Bambang.

Pihak negara lain yang bekerjasama, tambahnya, hanya sebatas membawa fasilitas integrasi untuk peluncuran satelit di bandar. "Itu saja yang punya mereka," ucapnya.

Instalasi yang terdapat di bandar antariksa menurutnya masih didatangkan dari luar negeri. Pihak LAPAN hanya mengintegrasi komponen bandar antariksa.

Ia juga menegaskan bahwa institusi yang berhak untuk mengelola bandar antariksa adalah LAPAN. Untuk kerjasama dengan pihak swasta, LAPAN juga membuka peluang namun dalam regulasi keantariksaan di Indonesia, institusi negara atau swasta yang akan menjalin kerjasama harus memenuhi persyaratan ketat.

"Peluncuran satelit atau roket itu kan punya resiko tinggi, apalagi jika melewati negara lain. Untuk itu salah satunya syarat asuransi sangat penting," katanya.

Pembangunan bandar antariksa nasional di Pulau Morotai tahap awal, LAPAN menggelontorkan dana awal Rp 25 miliar.

Morotai Lebih Aman

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah memperlihatkan kemampuan dalam mengembangkan satelit dan roket. Untuk terus mengembangkan teknologi antariksa, LAPAN merintis pembangunan bandar antariksa nasional atau spaceport untuk keperluan peluncuran Roket Pengorbit Satelit (RPS), juga satelit lain.

LAPAN telah memilih Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara sebagai calon bandar antariksa nasional. Ini mengingat potensi dan kualifikasi pulau tersebut yang paling memungkinkan untuk pembangunan bandar antariksa.

"Kami sudah kaji, periksa, dan infrastrukturnya harus siap. Morotai memiliki lahan yang luas," kata Kepala LAPAN, Bambang S. Tedja, di Puspitek Serpong, Tangerang Selatan, Selasa 27 November 2012.

Bambang mengatakan Pulau Marotai mempunyai tujuh lapangan terbang yang panjang sisa Perang Dunia II, dengan panjang landasan mencapai 3 KM. Lokasi Pulau Marotai yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik dan Laut Halmahera di sebelah utara, timur dan barat memungkinkan untuk pembangunan. Pulau ini juga jauh dari pemukiman penduduk.

Meski demikian, Bambang menjelaskan untuk mewujudkan bandar antariksa nasional masih perlu waktu yang panjang. Menurut Bambang, dalam roadmap LAPAN, bandar antariksa di Pulau Morotai akan selesai dibangun pada 2025.

"Kami merintis dulu. Untuk langkah pertama kita siapkan launcher-nya, landasan peluncuran, pemindahan alat-alat meteorologi ke sana, juga mulai menempatkan para insinyur kita di sana," paparnya.

Jika tahapan tersebut sudah selesai, menurutnya baru akan melangkah ke pembangunan bandar antariksa.

Sebelumnya, LAPAN telah memiliki fasilitas peluncuran satelit di Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Fasilitas tersebut selama ini digunakan untuk ujicoba peluncuran roket hasil riset, namun untuk keperluan peluncuran RPS, dibutuhkan bandar antariksa.

"Selain itu, di Pameungpeuk itu sudah padat penduduk dan muncul berbagai penginapan untuk objek wisata, juga banyak kapal berlalu lalang di sana" katanya.

Pulau Morotarai dipilih sebagai calon bandar antariksa setelah mengkalkulasi dua tempat lain yang sebelumnya dikaji LAPAN, Pulau Enggano, Bengkulu dan Pulau Biak, Papua.

"Enggano berpotensi kena tsunami. Kalau di Biak, kami baru masuk, sudah banyak masalah sosial," tambahnya.

Lembaga antariksa negara ini mengkaji enam wilayah di Kabupaten Pulau Marotai sebagai calon bandar antariksa. Alternatif pertama yaitu Tanjung Gurango, Desa Gorua, Kecamatan Marotai Utara. Alternatif kedua Desa Bido, Kecamatan Morotarai Utara, ketiga Desa Mira Kecamatan Morotarai Timur.

Seluruh lokasi ini merupakan daerah perbukitan, pinggir pantai dan menghadap lautan bebas, dekat dengan sungai, berjarak 1-2 KM dari pemukiman penduduk.

Alternatif selanjutnya Pulau Tabailenge, berada di depan kota Berebere dengan jarak kurang lebih 2,5 KM, lokasi lain antara Desa Sangowo dengan Desa Daeo, Morotarai Timur dan alternatif terakhir Tanjung Sangowo, yang berlokasi antara Desa Sangowo dan Desa Mira, Morotarai Timur. Wilayah terakhir ini merupakan wilayah yang sangat potensial sebagai bandar antariksa.

Lapan Akui Pengembangan Satelit Indonesia Terbilang Lamban

Upaya pembangunan satelit dirintis Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sejak meluncurkan Satelit A1-Tubsat pada awal tahun 2007 lalu. Pertengahan tahun depan, LAPAN akan segera meluncurkan satelit penerus A1, yakni satelit A2 di India.

Lalu dalam jangka empat tahun setelah meluncurkan satelit A2, LAPAN akan berencana akan meluncurkan dua satelit, satu satelit eksperimental dan satu satelit operasional. Langkah tersebut dilakukan untuk mewujudkan pembangunan satelit yang mandiri.

Ketua Pusat Satelit LAPAN, Suhermanto mengatakan, pola pembangunan satelit yang dijalani oleh Indonesia memang tergolong lambat. Hal ini diakibatkan dukungan industri teknologi pendukung satelit di Indonesia sangat kurang.

"Biayanya sangat mahal, perlu dukungan industri elektronika, logam yang bagus," kata Suhermanto di kantor Pusat Satelit LAPAN di Bogor, Jumat 31 Agustus 2012.

Ia membandingkan dengan Korea Selatan yang cepat dalam pembangunan satelit. Sebab, dukungan industri elektronikanya bagus.

Korea Selatan, lanjutnya, dalam waktu dekat, langsung dapat mengaplikasikan pengetahuan pembangunan satelit dari luar negeri. Bahkan Korea Selatan kemudian dapat meningkatkan kemampuan membuat roket sebagai wahana peluncur.

Selain problem industri pendukung, di Indoensia pembangunan satelit tekendala oleh regulasi frekuensi, baik itu di dalam negeri maupun frekuensi di luar negeri. Meski terbilang pembangunan satelit Indonesia lambat, tapi Suhermanto mengatakan pola yang dijalankan cukup sistematis dan mendapat pengakuan dari negara lain.

"Pembangunan satelit di sini dinilai baik. Mozambik, Malaysia dan Thailand mengakui pengalaman kita dalam pembangunan satelit," ujarnya.

Ia mengatakan pola pembangunan satelit Indonesia mempunyai visi penguasaan pembuatan satelit mandiri secara bertahap. Awalnya pembangunan satelit dilakukan dengan transfer pengetahun teknologi dari negara luar, kemudian berusaha membuat perangkat lunak maupun keras dari dalam negeri dan oleh para ahli dari Indonesia. "Setelah transfer teknologi, sistem yang ada di dalam satelit harus kita kuasai," ujarnya.

Sistem tesebut di antaranya adalah reaction wheel, star sensor (sebuah navigasi sikap satelit yang dapat menggerakkan kamera), kamera, PCDH (Payload Control Data Handling), transmitter, coding dan encoding dalam pengiriman data.

Dengan sering meluncurkan satelit ke orbit juga berarti Indonesia dapat mengisi slot di luar angkasa. Menurutnya, sangat rugi jika slot di luar angkasa tidak diisi. Sebab, nantinya slot akan dipenuhi oleh satelit dari negara-negara besar.

"Di slot orbit kan bayar, memang sudah diatur slotnya. Tapi kalau tidak dipakai, bisa hilang slot itu, kita harus rebut slot orbit," katanya.(Vivanews/WDN)
Continue reading →

Thursday, September 13, 2012

Lapan Sedang Mengkaji Empat Pulau Untuk Antariksa

Jakarta - Empat pulau, yaitu Biak (Papua), Morotai (Maluku Utara), Nias (Sumatera Utara), dan Enggano (Bengkulu), dikaji untuk menjadi lokasi pembangunan bandar antariksa. Bandar antariksa ini diperlukan seiring dengan kian dibutuhkannya satelit untuk penginderaan jauh dan agar Indonesia tidak lagi tergantung pada teknologi dan bandar antariksa negara lain.

Erna Sri Adiningsih dari Pusat Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa mengatakan hal ini saat menjadi pembicara dalam seminar internasional bertajuk percepatan dan pembangunan ekonomi Indonesia menuju industrialisasi kelautan dan perikanan berkelanjutan, di Ternate, Maluku Utara, Rabu (12/9/2012). Seminar diadakan dalam kaitan Sail Morotai 2012.

Dari kajian awal, menurut Erna, keempat pulau tersebut dinilai layak untuk menjadi lokasi bandar antariksa. Di antaranya karena dekat garis khatulistiwa, berada dekat laut bebas, sehingga bisa meminimalkan risiko akibat peluncuran roket dan potensi bencana seperti gempa dan tsunami.

Erna menjelaskan, di Morotai, Maluku Utara, enam lokasi telah dikaji, yaitu di Tanjung Gurango, Pulau Tabailenge, Bido, Mira, Sambiki, dan Sangowo. Dari keenam lokasi itu, yang lebih cocok untuk bandar antariksa berada di Sangowo atau persisnya tiga kilometer dari Sangowo.

"Lima lokasi lainnya kurang cocok karena sudah ada rencana lahan di sana dipakai pemerintah dan karena topografi yang kurang baik," ujarnya.

Erna mengungkapkan, kajian yang telah dilakukan di keempat pulau itu baru kajian awal. Perlu ada penelitian lebih lanjut sebelum memutuskan lokasi yang tepat untuk bandar antariksa.(Kompas/WDN)
Continue reading →

Tuesday, September 11, 2012

Perbandingan Program Antariksa Antara India Dan Indonesia

Jakarta - Indonesia dan India mendeklarasikan kemerdekaan pada waktu yang hampir sama. Bahkan Indonesia lahir lebih dulu pada 17 Agustus 1945 sedangkan India pada 15 Agustus 1947. Namun prestasi di bidang antariksa kedua negara tersebut jauh berbeda. Ketika India sudah berkali meluncurkan satelit sendiri Indonesia masih belum pernah meluncurkan satelit sendiri.

India memang bintang baru dalam industri antariksa. Mereka telah berhasil mengirim probe pengamatan menuju Bulan, bahkan mereka telah berencana mengirim probe pengamat ke Mars. Bahkan India baru saja sukses meluncurkan misi antariksanya yang ke 100 dengan mengirim dua satelit milik Perancis dan Jepang pada orbitnya.

Raihan prestasi India dalam bidang antariksa dimulai pada 1975 di mana mereka berhasil membuat satelit sendiri. Satelit yang diberi nama Aryabhata tersebut kemudian diluncurkan menggunakan roket Soviet.

Lalu bagaimana Indonesia? Indonesia saat ini tertinggal jauh dalam pengembangan teknologi antariksa. Indonesia pertama kali terlibat dengan dunia antariksa pada 1976 dengan peluncuran satelit Palapa. satelit tersebut sayangnya merupakan buatan Hughes (sekarang Boeing), perusahaan pembuat satelit asal Amerika Serikat.

Ketertinggalan Indonesia dirasa karena kurangnya perhatian pemerintah masa itu pada dunia antariksa. Satelit saat itu hanya digunakan sebagai sarana telekomunikasi. Pemerintah kurang memandang bahwa teknologi satelit dapat digunakan untuk berbagai masalah lain seperti ilmu pengetahuan dan pertahanan keamanan.

Namun semenjak era reformasi perhatian pemerintah sedikit bertambah. Berbagai program telah direncanakan untuk membawa Indonesia menjadi negara yang memiliki teknologi antariksa maju.

Proyek pertama adalah peluncuran satelit lapan A2. Satelit mikro ini merupakan satelit pertama yang murni buatan Indonesia. Satelit ini dapat digunakan untuk pengambilan citra bumi dan monitor lalu lintas kapal. Lapan berencana meluncurkan satelit ini pada 2013 menumpang pada roket India.

Proyek lain yang tak kalah penting adalah penelitian roket. Lapan berencana menguji roket RX 550 miliknya pada akhir tahun ini. RX 550 dirancang untuk pengembangan roket pembawa satelit. Roket ini akan menjadi titik dasar Indonesia sebagai peluncur satelit.

Proyek roket ini cukup rumit karena teknologi propelan (bahan bakar roket), material roket yang tidak dikuasai ilmuwan Indonesia. Keterlambatan pengembangan ini cukup terasa efeknya karena negara seperti India sudah berkali-kali meluncurkan satelit menggunakan roket miliknya. Namun RX 550 adalah bukti komitmen Lapan dan pemerintah dalam pengembangan teknologi antariksa.

Sebenarnya ada proyek lain yang sudah cukup lama direncanakan. Proyek tersebut ialah proyek pembangunan pangkalan peluncuran satelit di Biak, Papua. Pembangunan yang dibangun bersama Rusia ini karena lokasi Indonesia di khatulistiwa sangat menguntungkan dalam peluncuran satelit. Lokasi khatulistiwa akan memudahkan meletakkan satelit pada orbitnya. Namun sayang belum ada kabar lanjutan proyek ini.

Itulah kondisi industri antariksa Indonesia. Pelan tapi pasti Indonesia berusaha mengejar ketertinggalannya dari negara lain.

Sumber : Merdeka
Continue reading →

Friday, August 31, 2012

Satelit Lapan A2 Siap Diluncurkan 2013

Bogor - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) tahun depan siap meluncurkan Lapan A2, satelit kedua buatan Lapan, namun menjadi yang pertama yang dibuat di Indonesia.

"Satelit Lapan A2 telah selesai dibangun dan siap diluncurkan tahun depan," kata Kepala Bagian Humas Lapan Elly Kuntjahyowati di Bogor, Jumat (31/8). Satelit ini akan diluncurkan dengan menggunakan roket milik India dari Sriharikota, India. Satelit Lapan A2 dirancang untuk tiga misi, yaitu pengamatan bumi, pemantauan kapal, dan komunikasi radio amatir.

Satelit ini memiliki sensor "Automatic Identification System" (AIS) untuk identifikasi kapal layar yang melintas di wilayah yang dilewati satelit tersebut. Dengan demikian, Lapan A2 akan memiliki kemampuan untuk memantau lalu lintas wilayah laut Indonesia.

Satelit dengan berat 78 kilogram ini akan mengorbit pada ketinggian 650 km. Pada orbit tersebut Lapan A2 akan melintasi wilayah Indonesia secara diagonal sebanyak 14 kali sehari dengan lama waktu melintas sekitar 20 menit. "Pada orbit tersebut AIS Lapan A2 akan mempunyai radius deteksi lebih dari 100 km dan mempunyai kemampuan untuk menerima sinyal dari maksimum 2.000 kapal dalam satu daerah cakupan," ujarnya.

"Lapan A2 akan mengorbit secara ekuatorial. Nantinya Lapan A2 akan menjadi satelit pemantauan bumi pertama di dunia yang memiliki orbit ekuatorial," katanya.

Menurut dia, pembangunan Lapan A2 merupakan keberhasilan bangsa Indonesia dalam mengembangkan teknologi antariksa. Awal keberhasilan ini, ditandai dengan dibangunnya satelit pertama buatan Indonesia sebelumnya, Lapan-Tubsat. Satelit yang diluncurkan pada 2007 dari India tersebut, lanjut dia, hingga kini masih beroperasi dengan baik, padahal awalnya diperkirakan usianya hanya mencapai dua tahun.

"Lapan-Tubsat murni buatan para peneliti dan perekayasa Lapan meskipun pembangunannya bekerja sama dengan Technische Universitat Berlin di Jerman," katanya. Keberhasilan pembangunan Lapan-Tubsat ini, menurut dia, kemudian memberikan semangat bagi Lapan untuk mengembangkan satelit berikutnya yaitu Lapan A2.

"Lapan A2 ini sepenuhnya dibangun di Pusat Teknologi Satelit Lapan di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat," tambahnya.

Lapan A2 merupakan satelit yang sama dengan Lapan-Tubsat, namun, memiliki sensor yang lebih ditingkatkan dibandingkan satelit pendahulunya.(MetronewsTV/WDN)
Continue reading →

Sunday, August 12, 2012

Lulus Uji, Satelit A2 LAPAN Siap Diluncurkan

Bandung - Ada kabar gembira dalam penutupan RITech Expo, Sabtu (11/7/2012) hari ini. Satelit kedua yang dikembangkan LAPAN, LAPAN A2 siap diluncurkan tahun 2013 mendatang.

Sebagai bentuk perayaan siap diluncurkannya satelit itu, Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta diwakili oleh Sekertaris Menristek, Mulyanto, menandatangani prasasti LAPAN A2.

"Penandatanganan ini menandai selesainya proses pembuatan dan segala uji yang dilewati satelit ini," ungkap Bambang S. Tejasukmana, Kepala LAPAN.

Bambang menguraikan, satelit LAPAN A2 telah melewati uji Automatic Position Reporting System (APRS), tes sel surya, uji pusat gravitasi, uji gaya magnetik, uji air bearing, uji transportasi dan uji getar.

Satelit Lapan A2 sepenuhnya karya LAPAN. Lapan A2 merupakan satelit yang sama dengan Lapan-Tubsat. Namun, satelit ini memiliki sensor yang lebih baik dibandingkan satelit pendahulunya.

Misi utama Lapan A2 ialah mitigasi bencana. LAPAN A2 punya Automatic Identification System (AIS) untuk identifikasi kapal yang melintas di wilayah yang dilewati satelit.

Berkaitan dengan selesainya pengembangan dan uji satelit itu, LAPAN akan meluncurkannya tahun 2013. Peluncuran akan dilakukan dengan roket India.

Selain penandatanganan prasasti Lapan A2, ditandatangani pula prasasti Lapan S-UAV 01 dan RHAN-122. Lapan S-UAV 01 adalah pesawat tanpa awak yang digunakan untuk surveillance. Sementara itu, RHAN-122 merupakan roket berdiameter 122 milimeter. Roket hasil kerja sama Lapan, Kementerian Ristek, dan TNI AD tersebut telah diproduksi dan diuji di Puslatpur TNI AD Baturaja, Sumatera Selatan.(KOMPAS/WDN)
Continue reading →

Tuesday, July 24, 2012

TNI AL Gunakan UAV Dan Satelit Buatan Lapan

Jakarta - TNI Angkatan Laut (AL) mulai me manfaatkan teknologi penginderaan jauh seperti pesawat tanpa awak (UAV) serta satelit dalam mendukung tugas dan misinya.

Pemanfaatan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kedirgantaraan bekerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) ini diharapkan semakin memperkuat pengamanan wilayah laut dan pengawasan pulau-pulau terpencil Indonesia. Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno mengungkapkan, pemanfaatan teknologi penginderaan jarak jauh menjadi bagian dari program jangka panjang dalam kerja sama TNI AL dengan Lapan.

Teknologi tersebut akan dimanfaatkan dalam tugas-tugas misi TNI AL demi menjaga kedaulatan negara seperti pengawasan kapalkapal yang melintas di wilayah perairan Indonesia. ”Juga nanti untuk mengawasi pulau-pulau terluar,” katanya seusai penandatanganan naskah kerja sama di Mabes TNI AL, Jakarta, kemarin. Kerja sama itu meliputi bidang penelitian, pengkajian, pengembangan, dan pemanfaatan iptek kedirgantaraan.

Iptek kedirgantaraan tersebut di antaranya mencakup pengideraan jauh, sains dirgantara , dan teknologi kedirgantaraan. Kerja sama ini juga meli puti pertukaran ilmu pengetahuan, data, informasi, tenaga ahli, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Untuk program pemanfaatan teknologi penginderaan jarak jauh tersebut dikembangkan dalam kurun lima tahun dan diperpanjang lagi hingga dicapai teknologi yang sesuai ke inginan.

Selanjutnya teknologi itu dimanfaatkan untuk memperkuat alat utama sistem senjata (alutsista) yang sekarang ini sudah dimiliki TNI AL. ”Kapal kita sekarang ini mempunyai indera untuk yang dekat, kemudian punya pesawat terbang untuk menambah jangkauannya nanti. Dari Lapan menambah lagi jangkauan nya dengan pesawat tanpa awak (UAV),” katanya. Menurut dia, pemanfaatan UAV akan sangat membantu kelancaran misi TNI AL. Selain bisa digunakan untuk pengawasan, teknologi itu juga mampu mendukung sasaran tembak.

Karena itu, Soeparno menilai kerja sama ini akan sangat membantu penguatan pengamanan laut. ”Khusus untuk hal itu tidak ada anggaran,” ujarnya. Kepala Lapan Bambang S Tedjasukmana menerangkan, antariksa merupakan in frastruktur penting untuk pertahanan sehingga pengem bangan tidak terbatas pada waktu.

”Proyeksi ini akan terus diulang. Lima tahun diulang lagi sampai jelas bentuknya,” ujarnya. Untuk tahap lima tahun pertama akan difokuskan pada penginderaan jauh, pemantauan pulau kecil, dan pemanfaatan satelit untuk kegiatan TNI AL.(SINDO/WDN)
Continue reading →

Tuesday, June 5, 2012

Satelit Lapan A2 Akan Diluncurkan Bulan Agustus 2012

Jakarta - Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Soewarto Hardhienta mengatakan LAPAN akan mengorbitkan satu satelit bikinan Indonesia pada Agustus mendatang.

»Itu satelit seluruhnya bikinan Indonesia,” kata Soewanto di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senin siang, 4 Juni 2012.

Satelit yang akan diorbitkan itu diberi nama LAPAN-A2. Ia mengatakan LAPAN menyertakan tiga perangkat utama dalam satelit tersebut. Perangkat pertama adalah pemotret Bumi. Nantinya Indonesia bisa memotret Bumi dari angkasa dengan satelit tersebut.

Perangkat kedua adalah pembaca sinyal kapal. Dengan perangkat tersebut, pemerintah bisa mengetahui setiap kapal besar yang memasuki wilayah perairan Indonesia. »Kapal secara otomatis mengirim sinyal yang akan ditangkap satelit,” kata Soewarto.

Kapal-kapal yang mampu dilacak oleh satelit itu umumnya adalah kapal besar. Satelit belum bisa menangkap keberadaan kapal nelayan kecil yang umumnya terbuat dari kayu. »Selama ada pengirim sinyal, bisa dilacak,” katanya.

Perangkat ketiga adalah penunjang komunikasi radio amatir. Perangkat tersebut akan sangat berguna bagi proses penanggulangan bencana. Ini untuk menjamin alat komunikasi radio amatir tetap menyala dalam situasi genting. »Kalau saat bencana, umumnya alat komunikasi konvensional mati,” ujarnya.

Satelit tersebut akan diorbitkan menggunakan sebuah roket peluncur satelit dari India. Soewarto mengatakan Indonesia belum menguasai teknologi roket peluncur satelit, sehingga pengorbitan satelit dilakukan di India.(Yahoo/WDN)
Continue reading →

Thursday, February 23, 2012

Lapan Akan Luncurkan Satelit A2 Akhir Tahun Ini

Bogor - Setelah berhasil meluncurkan satelit mikro jenis Lapan-Tubsat pada 2007 lalu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berencana meluncurkan satelit jenis Lapan A2 di India akhir tahun ini.

Kepala Lapan Bambang Setiawan Tejakusuma mengungkapkan, keberhasilan mengorbitkan satelit Lapan-Tubsat memberi semangat bagi pengembangan satelit berikutnya di Indonesia. Dalam hal ini Lapan telah mengembangkan dua satelit, yakni Lapan A2 yang berorbit ekuatorial dan Lapan A3 berorbit polar. “Karena orbitnya yang ekuatorial, Lapan A2 akan melewati wilayah Indonesia 14 kali per hari.Peluncuran A2 dilakukan menggunakan roket India,”ujar Bambang di Bogor kemarin.

Bambang mengaku belum dapat menentukan kepastian tanggal peluncuran A2 karena menunggu India. Ini terkait dengan posisi satelit yang hanya sebagai penumpang di roket India yang lebih besar.Perkiraan peluncuran dilakukan pada akhir tahun. “Ditargetkan antara September hingga Desember 2012 meluncur ke orbit,” ujarnya. Satelit A2 merupakan satelit kedua bikinan Lapan yang akan diluncurkan ke orbit setelah satelit Lapan-Tubsat (A1) diluncurkan lima tahun lalu dan saat ini masih mengorbit. Satelit A2 membawa misi utama untuk melakukan observasi bumi dan alat komunikasi penanganan bencana.

Satelit ini dimuati video RGB camera surveilance,sistem deteksi kapal laut automatic identifiction system (AIS), dan alat komunikasi Organisasi Amatir Radio Republik Indonesia (Orari) untuk penanganan bencana. A2 juga bisa dipakai sebagai alat pertahanan negara. Bambang mengungkapkan, satelit Lapan-Tubsat yang diluncurkan pada 10 Januari 2007 dari Sriharikota, India, merupakan keberhasilan bagi bangsa Indonesia. “Indonesia patut berbangga karena satelit pertama buatan anak bangsa ini sudah lima tahun mengorbit. Banyak satelit mikro sejenis Lapan-Tubsat hanya mampu bertahan mengorbit di angkasa selama dua tahun,” paparnya.

Menurut Bambang, satelit eksperimen berukuran kecil dengan bobot 57 kg itu mampu mengorbit di ketinggian 650 km.“Satelit ini berorbit polar atau mengelilingi bumi dengan melewati kutub dan melintasi wilayah Indonesia sebanyak dua kali per hari,”jelasnya. Satelit Lapan-Tubsatini telah menghasilkan berbagai video pemantauan bencana seperti gunung meletus, pemantauan kebakaran hutan, dan pemantauan permukaan bumi. “Keberhasilan ini merupakan bukti keandalan para peneliti dan perekayasa Lapan,” imbuhnya.

Ketua Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia Indradi mengaku bangga dan mengapresiasi program Lapan yang akan kembali meluncurkan satelit andalannya untuk kepentingan bangsa. Sebab, selama ini Indonesia masih bergantung pada negara luar untuk pengambilan video dan foto dari angkasa.

“Kami mendukung sekali upaya Lapan dalam mengembangkan sejumlah satelitnya. Ini merupakan lokomotif untuk menyatukan semua kemampuan yang dibutuhkan bangsa semisal pertanian, kehutanan, penataan ruang, mitigasi bencana,dan banyak lagi manfaatnya,”jelasnya.(SINDO/WDN)
Continue reading →

Wednesday, February 1, 2012

Laksamana TNI AL : Saya Berharap Kemhan Melakukan Pengadaan Satelit Militer

Jakarta - Salah-satu instrumen penting untuk operasi intelejen adalah adanya teknologi satelit. Dalam berbagai operasi penting di negara maju, satelit memegang peranan yang sangat vital. Dan Indonesia masih sangat terbelakang.

Hal itu dikatakan penerbang senior TNI-AL, Laksma TNI (purn) Eddy Tumengkol kepada Waspada Online hari ini. "Satelit memberikan kemampuan kepada tiap markas militer untuk menyaksikan serta mengendalikan aktivitas pasukan di lapangan," kata Eddy.

Mantan Atase Pertahanan RI di AS dan Australia itu mencontohkan, operasi rahasia AS menangkap Osama bin Laden, hanya mungkin dilakukan dengan penggunaan satelit. Dimana terjadi komunikasi intens antara markas pengendali dan petugas di lokasi. Operasi itu disaksikan langsung oleh petinggi Gedung Putih dan dikendalikan langsung secara taktis oleh pimpinan tugas yang bersangkutan, katanya.

"Seharusnya Mabes TNI, Mabes tiap angkatan; Mabes Polri, Markas Bakorkamla, Markas BIN, Kantor Kepresidenan dan sebagainya, dilengkapi dengan ruang kendali operasi," Eddy berpendapat.

Dari ruang kendali ini, lanjut Eddy, semua operasi di lapangan (darat, laut, udara) yang berlangsung dapat disaksikan langsung sekaligus dijalin komunikasi dengan petugas di lapangan. Dan ruang kendali itu harus dilengkapi dengan teknologi satelit. "Tapi sayangnya, sistem pendukung seperti satelit tidak pernah dibahas dalam berbagai forum Hankam kita. Selalu saja alutsista yang dibicarakan. Sementara, hal penting lain seperti dilupakan."

Fasilitas pendukung seperti satelit dan optimalisasi kemampuan personil pengguna seakan luput dari perhatian. "Seakan-akan para pemikir Hankam kita kurang tanggap akan perkembangan seni perang dan segala elemen pendukungnya," tambah Eddy.

Meski tidak tersedia informasi dan bukti pasti, dalam hemat Eddy, dengan teknologi satelit, tidak mengherankan bila Singapura dan Malaysia bisa mengikuti segala kegiatan yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia secara bebas. Dan Indonesia sama sekali tak dapat mencegahnya. "Sebaiknya Indonesia mengadakan kerja sama dengan negara-negara yang sudah lebih jauh dalam penggunaan satelit serta fasilitas canggih lainnya," usul Eddy.

Menurut Eddy lagi, kerja sama itu sangat penting, karena nanti, satelit juga bisa dimanfaatkan untuk bidang-bidang non-Hankam, seperti perhubungan dan industri.

Jaleswari Pramodhawardani, peneliti LIPI dengan spesialisasi bidang pertahanan dan militer, mengatakan hal yang serupa. Berbeda dengan radar, teknologi satelit ini merupakan sistem pemantau situasi sebuah wilayah yang menggunakan pencitraan satelit. Teknologi ini mampu menangkap gambar secara nyata dan real time.

"Sebaiknya TNI dan Kemhan memasukkan ini dalam Renstra yg diterjemahkan dalam MEF," katanya kepada Waspada Online.(Waspada/WDN)
Continue reading →

Tuesday, October 25, 2011

Rusia Menindak Lanjuti Pembangunan Peluncuran Satelit Di Biak

Biak - Pemerintah Rusia melanjutkan pembangunan fasilitas dan peluncuran satelit udara di kawasan Bandara Frans Kasiepo Biak, Papua. Ketua DPRD Biak Numfor Nehemia Wospakrik mengatakan, Rusia sudah membentuk tim khusus untuk melanjutkan proyek tersebut. Ini setelah dirinya mendapatkan informasi dari Wakil Duta Besar Rusia Bidang Perdagangan.

"Informasi yang kita peroleh bahwa menyangkut rencana peluncuran satelit di Biak ini, sudah pada tahap sangat serius. Ini berarti ada perkembangan yang cukup positif. Untuk itu kita semua berharap proyek ini bisa berjalan. Karena selama ini berada dalam tataran kementerian teknis terkait, tapi kini sudah pada tahap tim khusus yang dibentuk di kepresidenan Rusia. Dan dari informasi yang kita peroleh, kemungkinan akan ada pembiayaannya dari Pemerintah Rusia untuk proyek airlunch di Biak ini."

Ketua DPRD Biak Numfor Nehemia Wospakrik juga mengatakan, pekan ini dilakukan persiapan teknis penandatangan nota kesepahaman atau MoU, antara Indonesia dengan Rusia terkait pembangunan fasilitas satelit di Biak. MoU itu baru diteken November mendatang di Jakarta. Pemeritah Indonesia diwakili Menteri Perekonomian Hatta Radjasa, Bupati dan DPRD Biak, serta Kadin Indonesia.(KBR68H/WDN)
Continue reading →

Wednesday, August 10, 2011

Indonesia Sudah Mandiri Membuat Satelit

Jakarta - Tim perekayasa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional tengah menyelesaikan desain dan rancang bangun satelit mikro Lapan A2. Pembuatan satelit komunikasi dan pengindraan jauh ini di Pusat Teknologi Satelit Lapan di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, akan selesai pada September 2011.

"Keberhasilan ini menjadi bukti kemajuan kita untuk mencapai kemandirian dalam pembuatan satelit," kata Kepala Lapan Bambang Tedja Sumantri, Selasa (9/8/2011).

Menurut rencana, satelit Lapan A2 akan diluncurkan dari tempat peluncuran roket di India pada Januari 2012. Satelit ini akan ditumpangkan pada peluncuran satelit milik ISRO-India. Untuk pengiriman satelit ini ke India juga telah dipersiapkan kargo khusus.

Satelit ini akan beredar di orbit khatulistiwa dan memiliki jangkauan lebih lebar. Berbeda dengan generasi terdahulu, Lapan A2 telah dilengkapi dengan sistem identifikasi otomatis. "Dengan sarana ini, satelit dapat memantau pergerakan kapal laut yang lewat wilayah Indonesia berdasarkan sinyal yang dipancarkannya," tutur Bambang.

Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan Soewarto Hardhienata menambahkan, pihaknya telah melakukan pengujian komponen muatan satelit tersebut.

Sementara itu, untuk peluncuran berikutnya dipersiapkan pula satelit pencitra di orbit polar. Semula satelit mikro yang menggunakan sistem optik ini akan diluncurkan bersamaan dengan satelit Lapan A2, tetapi karena kendala teknis, diputuskan perubahan ke orbit polar.

Satelit mikro ini dilengkapi dengan kamera high density television (HDTV). Pengujian kamera ini telah dilakukan dengan menumpangkannya pada pesawat terbang.

Terkait dengan pengoperasian satelit ini, dilakukan pula modifikasi rekayasa stasiun penerima agar mampu menangkap sinyalnya pada S-band.(KOMPAS/WDN)
Continue reading →

Saturday, May 7, 2011

Rusia Meminta Indonesia Untuk Segera Mengunakan Sisa KE 2007


Suasana pertemuan Delegasi Kunjungan Kerja Komisi I DPR RI dengan Federal Security on Military and technical Cooperation (FSMTC) Negara Federasi Rusia.

Moscow - Komisi I DPR RI di bidang pertahanan melakukan pertemuan dengan Pimpinan Federal Security on Military and Technical Cooperation (FSMTC), Delegasi Kunjungan Kerja Komisi I DPR RI mendapatkan komitmen pihak Russia pembangunan fasilitas service maintenance center atas alutsista yang diimpor Indonesia dari Negara Federasi Rusia.

Delegasi menyampaikan kepada FSMTC Negara Federasi Russia bahwa mengingat kerjasama teknis militer yang telah begitu erat terjalin antara Indonesia dengan Negara Federasi Rusia selama lebih dari setengah abad ini, maka adalah sangat perlu untuk mengembangkan kerja sama agar makin erat dan makin menguntungkan bagi kepentingan nasional kedua negara.

Delegasi juga mengharapkan dukungan FSMTC Negara Federasi Rusia untuk segera membantu terealisasikannya peran BUMNIP (Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan) Indonesia untuk dijadikan mitra lokal dalam proses maintenance, repair dan overhaul seluruh peralatan militer yang diimpor Indonesia dari Rusia.

Hal ini sangat penting dalam rangka proses transfer of technology (ToT) kepada BUMNIP Indonesia sehingga pada saatnya nanti BUMNIP kita dapat secara mandiri menjadi agen maintenance, repair dan overhaul seluruh peralatan militer yang dimiliki Indonesia.

Isu lain yang mengemuka saat pertemuan dengan FSMTC, dimana pihak FSMTS meminta pihak Indonesia untuk segera merealisasikan kesepakatan kredit pembelian Alutsista yang disepakati pada tahun 2007 sebesar 1 miliar Dollar AS dimana sampai dengan saat ini baru terealisasi 1/3 (sepertiga) dari nilai kesepakatan tersebut.

Dalam kaitan ini, Pihak FSMTC sangat mengharapkan Indonesia agar segera menentukan Alutsista mana yang akan dibeli mengingat dalam proses pembuatan Alutsista dengan tekhnologi tinggi akan memerlukan waktu sedikitnya 2 tahun.

Delegasi menyampaikan pula agar hal ini menjadi nilai dukung untuk segera dibukanya service maintenance center di Indonesia.


Selain pertemuan dengan Kementerian Luar Negeri dan FSMTC Negara Federasi Rusia, Delegasi Kunjungan Kerja Komisi I DPR RI juga mengadakan pertemuan dengan Institute Studi Asia Afrika (ISAA) Pusat Studi Ketimuran dimana Delegasi sempat bertemu dengan Rektor ISAA dan mahasiswa Rusia yang sedang belajar Budaya dan Bahasa Indonesia.

Pada kesempatan ini, Delegasi menyatakan penghargaan yang sedalam-dalamnya mengingat studi tentang Indonesia telah ada sejak awal pendirian institute ini. Delegasi juga menekankan bahwa dengan mempelajari budaya dan bahasa suatu bangsa maka akan makin menyuburkan tumbuhnya saling pengertian antara bangsa Indonesia dan bangsa Rusia sehingga pada gilirannya akan menjadi mesin pendorong kerja sama kedua negara yang lebih erat kedepannya.

Delegasi Kunjungan Kerja Komisi I DPR RI ke Russia juga berkesempatan untuk mengunjungi Ria Novosti (Kantor Berita Rusia). Di Kantor Berita Ria Novosti tersebut, Delegasi diajak melihat-lihat kantor dari mulai ruang pembuatan berita dari berbagai belahan dunia, ruang editor dan tempat launching berita.

Delegasi ditemui oleh Pimpinan Editor, Mrs. Stevana Mironyuk, dan Direktur Mr Nikoly Birunkov, dan mendapatkan informasi mengenai perkembangan Kantor Berita Ria Novosti sejak awal pembentukannya tahun 1941 sampai dengan sekarang dimana pada awal pendiriannya sebagai corong pemerintah dan sekarang berubah total menjadi perusahaan Media Massa yang bebas meskipun untuk pembayaran gaji karyawan dan pemeliharaan gedung dan peralatan Ria Novosti masih disuplay Pemerintah sebesar 70% dari total anggaran, namun Ria Novosti telah mampu menjadi media massa yang mandiri dan tidak lagi menjadi corong pemerintah.

Dalam pertemuan dengan Retsesnev, Pabrik Pembuatan Satelit Telkom-3, dan PT Telekomunikasi Indonesia, Delegasi mendapatkan informasi mengenai kebutuhan atas satelit Telkom-3 yang nantinya dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia terlebih yang belum terjangkai oleh jaringan fiber optik. Satelit telkom 3 akan memiliki kapasitas 42 transponder aktif yang terdiri dari 24 transponder berkapasitas 36MHz Standar C-Band 8 transponder extension C-Band masing2 54MHz dan 4 transponder Ku-Band masing-masing 36MHz dan 6 transponder Ku-Band masing2 kapasitas 54MHz.

Satelit ini rencananya akan diluncurkan pada bulan Nopember tahun 2011 ini di Boikonur, Kazakstan. Delegasi juga diyakinkan adanya upaya transfer of technology dari proses pembuatan satelit telkom-3 ini dengan keterlibatan 10 (sepuluh) orang pejabat Lapan dan PT Telkom Indonesia untuk memantau pembuatan satelit telkom-3.(DPR.RI/WDN)
Continue reading →

Wednesday, May 4, 2011

Satelit Telekomunikasi Tersebut Hanya Untuk Pemerintah

Bandung - Satelit telekomunikasi yang rencananya akan dibuat oleh Kementerian Riset dan Teknologi hanya diperuntukan bagi pemerintah. Pihak swasta tidak akan dilibatkan.

Alasan peruntukan ini, diungkapkan oleh Engkos Koswara, Staf Ahli Bidang Teknologi Informasi, Komunikasi dan Transportasi, Kemenristek karena tidak ingin membunuh bisnis telekomunikasi di Indonesia.

"Ini hanya untuk pemerintah. Mungkin nanti namanya Broadband Goverment Telekomunication Satelite. Atau apalah nanti kita pikirkan namanya. Yang jelas ini peruntukannya hanya untuk pemerintah," katanya saat berbincang dengan detikINET di Novotel Bandung.

Alasan Engkos tidak mau melibatkan pihak swasta dalam proyek ini adalah karena teknologi yang dipergunakan bisa menjadi 'pembunuh' bagi industri telekomunikasi di Indonesia.

"Kalau dilempar ke swasta itu bisa mati semua. Ini killer teknologi bagi bisnis telekomunikasi. Karenanya kita benar-benar akan gunakan ini untuk kepentingan pemerintah saja. Tidak untuk komersil," paparnya.

Teknologi yang nantinya akan ditanamkan dalam satelit ini, sambungnya, akan memungkinkan penggunaan pita lebar. Bahkan cakupannya bisa seluruh Indonesia.

"Kecepatannya bisa mencapai 191 Gbps dengan cakupan seluruh Indonesia. Tinggal ground stationnya saja kita pasang. Dan ground station tersebut menggunakan teknologi terbaru. Bentuknya kecil tidak besar seperti yang dulu," terangnya.

Kemenristek berencana membuat satelit komunikasi ini bersama dengan ITB. Rencananya dalam 3 tahun mendatang, satelit ini bisa mengangkasa. Masa pakai satelit ini bisa mencapai 15 tahun.

"Untuk urusan itu kita kan punya slot. Tapi slot satelit harus dari Kominfo. Satelit Garuda 1 kan sudah mati. Kita bisa pakai bekas slotnya di atas Sulawesi. Mudah-mudahan Kominfo mau memberikan. Ini kan buat pemerintah juga," harapnya.(DETIK/WDN)
Continue reading →

Melalui ITB, Menristek Akan Membuat Satelit Telekomunikasi

ilustrasi

Jakarta - Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) saat ini tengah menggodok rencananya untuk membuat satelit telekomunikasi yang bisa digunakan untuk pemerintah.

Hal ini diungkap oleh Prof. Dr. Engkos Koswara N., M.Sc, Staf Ahli Bidang Teknologi Informasi, Komunikasi dan Transportasi, Kementrian Riset dan Teknologi saat berbincang dengan detikINET di sela acara ASEAN Workshop to Draft The Implementation Plans of Commite in Science and Technology (COST) Flagship Programmes.

Menurutnya, saat ini pihaknya tengah menggodok rencana pembuatan satelit telekomunikasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Biaya komunikasi yang terlalu mahal menjadi landasan pembuatan satelit tersebut.

"Kita sudah ngobrol dengan tim ITB. Kebutuhannya mendesak karena komunikasi di kita terlalu mahal," katanya saat ditemui di Novotel Bandung, Jalan Cihampelas, Selasa (3/5/2011).

Engkos menambahkan, selama ini biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk komunikasi sangat besar. Besarnya biaya ini dikarenakan harus menyewa bandwith.

"Informasinya, untuk Jardiknas saja perlu Rp 200 jutaan buat sewa bandwith. Kalau kita punya sendiri pasti lebih murah karena tidak perlu bayar sewa ke luar," katanya mencontohkan.

Keseriusan Kemenristek dalam membuat satelit ini pun dibuktikan oleh Engkos dengan menggandeng pihak-pihak yang terkait. Khususnya instansi pemerintah yang membutuhkan akses komunikasi.

"Minggu depan saya akan bicara dengan pihak lain yang berkepentingan. Seperti Migas, Hankam, Diknas, Dinkes, TNI dan Polri. Mereka ini kan juga membutuhkan. Ayo kita sama-sama duduk bareng, membicarakan ini," katanya.

Selain Kemenristek, LAPAN juga tengah menyiapkan satelit. Namun satelit ini adalah satelit terestrial. "LAPAN juga lagi buat. Tapi satelit terestrial. Mudah-mudahan sih ada komunikasinya juga. Jadi kan bisa membantu," harapnya.

Di masa lalu, Indonesia termasuk sebagai negara yang mampu memproduksi satelit. Bahkan menempati posisi nomer 3 di Asia yang mampu membuat satelit.

"Dulu kita nomer tiga loh. Sekarang kenapa ngga bisa? Bisa dan harus bisa terealisasi satelit ini," katanya saat ditanya kemungkinan keberhasilan proyek ini.(DETIK/WDN)
Continue reading →

Sunday, April 10, 2011

LAPAN Luncurkan Prangko Satelit dan Roket Pengorbit Satelit (RPS)

Jakarta - Memperingati keberhasilan dunia dalam bidang antariksa, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional meluncurkan dua prangko seri satelit Lapan-Tubsat dan Roket Pengorbit Satelit (RPS).

Dua prangko seri satelit itu diharapkan akan menjadi pengingat dan semangat Indonesia untuk mewujudkan kemandirian bangsa dalam bidang antariksa, kata LAPAN dalam siaran persnya belum lama ini.

Dua prangko itu bernilai nominal masing-masing Rp2.500.

Lapan-Tubsat merupakan satelit buatan Indonesia atas kerjasama dengan Technische Universitat Berlin, Jerman, dan diluncurkan pada 2007.

Sekarang Lapan sedang mengembangkan tiga satelit, Lapan A2, Lapan-Orari, dan Lapan-IPB.

Lembaga ini juga sedang mempersiapkan RPS yang akan menjadi kendaraan bagi peluncuran satelit ke orbit. Pembuatan RPS ini diperkirakan selesai dan bisa diluncurkan pada 2014.(ANT/WDN)
Continue reading →

Friday, March 25, 2011

Telkom Siapkan Satelit Baru Dari Rusia

Satelit Telkom-3 senilai total sekitar 200 juta dollar AS sedang disiapkan di pabrik satelit ISS-Reshetnev, Rusia. Selain untuk keperluan komersial, satelit ini juga dimaksudkan meningkatkan kapasitas dan kualitas infrastruktur ICT, serta mendukung sistem pertahanan dan keamanan (militer) pemerintah.

”Telkom-3 akan memperkuat jaringan kami untuk mengatasi kebutuhan saluran yang belum terjangkau jaringan teresterial serat optik,” kata Eddy Kurnia, Head of Corporate Communication Telkom pada sharing session Satelit Telkom 3 dengan para pengguna layanan Satelit Telkom di Jakarta, Kamis (24/3).

Satelit yang akan diluncurkan dengan roket Proton M-breeze itu menggunakan subsistem komunikasi buatan Thales Aleniaspace Perancis. Menurut rencana, Telkom-3 akan diluncurkan akhir tahun 2011. Adapun kapasitasnya setara 42 transponder (setara 49 transponder @36MHz), terdiri atas 24 transponder @36MHz standar C-band, 8 transponder @54 MHz ext C-band, dan 4 transponder @36 MHz + 6 transponder @54 MHz Ku-Band. Cakupan geografis untuk standar C-band Indonesia dan ASEAN, ext C-band Indonesia dan Malaysia, sedangkan Ku-Band Indonesia.

Sekitar 40-45 persen kapasitasnya (sekitar 20 transponder) akan dikomersialkan, sedangkan sisanya menambah kapasitas seluruh layanan Grup Telkom. Sebelumnya, Telkom mengoperasikan Telkom-2 yang diluncurkan 12 November 2005 dengan roket Ariane-5 milik perusahaan Ariane Space di Kouroue, Guyana, Perancis.

Sebelumnya, Indosat meluncurkan satelit Palapa D menggantikan Palapa-C2. Kapasitas satelit Palapa-D sebanyak 40 transponder, terdiri atas 24 standar C-band, 11 extended C-Band, dan 5 Ku-band dengan jangkauan Indonesia, negara ASEAN, Asia Pasifik, Timur Tengah dan Australia.(KOMPAS/WDN)
Continue reading →

Thursday, March 10, 2011

Aset Strategis Harus Disamarkan dari Satelit Asing


Jakarta - Kemajuan teknologi informasi geospasial yang sangat pesat perlu disiasati dalam rangka melindungi kepentingan nasional, kata Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Dr Asep Karsidi.

"Kaitan dengan sistem pertahanan keamanan yang menjadi `concern` kita saat ini adalah informasi geospasial ini sangat mudah diakuisisi oleh satelit, apalagi teknologi satelitnya kita masih tergantung dari luar," kata Asep pada Simposium dan Pameran Teknologi Intelijen Geospasial di Jakarta, Kamis.

Berbagai satelit saat ini merekam secara otomatis seluruh objek di muka bumi dengan sangat detil mencapai 0,2 meter bahkan lebih baik lagi, termasuk kondisi fisik alam Indonesia.

Menurut dia, fakta ini bisa membahayakan kedaulatan bangsa dan harus segera disikapi agar kondisi fisik, alam dan informasi geospasial nasional tidak secara vulgar diketahui pihak asing.

Ia mengatakan, dengan berkembangnya teknologi informasi saat ini kedaulatan menjadi relatif tanpa batas, tetapi secara hukum wilayah kenegaraan, Indonesia tetap memiliki kedaulatan dan punya batas wilayah dan aset strategis yang berkaitan dengan aspek pertahanan keamanan yang harus diamankan.

"Bagaimana jika keberadaan instalasi militer kita terbuka diketahui oleh asing, kan bahaya itu," katanya.

Karena itu, ujarnya, perlu langkah antisipasi agar kondisi riil di lapangan bisa disiasati agar tidak tampak terbuka direkam oleh satelit.

Dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Informasi Geospasial yang saat ini masih dibahas di DPR, ujar Asep, akan dimasukkan pelapisan-pelapisan terhadap data geospasial, mana yang bisa dibuka untuk umum dan mana yang tidak.

"Dalam peta rupabumi itu kita buat `blank` atau alam menyamarkan keberadaan aset-aset strategis tersebut. Tahapannya kini kita sedang melakukan koordinasi dengan semua instansi pemerintah, khususnya militer karena mereka kan yang tahu mana yang benar-benar strategis dan tidak," katanya.

Sementara itu, Deputi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) bidang Teknologi Ken Darmastono menekankan pentingnya kerja sama antara institusi geospasial dan institusi intelijen.

"Kalau mau meniru negara besar, pakar geospasial seharusnya merupakan orang intelijen. Ke depan harusnya begitu. Yang terjadi sekarang pakar geospasial orang sipil, sedangkan di intelijen belum banyak yang mengerti geospasial. Ini harus digabungkan," katanya.

Ia mencontohkan National Geospatial-Intelligence Agency (NGA) yang baru dibentuk beberapa tahun lalu di Amerika Serikat, merupakan bentukan antara Kemhan AS dan CIA dan memberi laporan kepada Presiden setiap hari.

"Kewenangan mereka sangat besar, ini berbeda dengan institusi intelijen geospasial yang ada di sini," katanya.

Informasi geospasial sangat penting bagi pertahanan negara, tegasnya, karena dengan data tersebut, bisa diketahui posisi diri, posisi kawan, posisi musuh, hambatan alam, hambatan buatan manusia, lingkungan sekeliling, batas wilayah dan lain-lain.(ANT/WDN)
Continue reading →

Thursday, March 3, 2011

LAPAN Akan Membangun Pusat Teknologi Penerbangan

Pelantikan Kepala Lapan Bambang Setiawan Tejasukmana yang dipimpin oleh Menristek Suharna Surapranata di Kantor LAPAN di Jakarta, Rabu (2/3). (ANTARA/LAPAN)

Jakarta - Drs Bambang Setiawan Tejasukmana Dipl Ing, Rabu, dilantik menjadi Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menggantikan Dr Adi Sadewo Salatun MSc yang telah memasuki masa pensiun Januari 2011.

Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan Kepala LAPAN yang baru itu dipimpin oleh Menteri Riset dan Teknologi Drs Suharna Surapranata MT di kantor LAPAN di Jakarta.

Dalam pidatonya, Menristek mengatakan bahwa program LAPAN yang sudah ada harus terus dijalankan dan dikembangkan. Dalam pengembangan IPTEK, LAPAN perlu bersinergi dengan berbagai pihak agar peningkatan yang dicapai lebih cepat dan efisien.

Bambang Setiawan Tejasukmana sebelumnya menjabat sebagai Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan LAPAN.

Ditemui usai pelantikan, Kepala LAPAN yang baru itu mengungkapkan bahwa dirinya akan membangun sinergi dengan lembaga lain yang terkait, sehingga LAPAN semakin kuat bila bekerja dalam jaringan.

Menurut Bambang, untuk menciptakan potensi nasional, program LAPAN memerlukan sinergi yang sangat besar. Program kedepan LAPAN diantaranya peluncuran roket, satelit, radar, penginderaan jauh, hingga mengajukan rumusan undang-undang antariksa nasional.

"Kita akan meluncurkan roket untuk program jangka panjang," kata Bambang di Balai pertemuan Dirgantara LAPAN Rawamangun Jakarta

Menurutnya, roket yang bernama RX550 diharapkan akan menjadi basis roket peluncur satelit Indonesia, dimana LAPAN akan melakukan tes statis terlebih dahulu (tes di permukaan guna mengukur kekuatan daya dorong) di daerah Pamengpeuk, Garut, Jawa barat.

LAPAN juga akan meluncurkan dua mikro satelit yang sekarang berada dalam tahap integrasi. Jika India meluncurkan satelitnya pada tahun ini, maka Indonesia juga akan ikut meluncurkan satelit observasi equatorial.

Dalam proses itu LAPAN mempersiapkan satelit untuk ketahanan pangan yang akan membantu pemantauan sawah, hutan. Khusus untuk satelit dan radar yang lebih besar LAPAN bekerja sama dengan pihak asing.antara lain untuk pemantauan kapal dan illegal fishing di wilayah equatorial.

Tetapi, menurut Bambang, hal itu masih bergantung pada persetujuan pemerintah untuk mewujudkan semua program itu karena dananya besar. Hal pertama yang dilakukan LAPAN adalah visibilitas karena anggarannya sudah disiapkan sehingga bisa diuji potensinya seperti apa.

LAPAN kedepan juga akan membangun pusat teknologi penerbangan yang dimulai dari pesawat terbang kecepatan tinggi.

Sedangkan dari sisi penginderaan jauh, Lapan tetap akan membangun satelit berkemampuan menyediakan data. Sementara program perumusan undang-undang antariksa nasional, LAPAN sudah mengajukannya ke Kementerian Hukum dan HAM dan bila sudah selesai akan segera diajukan ke DPR RI.

Selain dihadiri oleh Menristek acara Pelantikan dan serah terima Jabatan itu juga dihadiri Kepala LIPI.(ANT/WDN)
Continue reading →

Total Pageviews

Blog Archive

Labels

Followers