New Maju Indonesia Ku

Showing posts with label Teroris. Show all posts
Showing posts with label Teroris. Show all posts

Wednesday, February 20, 2013

2013, Kemenhan Fokus Penanggulangan Terorisme

Jakarta - Kementerian Pertahanan menyatakan ada dua isu strategis di bidang pertahanan yang menjadi pekerjaan rumah pada 2013. Yaitu, mengenai pembangunan Indonesia Peace and Security Center (IPSC) serta pelaksanaan counter terrorism exercise (CTx) dengan Asean Defence Ministers' Meeting-plus (ADMM plus) pada September 2013.

Hal ini disampaikan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro usai rapat koordinator bidang Politik, hukum dan Keamanan (Polhukam) di Jakarta, Selasa (19/2/2013). Purnomo mengatakan, pelaksanaan IPSC direncanakan selesai pada akhir 2013 atau paling lambat pada semester pertama di tahun 2014.

"IPSC merupakan kawasan 'seven in one', yang meliputi Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (Peace Keeping Center), Pusat Penanggulangan Terrorisme (Counter Terrorism Traning Ground), Pusat Latihan Penanggulangan Bencana dan Bantuan Kemanusian, Pusat Bahasa, Universitas Pertahanan dan pusat olah raga militer," papar dia.

Terkait dengan rencana pelaksanaan Couter Terrorisme Exercise (CTx) ADMM plus, yang nantinya akan dikuti oleh 18 negara, terdiri dari anggota ASEAN dan delapan negara sahabat pada September 2013.

"Latihan bersama ini dimaksudkan untuk menghadapi tantangan kejahatan terorisme yang semakin kompleks maka dalam kerangka ADMM plus melibatkan 10 negara ASEAN dan 8 negara besar sebagai mitra wicara, sepakat mengadakan latihan bersama pada 2013 di Indonesia," katanya.

Kesepakatan tersebut akan digelar pada 19-20 September 2013 di Makassar melalui sidang pada Asean Defence Ministers' Meeting-plus (ADMM plus) The Experts Working Group on Counter Terrorism atau EWG on CT yang diketuai bersama Indonesia dan Amerika.

Dari hasil tersebut sebagai bentuk kesepakatan forum akan pentingnya peningkatan kerja sama di antara negara ADMM -Plus untuk memberantas terorisme.(INILAH/WDN)
Continue reading →

Thursday, October 13, 2011

Standar Prosedur Operasi Penanggulangan Teror TNI-Polisi Akan Disempurnakan

Jakarta - Penyempurnaan standar prosedur operasi penanggulangan teror antara satuan-satuan elit TNI dan Kepolisian Indonesia terus ditingkatkan. Sudah lama disadari bahwa kepaduan di antara kedua kekuatan ini dalam pencegahan dan penanggulangan teror di Tanah Air harus bisa ditingkatkan.

Salah satu arena "pengujian" penyempurnaan standar prosedur operasi ini adalah Latihan Bersama TNI-Kepolisian Indonesia bertajuk Waspada Nusa III 2011. Latihan puncak di lingkungan TNI dan Kepolisian Indonesia ini akan segera dilaksanakan dengan mengambil lokasi simulasi beragam.

Dalam latihan bersama itu, dilibatkan Detasemen Jalamangkara Korps Marinir TNI-AL, Detasemen B-90 Bravo Korps Pasukan Khas TNI-AU, Komando Pasukan Khusus TNI-AD, Gegana Kepolisian Indonesia, dan Detasemen Khusus 88 Kepolisian Indonesia.

Kesiapan latihan bersama TNI-Kepolisian Indonesia ini menjadi perhatian dari Kepala Staf Umum TNI, Letnan Jenderal TNI Suryo Prabowo. Bersama para komandan satuan-satuan elit TNI dan mitra polisinya, mereka memeriksa langsung kesiapan peralatan dan prosedur serta skenario latihan penanggulangan teror di Markas Komando Komando Pasukan Khusus TNI-AD di Cijantung.

Sinergitas berupa pemaduan keunggulan masing-masing satuan elit TNI dan Kepolisian Indonesia menjadi tema penting yang dibahas mereka. Dalam menanggulangi serta mencegah jaringan terorisme, terdapat dua dimensi, yaitu dimensi keamanan dan keselamatan negara serta dimensi penegakan hukum sipil. Yang terakhir ini menjadi ranah polisi sipil.

Model latihan yang diterapkan kali ini cukup berbeda ketimbang yang selama ini dilaksanakan karena juga melibatkan instansi di luar TNI dan Kepolisian Indonesia, yaitu BNPT, pemadam kebakaran, Direktorat Jenderal Bea Cukai, PT Telkom, hingga anggota-anggota satuan pengamanan di lokasi-lokasi yang dijadikan arena berlatih.

Walau tidak diungkap skenario kejadian yang akan dipergunakan, namun laiknya latihan anti teror, urutan kejadian dimulai dari informasi awal dari pelaku teror kepada pihak yang menjadi sasaran. Pihak terakhir ini menghubungi instansi yang berwenang yang berujung pada keputusan dari pemegang otoritas pertahanan dan keamanan negara menggunakan satuan-satuan elit TNI dan Kepolisian Indonesia secara bersamaan untuk menggulung mereka.

Dalam waktu kurang dari satu bulan lagi, Indonesia akan menjadi tuan rumah KTT ASEAN di Nusa Dua, Bali. Paling tidak 16 kepala pemerintahan dan kepala negara akan menghadiri pertemuan puncak yang akan menjadi landasan penting bagi pembentukan Komunitas ASEAN, yang diharapkan bisa sejajar dengan Komunitas Eropa sebagai kaukus kawasan, ekonomi, dan politik.

Selain 10 kepala negara dan kepala pemerintahan anggota ASEAN, tiga negara mitra telah memastikan kehadiran kepala pemerintahannya, yaitu India, Korea Selatan, Jepang, ditambah China. Salah satu tamu negara yang dipastikan juga hadir sekaligus menyita persiapan cukup panjang dari sisi pengamanan, adalah Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.(ANT/WDN)
Continue reading →

Wednesday, October 5, 2011

Presiden : TNI Dan Polri Harus Bersatu Mencegah Aksi Teror dan Kekerasan

Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Tentara Nasional Indonesia (TNI) ikut berperan menjaga keamanan dan keutuhan bangsa. Beberapa waktu terakhir ini Indonesia menghadapi gangguan keamanan seperti aksi terorisme, bentrokan sosial, benturan horizontal, dan kegiatan separatis.

"Saya instruksikan aparat melakukan pencegahan dan tindakan yang efektif terhadap terorisme dan aksi kekerasan," kata SBY dalam sambutannya di Peringatan Hari Lahir ke-66 TNI di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu 5 Oktober 2011.

Presiden SBY mengatakan rakyat tidak boleh mendapat ancaman dan gerakan separatis tidak boleh mengancam keutuhan bangsa. Aparat keamanan dan TNI harus bisa melindungi dan mengayomi masyarakat. "Ini harus dicegah dan dihentikan, keamanan dan keutuhan itu menjadi tanggung jawab kepolisian, tapi TNI bisa ikut mencegah aksi kekerasan dan terorisme," ujar SBY.

Dia mengatakan peran dan tugas yang cukup besar dalam menjaga keamanan dan keutuhan negara merupakan komitmen TNI di masa reformasi. TNI kini telah menjalankan tugasnya secara profesional. Dulu, kata SBY, TNI sering dikritik dalam perannya pada sosial dan politik. Kini TNI murni menjalankan tugasnya sesuai dengan undang-undang, sesuai dengan demokrasi, menghormati aturan hukum (rule of law), dan hak asasi manusia.

Selain TNI dan polisi, SBY juga meminta peran intelijen dalam mengantisipasi segala aksi yang bisa mengancam keutuhan dan keamanan negara. TNI, kata dia, bisa meningkatkan perannya dalam komando teritorial hingga ke daerah.

Dalam upacara Hari Ulang Tahun ke-66 TNI itu Presiden SBY didampingi Ibu Negara Kristiani Herrawati, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Soeparno, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo, dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat.

Peringatan ini dimeriahkan demonstrasi flypass pesawat tempur TNI Angkatan Udara, free fall, bela diri militer Yong Moodo, bela diri militer MAA, rampak bedug, dan tarian Papua. TNI juga memamerkan persenjataan, peluru kendali PORRAD Detasemen Artileri Pertahanan Udara, kendaraan taktis Anoa, roket multilaras 70 Grade Marinir, BMP-3 F, Howitzer, radar portabel Paskhas, dan helikopter TNI.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Thursday, September 15, 2011

Kopassus dan Pasukan Khusus SOCOMD Australia 'Bekuk teroris'

Ilustrasi

Jakarta - Operasi gabungan antara Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI-AD dan pasukan khusus Australia, Spesial Operations Command (SOCOMD) berhasil membekuk dan melumpuhkan kelompok teroris yang menyandera wartawan dari Bogor dan Australia.

Hal itu terungkap ketika operasi gabungan dengan sandi 'Dawn Komodo XI/2011' melakukan latihan bersama di Pulau Kotok Kecil, di Kawasan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, Kamis pagi (15/9).

Dalam skenario latihan itu, operasi gabungan berhasil menyusup dan melumpuhkan kelompok teroris di markasnya dalam waktu semalam guna membebaskan dua orang sandera yang ditahan.

Para teroris menculik wartawan sebagai aksi balasan pascatewasnya aktor intelektual teroris di Pakistan. Tak hanya itu, mereka juga meminta tebusan agar kawan mereka yang tertangkap, Ali bin Bahar, dibebaskan.

Bertindak sebagai komandan 'Operasi Dawn Komodo' adalah Letkol (Inf) Tri Budi Utomo. Gabungan pasukan ini tak lain untuk mengamankan kedua negara dari serangan teroris.

Dalam aksi penyergapan ini, operasi membagi dua unit, yakni tim intelijen dan tim penanggulangan terorisme (Gultor). Tim intelijen yang dipercayakan pada Pasukan Sandha yang merupakan pasukan intelijen dari Kopassus dan juga melibatkan pasukan dari pasukan khusus Australia.

Tugas intelijen, yakni mengumpulkan data awal untuk menemukan lokasi musuh menyandera wartawan. Mereka juga melakukan penyadapan teknik, foto intelijen, pengintaian terhadap musuh, dan mencari jejak melalui sistem GPS.

Intelijen juga melakukan infiltrasi (penyusupan) mulai dari Bogor, ke Serang, Cilegon, Merak, dan memantau pulau yang diduga sebagai tempat teroris menyembunyikan sandera.

Setelah data lengkap, informasi itu kemudian diberikan pada pasukan Gultor atau pasukan inti yang terdiri atas 48 orang, dengan rincian 30 pasukan Kopassus dan 18 pasukan pasukan khusus Australia. Namun, yang benar-benar merangsek ke tempat penyanderaan adalah 20 pasukan.

Mereka menggunakan taktik penyerbuan di laut dan bangunan. Ada pun untuk bisa mencapai lokasi tanpa diketahui musuh, mereka menggunakan empat unit kapal LCR. Begitu mendekati target, mereka mencapai lokasi dengan berenang, baik di atas maupun di bawah air.

"Penyergapan berjalan lancar, semua teroris bisa dilumpuhkan dan kami bisa menyelamatkan semua sandera," kata Komandan Satuan 81 Kopassus, Kolonel (Inf) I Nyoman Cantiasa sebagai penanggung jawab latihan penanggulangan teroris di Kepulauan Seribu, Kamis.

Penyerbuan teroris itu memang hanya latihan, namun Tri menyatakan, selain mempererat hubungan bilateral , latihan ini juga sebagai ajang latihan bersama antara Kopassus dan pasukan khusus Australia.

"Operasi Dawn Komodo kali ini adalah yang ke-11 kali bersama Australia. Dengam fokus latihan kami kali ini adalah menangkal terorisme di wilayah maritim," katanya seraya

mengatakan pada latihan sebelumnya, operasi dikhususkan pada pengamanan di bandara. Menurut Kolonel Cantiasa, latihan ini dilakukan untuk menguji teknik dan taktik militer di jajaran intelijen dan gultor pada pasukan khusus kedua negara.

"Latihan melibatkan sebanyak 74 prajurit yang terdiri atas 40 prajurit pasukan Indonesia dan 34 prajurit Australia. Total waktu latihan adalah 11 hari dari 6 hingga 15 September 2011," ujarnya.

Latihan ini juga dipantau Wakil Danjen Kopassus Brigjen TNI Doni Monardo dan Komandan Pasukan Khusus Australia Mayor Jenderal P.W (Gus) Gilmore.(Republika/WDN)
Continue reading →

Thursday, August 4, 2011

Menhan: Gerakan Separatis Di Papua Akan Ditindak Tegas

Jakarta - Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro menegaskan, pihaknya akan menindak tegas terhadap aksi-aksi kekerasan yang terjadi belakangan ini hingga menimbulkan korban jiwa di Papua, termasuk anggota TNI oleh gerakan Separatis.

"Bila persoalan di Papua menyangkut gerakan separatis, kita akan mengambil tindakan tegas karena sesuai dengan misi Kementerian Pertahanan yakni menjaga Kedaulatan dan Keutuhan NKRI serta keselamatan bangsa," kata Menhan melalui siaran pers yang dikirim kepada ANTARA, di Jakarta, Rabu.

Ia pun mengaku prihatin terhadap banyaknya tindak kekerasan yang terjadi di Papua hingga menimbulkan korban jiwa.

Kemhan mencatat tindak kekerasan di Papua telah menelan korban jiwa sebanyak 23 orang, termasuk 1 anggota TNI dan 1 anggota Brimob.

Tindak kekerasan mulai terjadi pada pada 29 Juli 2011 sekitar 16 orang anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) mendatangi proyek pembangunan Tower TV di Kabupaten Paniai, Papua dimana dua orang pekerja dilarang melanjutkan pekerjaannya.

Kemudian kedua orang tersebut melapor kepada petugas yang akhirnya terlibat baku tembak dengan petugas yang melakukan pengecekan di lokasi kejadian.

Di TKP ditemukan barang bukti berupa amunisi SS1 7 butir, amunisi mouser, sangkur 1 buah, 3 pasang sepatu boot dan dokumen-dokumen OPM.

Bentrokan berdarah juga terjadi pada saat pemilihan kepala daerah (pilkada) di Illaga, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Minggu (31/7), yang mengakibatkan 19 orang meninggal dunia termasuk 1 orang anggota Brimob.

Kemudian di lokasi yang sama, kembali terjadi saling serang kedua pendukung calon Bupati yang mengakibatkan rumah, mobil dinas dan sebuah rumah adat Papua Tabuni mengalami kerusakan serta Kantor KPU di bakar.

Peristiwa berdarah lainnya terjadi pada tanggal 1 Agustus 2011, ketika OPM melakukan penghadangan kendaraan sipil di Kampung Nafri, Abepura-Papua yang menewaskan 4 orang tewas dimana satu diantaranya adalah anggota TNI dan 3 lainnya masyarakat sipil serta mengakibatkan 9 orang lainnya luka-luka.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menyatakan, TNI akan menggunakan pendekatan militer untuk mengatasi sejumlah aksi Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau pihak mana pun yang mengganggu kegiatan TNI.

"Bagi yang menganggu kita gunakan pendekatan militer," katanya usai bersilaturahim dengan para purnawirawan TNI Angkatan Darat di Jakarta, Rabu.

Menurut Edhi, oknum OPM yang menyerang TNI tidak senang dengan kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang dilakukan di Papua, mengingat TNI yang ditembak merupakan anggota yang melaksanakan program TMMD.

"Dalam kegiatan TMMD itu, TNI memilih daerah-daerah yang rawan terpengaruh oleh OPM. Mereka menyerang karena pengaruh kegiatan TMMD," ujarnya.

Kasad menengarai OPM terganggu dengan kegiatan TMMD karena sebelumnya OPM telah menjanjikan kepada warga setempat akan dibangunkan rumah, namun kemudian TNI datang tanpa banyak janji dengan membangun rumah warga melalui TMMD.

Atas insiden penembakan tersebut, pengamanan akan ditingkatkan untuk menghindari kejadian serupa. "Tak boleh ada yang ganggu kegiatan rakyat," kata Pramono menegaskan.

Secara umum Tentara Nasional Indonesia khususnya di satuan kewilayahan, terus meningkatkan kewaspadaan di Papua menyusul rangkaian insiden penyerangan dan penembakan terhadap warga sipil dan anggota TNI oleh kelompok bersenjata di wilayah itu.

"Tidak ada penambahan pasukan TNI baik dari daerah lain maupun Mabes TNI untuk menyikapi situasi di Papua," kata juru bicara TNI Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul kepada ANTARA.

Ia menegaskan, TNI tidak akan gegabah menyikapi perkembangan di Papua meski beberapa anggota TNI telah kerap kali diserang bahkan ditembak hingga tewas oleh kelompok bersenjata yang ditengarai sebagai OPM kelompok lama.

Penyerangan terhadap pos, dan prajurit TNI kerap terjadi di Puncak Jaya, Papua dan mengakibatkan sejumlah prajurit luka-luka dan meninggal dunia.

Terakhir penyerangan terhadap helikopter M-17 milik TNI AD, oleh kelompok bersenjata saat terbang dari Mulia Puncak Jaya menuju Wamena Jayawijaya pada Rabu sekitar pukul 14.15 WIT hingga mengakibatkan bagian bawah heli berlubang.

Sebelumnya, pada Senin (1/8) dalam insiden penghadangan oleh kelompok bersenjata terhadap warga sipil di Abepura, dari empat orang tewas satu diantaranya prajurit TNI yakni prajurit satu TNI Dominikus Keraf.

Pada awal Juli 2011 tiga orang anggota TNI dari Batalion Infanteri 751/BS, juga ditembak kelompok sipil bersenjata di kampung Kalome, distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya. Mereka adalah Prada Kadek, Sertu Deni dan Praka Fauzi.(ANT/WDN)
Continue reading →

TNI Siap Diterjunkan Ke Papua

Jakarta - Walau penyerangan bersenjata kepada warga sipil atau militer hingga menelan korban jiwa makin kerap terjadi di Provinsi Papua, TNI tidak gegabah bergerak melainkan meningkatkan kewaspadaan. Pula siap merespons langsung permintaan Kepolisian Indonesia jika TNI diminta mengatasi aksi komplotan bersenjata di sana.

"Bila Polri meminta bantuan TNI untuk mengatasi aksi kelompok bersenjata itu, kami siap apalagi seluruh satuan kewilayahan TNI di Papua, sudah meningkatkan kewaspadaannya," kata Kepala Pusat Penerangan TNI, Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul, di Jakarta, Rabu.

Seluruh satuan TNI di sana, terutama satuan teritorial setempat, terus meningkatkan kewaspadaan akibat penyerangan bersenjata oleh komplotan tak diketahui.

Sitompul menyatakan, perkembangan di Papua terus diwaspadai sedemikian rupa. Beberapa personel TNI telah menjadi korban --ada yang tewas-- disergap peluru komplotan bersenjata, yang diduga adalah OPM.

"Tidak ada penambahan pasukan TNI baik dari daerah lain maupun Mabes TNI untuk menyikapi situasi di Papua," katanya.

Sesuai dengan undang-undang mengenai ketertiban dan keamanan dalam negeri, TNI menyerahkan sepenuhnya kepada Kepolisian Negara mengusut berbagai insiden penghadangan, penembakan dan penyerangan terhadap warga sipil oleh kelompok bersenjata di Papua.

Rangkaian penyerangan bersenjata itu banyak terjadi di tempat-tempat terpencil secara sporadis. Contohnya
penyerangan terhadap pos dan prajurit TNI di Puncak Jaya, hingga mengakibatkan beberapa personel tewas atau luka-luka tembak.

Paling mutakhir adalah berondongan tembakan terhadap helikopter Mil Mi-17 Pusat Penerbangan TNI-AD, saat terbang dari Mulia Puncak Jaya menuju Wamena, Jayawijaya, pada pukul 14.15 waktu setempat, Rabu.

Berondongan tembakan terhadap helikopter transport tempur buatan Rusia itu membuat bolong fuselage-nya. Akibatnya, Prajurit Satu F Suhandi, tamtama penembak di Batalion Infantri 753/AVT, Nabire, yang seharusnya dievakuasi memakai Mi-17 itu tewas setelah rusuknya ditembus peluru dari bawah.

Padahal, Suhandi yang menjadi anggota Satuan Tugas Pengamanan Daerah Rawan itu justru sebelumnya adalah korban serbuan bersenjata dari komplotan yang memakai cara model gerilya itu.

Mi-17 itu memang bisa selamat mendarat di Bandar Udara Wamena, namun Suhandi akhirnya menghembuskan nafas terakhir dalam penerbangan lanjutan memakai NAS-300 Puma TNI-AU dari Wamena itu.

Masih ada serbuan lain sebelum itu terjadi. Pada Senin (1/8), rombongan warga sipil disergap komplotan bersenjata di Abepura. Seorang personel TNI, diidentifikasi Prajurit Sat Dominikus Seraf, tewas dalam serangan itu selain tiga warga sipil.

Catatan serbuan bersenjata terhadap militer Indonesia makin panjang jika diurut ke belakang. Awal Juli lalu, tiga anggota Batalion Infanteri 751/BS, juga ditembak kelompok sipil bersenjata di kampung Kalome, Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya. Mereka adalah Prajurit Dua Kadek, Sersan Satu Deni dan Prajurit Kepala Fauz.(ANT/WDN)
Continue reading →

Tuesday, August 2, 2011

Lemhannas Gelar Pameran Senjata Dan Seminar Terorisme

Jakarta - Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI mengelar seminar penanggulangan terorisme mulai hari ini, Selasa, 2 Agustus 2011. Seminar yang akan berlangsung selama 2 hari ini menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Wakil Asisten Teritorial Kepala Staf TNI AD Mayor Jenderal Agus Surya Bakti, pengamat terorisme Al Chaidar, Wakil Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Inspektur Jenderal Bekto Soeprapto, pengamat terorisme dari Australia Beliver Singh, serta AS. Hikam dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Pada hari pertama seminar, pembahasan akan difokuskan pada penanggulangan terorisme dengan menggunakan pendekatan secara lunak (soft approach). Seperti penanggulangan terorisme melalui bidang ekonomi, penguatan pendidikan dasar, serta deradikalisasi.

"Seminar ini untuk mendapatkan pembahasan mendalam soal terorisme," ujar Gubernur Lemhannas Budi Susilo Supandji di Gedung Lemhannas.

Seminar juga akan memfokuskan penanggulangan terorisme dengan metode pendekatan keras atau hard approach. Ada tiga cara yang bisa digunakan melalui pendekatan keras ini. Yakni melalui intelijen, pendekatan hukum, dan militer. "Setelah dibahas, naskah seminar akan dikirimkan pada Presiden sebagai masukan kebijakan," ujarnya.

Tak hanya pemaparan dari para pembicara, seminar tersebut juga sekaligus mempertontonkan sejumlah persenjataan untuk penanggulangan terorisme dari Detasemen Khusus Anti Teror Bravo 90 (Den Bravo) Paskhas TNI Angkatan Udara, Detasemen Jalamangkara (Denjaka) Marinir TNI AL, serta Satuan Penanggulangan Teror-81(Sat-81) Kopassus TNI AD. Detasemen Khusus Antiteror 88 Polri juga menampilkan contoh-contoh bom yang digunakan para pelaku teror, seperti dalam kasus Bom Bali, bom buku Utan Kayu, bom Cirebon, dan bom Serpong.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Monday, June 20, 2011

BNPT Gelar Pelatihan Awas Senjata Kimia

Ilustrasi.

Denpasar- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar latihan tanggap serangan teroris bagi sejumlah instansi di Provinsi Bali, Senin, 20 Juni 2011. Latihan terutama untuk mengantisipasi modus baru seperti serangan dengan senjata kimia dan biologi.

Direktur Pembinaan BNPT Rudy Sufahriadi menyatakan pelatihan meliputi kemampuan mendeteksi dengan menggunakan berbagai peralatan. Ada juga materi tentang pemberian pertolongan dan cara mengurangi korban. “Kami memberi perhatian khusus karena ke depan arahnya memang ke serangan jenis itu,” ujarnya di Sanur, Denpasar. Kesimpulan itu diambil juga dari hasil kunjungan BNPT ke Pakistan.

Dari segi dana dan efek yang ditimbulkan, serangan bisa lebih efisien. “Jadi, kita harus siap untuk mencegah maupun menanggulanginya,” ujarnya. Selain dari BNPT, materi juga disampaikan oleh pakar dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Kementerian Kesehatan, PB Pemadam Kebakaran, Puslabfor Polri, dan Paskhas TNI AU.

Sementara peserta berasal dari Kodam IX Udayana, Kepolisian Daerah Bali, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Adpel Pelabuhan Benoa, Bandara Ngurah Rai, dan Linmas Provinsi Bali.

Pelatihan berlangsung atas dukungan Pemerintah Kanada. “Ini wujud dari komitmen mengatasi terorisme di wilayah ini,” kata Irene Wiiliam, Kepala Bidang Politik Kedubes Kanada.

Bali merupakan provinsi yang pertama mendapat pelatihan karena posisinya yang strategis. Sebelumnya, sudah ada 15 pelatihan diberikan kepada instansi-instansi di tingkat nasional. (TEMPO/WDN)
Continue reading →

Tuesday, May 17, 2011

Menhan : Penanganan Teroris Tidak Harus Cuman Tembak - Tembakan

Jakarta - Dalam menangani kasus terorisme, publik sering disuguhi dengan adegan tembak menembak antara para teroris dengan Densus 88. Sebenarnya, menangani teroris tidak melulu dengan tembak-tembakan. Melainkan dibutuhkan aturan yang tegas.

"Kalau orang punya persepsi teroris itu identik dengan tembak tembakan, sebenarnya lebih dari itu. Karena kegiatannya sangat dini dan prosesnya panjang," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Rabu (11/5/2011) malam.

Mantan Menteri ESDM ini memaparkan, diperlukan landasan hukum yang kuat untuk menangani terorisme. Sehingga, langkah-langkah yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait bisa dibenarkan secara hukum.

"Tapi kalau dikasih kepercayaan kepada intel nanti takut disalahgunakan, yang terpenting adalah penanggulangan dini saat masih kader," kata Menhan sembari menambahkan landasan hukum yang kuat tersebut adalah UU Intelijen.

Purnomo menginginkan, upaya-upaya penanggulangan terorisme di Indonesia tidak seperti di Malaysia atau pun Singapura yang keras. Tapi Purnomo lebih menekankan landasan hukum yang tegas.

"Kita tidak mau seperti Malaysia dan Singapura yang hukumnya keras, tapi kita punya landasan yang tegas," tutup Purnomo.(DETIK/WDN)
Continue reading →

Friday, May 6, 2011

Amerika Serikat Gunakan Heli "Siluman"?


Reruntuhan bagian ekor helikopter yang digunakan pasukan Navy SEALs AS untuk menyerang rumah persembunyian Osama bin Laden tampak teronggok di salah satu sudut kompleks rumah di Abbottabad, Pakistan, itu, Senin (2/5). Para pakar penerbangan menduga ini adalah bagian dari helikopter tipe baru yang berkemampuan "siluman".

Washington - Direktur CIA Leon Panetta menyebutkan, dua helikopter Blackhawk digunakan untuk mengangkut tim penyerang rumah Osama bin Laden di Abbottabad, Pakistan, Senin lalu. Namun, reruntuhan helikopter yang jatuh sama sekali tak menunjukkan ciri-ciri helikopter Blackhawk.

Foto-foto reruntuhan helikopter AS yang jatuh dan kemudian diledakkan oleh anggota pasukan khusus Navy SEALs membuat heboh kalangan pengamat dunia penerbangan di internet. Sisa-sisa bagian ekor, yang menunjukkan baling-baling belakang, sirip tegak, dan sayap horizontal, sama sekali tak menunjukkan ciri-ciri bagian ekor helikopter MH-60 Blackhawk, yang biasa digunakan untuk mengangkut pasukan khusus AS.

Salah satu perbedaan paling mencolok adalah di bagian sayap horizontal. Pada Blackhawk biasa, bagian sayap ini berbentuk membulat di bagian depan seperti umumnya sayap pesawat terbang, dengan guratan garis-garis melintang di sepanjang sayap. Sementara di reruntuhan helikopter ini, ciri-ciri bentuk sayap Blackhawk itu tak ditemukan.

Alih-alih, bagian helikopter di Abbottabad ini justru mengingatkan pada bentuk khas pesawat-pesawat "stealth", seperti F-117, yakni permukaan yang mulus berlapis bahan berwarna gelap, dengan bentuk-bentuk menyudut di bagian sisi. Di bagian motor baling-baling terdapat lapisan penutup menyerupai perisai. Jumlah bilah baling-baling pun lebih banyak daripada jumlah bilah baling-baling Blackhawk standar.

Seketika muncul dugaan, pasukan khusus yang menyerbu rumah Osama itu datang menggunakan helikopter baru berteknologi siluman, yang belum pernah diketahui publik.

"Sekarang kita tahu mengapa sulit mengidentifikasi helikopter yang jatuh itu. Itu adalah helikopter siluman yang dikembangkan secara rahasia, yang kemungkinan adalah versi modifikasi lanjut dari seri H-60 Blackhawk," tutur Bill Sweetman, editor majalah penerbangan Aviation Week.

Tak terdeteksi


Perbedaan Antara Helikopter Siluman Dengan Helikopter Black Hawk.

Bahan pelapis dan bentuk-bentuk menyudut khas pesawat siluman itu bertujuan untuk memperkecil bidang pantul radar sehingga pesawat ini sulit dideteksi radar. Sementara jumlah bilah baling-baling yang lebih banyak dan lapisan penutup baling-baling, menurut Sweetman, bertujuan mengurangi kebisingan suara khas helikopter. "Bilah baling-baling yang lebih banyak mengurangi suara ’whop-whop’ (akibat kibasan baling-baling) yang khas," tutur Sweetman.

Salah satu saksi di Abbottabad, yang diwawancara ABC News, mengaku, ia sama sekali tak mendengar suara helikopter-helikopter itu mendekat. Suara helikopter baru terdengar setelah berada tepat di atas kepala. Penggunaan helikopter berteknologi siluman menjelaskan bagaimana pasukan AS bisa masuk jauh hingga pedalaman wilayah Pakistan dan kemudian keluar ke Afganistan tanpa terdeteksi sistem radar pertahanan udara negara itu.

Pejabat Kementerian Luar Negeri Pakistan Salman Bashir mengaku, Angkatan Udara Pakistan menerbangkan dua pesawat F-16 sekitar 35 menit setelah mendeteksi aktivitas asing di wilayah udaranya. Namun, terbukti pesawat-pesawat tersebut tak berhasil menemukan helikopter-helikopter AS.

Pemakaian helikopter yang sangat rahasia itu menunjukkan bagaimana AS memandang misi ini sangat penting dan sensitif. Meski demikian, terungkapnya proyek helikopter siluman ini mengejutkan para pengamat penerbangan.

AS pernah mengembangkan helikopter berteknologi siluman RAH-66 Comanche pada pertengahan 1990-an. Namun, proyek ini dibatalkan pada 2004 karena biayanya yang terlalu tinggi.

Departemen Pertahanan AS waktu itu berjanji akan menerapkan teknologi Comanche untuk melengkapi armada helikopter yang sudah mereka miliki.

Hingga saat ini tak ada konfirmasi resmi dari pejabat AS tentang helikopter misterius di Abbottabad itu.(KOMPAS/WDN)
Continue reading →

Saturday, April 30, 2011

ASEAN Bersama - sama Hadapi Terorisme

Yogyakarta - Pertemuan para pejabat tinggi bidang pertahanan negara-negara anggota ASEAN Plus di Yogyakarta, 27-29 April 2011 di antaranya membahas salah satu isu besar yaitu ancaman terorisme.

Draf yang dibahas dalam ASEAN Defence Senior Officials Meeting (ADSOM) Plus itu adalah konsep kerja sama pencegahan terorisme yang dipimpin Indonesia dan Amerika Serikat. "Indonesia dan Amerika Serikat (AS), bahkan diminta menjadi leading sector untuk memformulasikan program dan kebijakan dalam pencegahan terorisme," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di sela ADSOM Plus di Yogyakarta, Jumat (29/4).

ADSOM Plus adalah pertemuan para pejabat tinggi bidang pertahanan negara-negara yang tergabung dalam ASEAN ditambah delapan negara yang menjadi mitra dialog yaitu AS, Australia, Selandia Baru, India, China, Rusia, Jepang, dan Korea Selatan.

ASEAN adalah Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara beranggotakan sepuluh negara yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, dan Myanmar.

Purnomo Yusgiantoro mengatakan, serangkaian teror bom yang terjadi di Tanah Air mengingatkan Bangsa Indonesia bahwa terorisme masih menjadi ancaman. "Teror itu dapat terjadi sewaktu-waktu, di mana saja, kapan saja dengan pola dan strategi yang terus berubah," katanya.

Di Indonesia, menurut dia, telah terjadi serangkaian peristiwa teror bom dengan pola yang berbeda, dari bom buku, bom bunuh diri, hingga rencana peledakan salah satu rumah ibadah di Serpong menjelang Paskah 2011. "Berbagai isu menyangkut keamanan, itu menandakan bahwa upaya meningkatkan kerja sama pertahanan antara Indonesia dengan negara-negara lain di kawasan regional, khususnya ASEAN dan internasional, harus terus-menerus menjadi fokus perhatian," katanya.

Selain membahas draf kerja sama di bidang pencegahan terorisme, empat isu besar yang juga menjadi fokus pembahasan dalam sidang tersebut adalah keamanan maritim, misi perdamaian, penanganan bencana, dan misi kemanusiaan serta kesehatan militer.

Purnomo mengatakan isu seperti misi kemanusiaan dan penanganan bencana perlu dibahas dalam sebuah konsep kerja sama, karena saat terjadi bencana alam, bidang pertahanan khususnya militer, menjadi pihak yang paling cepat digerakkan untuk menanganinya.

"Sedangkan di bidang keamanan maritim, Indonesia dan negara anggota ASEAN lainnya memiliki kepentingan besar, karena letak geografis negara-negara itu dipisahkan oleh lautan yang juga menjadi jalur pelayaran internasional," katanya.

Indonesia dilalui tiga jalur pelayaran internasional, yaitu di Selat Sunda untuk menuju laut China Selatan, di Selat Lombok, dan di wilayah Indonesia Timur. Keamanan maritim itu, menurut dia juga sangat erat kaitannya dengan penanganan perompakan. "Sejak ada kerja sama antara Indonesia, Malaysia dan Singapura, perompakan di Selat Malaka berkurang drastis," katanya.

Sedangkan di bidang kesehatan militer, kata dia diperlukan kerja sama, misalnya melalui bakti sosial bagi masyarakat. Pembahasan konsep kerja sama di bidang keamanan maritim dipimpin Malaysia dan Australia, konsep kerja sama di bidang pengobatan militer dipimpin Singapura dan Jepang, konsep operasi dan misi perdamaian dipimpin Filipina dan Selandia Baru. Sedangkan misi keamanan dan penanganan bencana dipimpin Vietnam dan China.

Negara-negara lain peserta dialog berhak berpartisipasi aktif memberikan masukan dan saran pada setiap isu yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Seluruh hasil pembahasan dalam sidang ADSOM Plus yang baru pertama kali digelar di Yogyakarta ini, akan dilaporkan dalam pertemuan tingkat Menteri Pertahanan seluruh negara anggota ASEAN yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta, 19-21 Mei 2011.

"Seluruh hasil pembahasan dalam ADSOM Plus terkait kelima kerja sama tersebut diharapkan dapat diimplementasikan," kata Purnomo Yusgiantoro.(MI.COM/WDN)
Continue reading →

Friday, April 29, 2011

Menhan : Kemenhan Bangun Pusat Kontra Terorisme

Sleman - Menhan Purnomo Yusgiantoro mengatakan Kementerian Pertahanan saat ini sedang membangun sebuah fasilitas cukup besar dan luas yang akan berfungsi sebagai pusat sistem operasi untuk kegiatan kontra terorisme (counter terorism). ''Tempatnya di Sentul (Bogor) akan dinamai sebagai four-in-one. Tempatnya hanya satu jam dari Jakarta,'' kata Purnomo, Jumat (29/04).

Menhan berbicara kepada wartawan usai menutup ASEAN Defence Senior Officials' Meeting (ADSOM) and the ASEAN Defense Senior Officials' Meeting Plus (ADSOM Plus) yang diselenggarakan di Hotel Hyatt Yogyakarta, 27-29 April. Tempat itu, kata Purnomo, nantinya akan menjadi tempat pusat pelatihan dan penggulangan berkaitan dengan sistem operasi terhadap kegiatan-kegiatan kontra terorisme, dan juga operasi-operasi militer berkaitan dengan bidang kesehatan dan penanggulangan bencana alam.

Dijelaskannya, juga tempat itu juga akan menjadi pusat pemantauan dan pengolahan data yang berkaitan dengan kegiatan kontra terorisme, bagaiamana eksekusinya, serta juga bagaimana post eksekusinya. Di tempat itu, katanya, nantinya juga akan disiapkan aparat keamanan setingkat satu batalion yang bisa segera diturunkan untuk menghadapi tindakan terorisme -- stand-by force.

Purnomo mengatakan, berbicara tentang ancaman terorisme harus dilihat dalam koridor yang lebih luas lagi, bukan hanya bagaiamana kalau tindakan teror itu sudah terjadi, juga menyangkut bagaiamana sistem deteksi dininya. Menurut dia, saat ini menyangkut tindakan setelah aksi teror itu terjadi, bisa dilakukan oleh kepolisian dengan Densus 88-nya ataupun dengan bantuan detasemen-detasemen khusus yang ada di tiga angkatan di lingkup TNI.

Namun, lanjutnya, berbicara kontra terorisme, kasus NII ataupun kasus-kasus seperti bom buku atau rencana pemboman gereja di Serpong, tak bisa dilihat secara hanya dari sisi kejadiannya semata, tapi juga harus dilengkapi dengan bagaiamana usaha-usaha deteksi dininya.

Berbicara tentang kontra terorisme, katanya, juga harus disertai dengan bagaiamana melakukan usaha-usaha pencegahan agar persoalan itu tak terulang lagi, artinya juga menyangkut upaya-upaya deradikalisasi dan proses pembinaan rehabiliatasi para pelaku-pelaku teror.

Jadi katanya, permasalah kontra terorisme ini harus dilakukan secara total food ball dengan melibatkan semua eksponen masyarakat, bukan hanya oleh aparat keamanan dan kepolisan. ''Jadi perlu terintegrasi, juga dengan keikutsertaan tokoh-tokoh agama dan masyarakat secara keseluruhan,'' tandas Purnomo.

Menurut Purnomo, berkaitan dengan pertemuan ADSOM dan ADSOM Plus di Yogya ini, Indonesia dan Amerika dipercaya sebagai leading sector dalam penyusunan draf kerjasama dalam bidang kontra terorisme dalam lingkup negara-negara anggota ASEAN dan mitra lainnya seperti Amerika Serikat, Australia, China, India, Jepang, Korea Selatan, Rusia dan Selandia Baru.(REPUBLIKA/WDN)
Continue reading →

Wednesday, April 13, 2011

Menhan : Strategi Untuk Hadapi Perompak Somalia Beda dengan Korea Selatan


Purnomo Yusgiantoro.

Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, penanganan penyanderaan awak kapal MV Sinar Kudus yang dibajak perompak Somalia tak bisa disamakan dengan kasus Korea Selatan. "Situasi yang terjadi waktu itu berbeda dengan posisi kita sekarang," kata dia usai mengikuti rapat di kantor wakil presiden, Rabu (13/4).

Pada 21 Januari 2011 lalu, Korea Selatan sukses menyerang pembajak Somalia. Sejak dikabarkan salah satu kapal berbendera Korea Selatan dibajak, pemerintah Korea Selatan langsung mengirim kapal, melacak keberadaan pembajak. Pasukan khusus Angkatan Laut Korea Selatan berhasil menyerbu kapal Samho Jewelry berbendera Korea Selatan yang dibajak dan membebaskan semua sandera. Dua warga negara Indonesia yang bekerja sebagai anak buah kapal turut tersandera dalam kapal yang dibajak.

Purnomo enggan merinci perbedaan upaya pembebasan sandera antara pemerintah Indonesia dan Korea Selatan. "Kosentrasi kita menyelematkan sandera," kata Purnomo.

Selain Korea Selatan, yang sukses menyerbu perompak Somalia adalah Malaysia. Serangan Malaysia dilancarkan pada Januari 2009 ketika kapal Malaysia Diraja Sri Indera Sakti dibajak. Pasukan Malaysia dengan helikopter menembaki dua kapal perampok Somalia. Pembajakan itu pun berhasil digagalkan dan mereka menangkap tujuh perompak dan membebaskan 23 awak.(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Tuesday, March 29, 2011

Indonesia Dan China Matangkan Kerja Sama Antiteror

Jakarta - Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat, dan Pasukan Khusus Republik Rakyat China sepakat untuk mematangkan kerja sama kedua pihak, terutama dalam penanganan dan pemberantasan terorisme.

"Kami sudah melakukan beberapa kali penjajakan, diawali dengan pertukaran kunjungan perwira. Pada April nanti, kami kembali kirimkan tiga perwira kami untuk mematangkan kerja sama yang tengah dijajaki," kata Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat (Kopassus) Mayjen TNI Lodewijk F Paulus dalam perbincangan, di Jakarta, Senin (28/3).

Ditemui usai menghadiri pembukaan Kejuaraan Panahan Piala KSAD 2011, ia mengatakan, setelah penjajakan yang ada dimatangkan kedua pihak dalam tataran teknis yang lebih rinci, pasukan khusus militer kedua negara sepakat untuk segera melakukan latihan bersama dalam waktu dekat.

"Untuk materi yang akan dikerjasamakan nanti adalah penanganan terorisme. Karena itu yang menjadi salah satu ancaman pertahanan keamanan saat ini," tutur Lodewijk, menambahkan.

Sebelumnya, hasil penjajakan yang dilakukan kedua pihak, masing-masing sepakat untuk bekerja sama dalam bidang sumber daya manusia (SDM) melalui pertukaran kunjungan para perwira, pendidikan, latihan bersama serta transfer teknologi.

Bahkan, pihak China menekankan, perlunya terus membangun program yang lebih nyata di bidang pendidikan, latihan dan pertukaran informasi tentang teknologi militer kedua angkatan. Kedua pihak juga sepakat untuk memperkuat kerja sama yang ada dalam rangka menciptakan kawasan Asia dan ASEAN yang aman dan stabil.(SUARA KARYA/WDN)
Continue reading →

Friday, March 18, 2011

Menhan: TNI Belum Akan Dikerahkan Tangani Teror

Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan, TNI belum akan dikerahkan untuk menangani rangkaian teror bom buku.

"Rangkaian teror bom buku, masih merupakan ancaman bagi publik, bukan ancaman terhadap kedaulatan negara," katanya di Jakarta, Kamis.

Purnomo menilai, rangkaian aksi teror bom buku masih menjadi ancaman publik sehingga masih menjadi kewenangan Polri untuk menanganinya.

"Meski begitu, TNI akan tetap memantau dan baru dapat dikerahkan jika rangkaian teror itu sudah mengarah pada ancaman terhadap negara," tutur Menhan.

Ia menambahkan "Pada kondisi itu (ancaman terhadap negara) kita masuk dan kita tidak ada hitung-hitungan lagi semua pasukan khusus kita turunkan,".

Sebelumnya, juru bicara TNI Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul mengatakan, berdasar Undang-Undang No 34/2004 tugas pokok TNI itu pada prinsipnya ada tiga, yaitu menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan.

"Tugas pokok tersebut dilaksanakan melalui Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), seperti untuk penanganan teror, bencana alam," katanya.(ANT/WDN)
Continue reading →

Wednesday, March 9, 2011

Indonesia – Filipina Perkuat Kerja Sama Antiterorisme


JAKARTA – Pemerintah Indonesia dan Filipina sepakat untuk memperkuat kerja sama penanggulangan terorisme.Langkah ini diambil karena kedua negara menilai terorisme telah menjadi persoalan bersama yang harus ditanggulangi bersama.

Kerja sama untuk penanggulangan terorisme tersebut tertuang dalam pembaharuan nota kesepahaman antara Polri dan Kepolisian Filipina. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan, salah satu fokus dalam pembaharuan nota kesepahaman tersebut adalah memerangi terorisme. “Kerja sama antara kepolisian kedua negara ditingkatkan, nota kesepahaman ditandatangani dengan fokus memerangi terorisme dan transnational crime.Terorisme penting karena kedua negara menghadapi ancaman terorisme riil dan konkret,” ungkap SBY dalam konferensi pers bersama seusai menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Filipina Benigno Simeon Cojuangco Aquino III di Istana Merdeka,Jakarta,kemarin.

Presiden SBY mengingatkan, teroris sudah memiliki jaringan yang sangat kuat baik di tingkat regional maupun global sehingga perlu kerja sama antarnegara untuk menanggulanginya. “Dalam kaitan inilah dijalankan kerja sama tukar menukar intelijen,berbagi pengalaman, pendidikan,latihan, dan sebagainya. Saya tahu di Filipina juga ada WNI (yang menjadi teroris). Di kawasan ini banyak karena network mereka di negara- negara yang selama ini menghadapi ancaman teroris,” kata SBY. Sementara itu, Presiden Aquino mengungkapkan, saat ini butuh usaha lebih keras untuk menanggulangi terorisme karena dampaknya semakin besar.

Kerja sama antarnegara menjadi hal mutlak dalam penanggulangan terorisme karena kejahatan ini sudah melintasibatasnegara.“ Kitamungkin harus melakukan usaha lebih dalam menanggulangi terorisme yang memberi dampak besar baik bagi negara dan rakyat,” tegas Aquino.(SINDO/WDN)
Continue reading →

Wednesday, February 16, 2011

Indonesia dan Amerika, Pelopor Antiterorisme di Asia Tenggara

JAKARTA – Indonesia dan Amerika Serikat bakal menjadi pelopor dalam sidang membahas penanggulangan terorisme di kawasan Asia Tenggara.

“Indonesia dan AS yang menjadi vocal point menawarkan sejumlah konsep penanganan terorisme pada Sidang Pertemuan Menteri Pertahanan se-ASEAN yang digelar 22-24 Februari 2011 di Surabaya,” kata Dirjen Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Puguh Santoso, dalam temu pers di Jakarta, Rabu (16/2).

Menurut Puguh, usulan Indonesia mencantumkan hal-hal apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan menyangkut soal kedaulatan negara. Artinya, jangan sampai penanganan terorisme malah mengintervensi serta mengganggu hubungan antarnegara.

Misalnya, tidak boleh mencampuri urusan negara lain. Lalu mengembangkan teknologi, dan model pelatihan bagi prajurit dalam menghadapi terorisme dengan mengedepankan HAM.

Ditambahkan, negara juga harus mewaspadai kemungkinan penggunaan satelit dan nuklir oleh para teroris. “Ini harus diantisipasi. Kita tidak bisa menganggap teroris itu begini-begini saja. Mereka kan terus berkembang,” tegas Puguh.

Dia mengatakan, usulan AS dalam draft tersebut sama dengan yang diusulkan Indonesia. “Itu merupakan hasil komunikasi kita dengan AS. Jadi AS tentu sudah menyetujui draft kasar,” papar dia.

Menurut Puguh, apabila ASEAN menyetujui konsep yang ditawarkan akan dibicarakan lagi dengan mitra dari delapan negara lainnya. (ASEAN plus delapan). “Pasti akan akan perdebatan. Cina juga ikut. Belum tentu konsep ini akan diterima begitu saja,” tukas Puguh.(POSKOTA/WDN)
Continue reading →

Saturday, January 8, 2011

India & Indonesia Melakukan Kerjasama Dalam Bidang Keamanan


India dan Indonesia akan melakukan kemitraan strategis dalam jangka lima tahun untuk membina kerjasama untuk melawan terorisme dengan perjanjian ekstradisi dan pakta untuk pencegahan perdagangan narkoba. Kerjasama ini akan ditandatangani selama kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Indonesia yang mulai 25 Januari.

India merupakan salah satu negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi tercepat dalam perekonomian dunia dan Indonesia merupakan negara demokrasi sekuler dengan populasi Muslim terbesar di dunia serta menjadi ketua ASEAN,
kedua negara juga berharap untuk memulai pembicaraan untuk menyelesaikan kesepakatan kemitraan ekonomi yang komprehensif, yang diharapkan dapat meningkatkan perdagangan bilateral sebesar $ 12000000000 (Rs.54, 480 rupee) dan saat ini terus menunjukan peningkatan.

Yudhoyono, yang sebelumnya mengunjungi India pada 2005 ketika kedua negara meningkatkan hubungan mereka dengan kemitraan strategis, Dan merupakan tamu utama untuk perayaan 62 tahun Hari Republik India pada tanggal 26 Januari.

Presiden pertama Indonesia, Sukarno juga merupakan tamu kepala negara pada perayaan pertama Hari Republik India pada tanggal 26 Januari 1950.

"Ini merupakan kunjungan penting bagi kami dari sudut pandang sejarah," kata Leonard Hutabarat, sekretaris Kedutaan Indonesia di New Delhi, pada hari Jumat.

"Ada diskusi tentang untuk menyimpulkan delapan sampai 10 perjanjian di berbagai bidang seperti pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan TI.

Akan ada perjanjian ekstradisi dan lain tentang pencegahan perdagangan narkotika" yang diharapkan akan ditandatangani selama kunjungan, kata dia.

Ekstradisi dan pencegahan pakta perdagangan narkoba " akan memberikan dasar untuk kerjasama di masa depan tentang counter-terorisme, mengingat bahwa kejahatan transnasional semakin lama semakin meningkat," kata Hutabarat, mengingat bahwa India dan Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman anti-terorisme pada tahun 2004.

Dari sudut pandang India, "Indonesia negara penting di Asia Tenggara.

Hal ini karena Indonesia merupakan bagian dari ASEAN, yang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, tetapi juga demokrasi pluralistik, dan sebuah mosaik kelompok etnis dan agama yang berbeda, yang membuatnya mirip dengan India ", kata seorang pejabat kementerian luar negeri India yang dirahasiakan identitasanya.

India memiliki penduduk Muslim terbesar kedua di dunia dan berperang melawan pemberontakan Islam di Kashmir.

"Indonesia juga merupakan tetangga dekat perbatasalan langsung dengan kepulauan Andaman yang berjarak sekita 80km dari kepulauan Indonesia.

Seperti kita, Indonesia memiliki masalah dengan terorisme, tetapi juga berhasil dalam pemumpasan terorisme," tambah pejabat itu.

Hutabarat Menurut pihak berwenang Indonesia telah menemukan kaitan antara tindak terorisme di wilayah Indonesia dan Afghanistan di masa lalu. Selama pembicaraan dengan para pemimpin India di New Delhi, terorisme akan menjadi salah satu isu penting yang akan dibahas, katanya.

Indonesia juga merupakan anggota Kelompok Dua puluh negara-negara maju dan berkembang yang telah dibentuk setelah krisis ekonomi global tiga tahun lalu.

"Negara ini mencatat pertumbuhan 5,6% pada tahun lalu dan sekarang meningkatkan pertumbuhan mencapai 7% dalam beberapa tahun mendatang," kata Hutabarat.

Mengkonsolidasikan kemitraan strategis yaitu patroli bersama oleh angkatan laut Indonesia dan India tentang bajak laut di Selat Malaka yang sudah berjalan, yang rute utama bagi negara-negara seperti China dan Jepang. India juga telah melakuakan pelatihan pilot pesawat Sukhoi, kata Hutabarat.

Indonesia juga melihat bagaimana Komisi Nasional India pada Hak Asasi Manusia, otoritas manajemen bencana dan kerja Komisi Pemilihan Nasional, yang merupakan suatu kepentingan kerjasama yang lebih erat dalam hal ini untuk memperkuat lembaga-lembaganya, "kata katanya.(Livemint/WDN/MIK)
Continue reading →

Total Pageviews

Blog Archive

Labels

Followers