New Maju Indonesia Ku

Showing posts with label SINGAPORE. Show all posts
Showing posts with label SINGAPORE. Show all posts

Wednesday, November 28, 2012

Anoa Dan Terrex Uji Kemampuan Di Cipatat

Bandung - Ada yang berbeda dalam latihan bersama antara prajurit Indonesia dan Singapura ke-24 yang digelar di Pusat Pendidikan Infanteri Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Kesatuan dari dua negara membawa kendaraan tempurnya, Anoa dari Indonesia dan Terrex dari Singapura.

Hal itu dikemukakan Kepala Staf Angkatan Darat TNI Jenderal Pramono Edhie Wibowo seusai menutup latihan bersama, Rabu (28/11/2012). Latihan bersama diselenggarakan selama delapan hari sejak 21 November.

"Masing-masing menyadari kekuatan dan kelemahan dari masing-masing kendaraan," ujar Pramono.

Mayor Jenderal Ravinder Singh, Chief of Army SAF, mengatakan, dibutuhkan waktu 11 jam untuk memindahkan kendaraan tempur dari Singapura ke Cipatat. Dia juga menjelaskan bahwa Terrex memiliki kriteria yang berbeda dibandingkan dengan Anoa.

Penggunaan kendaraan tempur dalam latihan bersama dirintis sejak tahun ini. Dalam latihan bersama sebelumnya, pengerahan kendaraan tempur belum pernah dilakukan.(KOMPAS/WDN)
Continue reading →

Wednesday, November 14, 2012

ST Kinetics Dan PT Pindad Kembangkan Terrex RSTA

Jakarta - Produksi dan pengembangan perangkat militer terus dilakukan Indonesia, baik secara mandiri maupun kerjasama. Ini diantaranya dilakukan dengan Singapura melalui PT Pindad (Persero) Bandung dan Singapore Techologies Kinetics Ltd.(ST Kinetics) Singapura, mengembangkan kerjsama produksi perangkat pembidik dan pelindungan individu penembak untuk kendaraan lapis baja atau tank bernama Terrex RSTA.

Perangkat semacam Terrex RSTA adalah system pendukung yang dilengkapi perangkat elektronik, baik untuk mengintip maupun memperjelas sasaran serta situasi sekitar. Prajurit penembak tak perlu lagi nongol dari pintu Turrent atau pintu penembak, cukup menembak dari dalam ruangan kendali kendaraan tempur lapis baja atau tank. .

Ini membuat keamanan personel terlindungi dari risiko serangan musuhnya, dan penglihatan sasaran cukup dilihat dari tampilan layar monitor. Perangkat seperti ang dipasang pada sejumlah kendaraan tempur mariner Amerika. .

Menurut seorang pimpinan ST Kinetics Lim Miah Wee didampingi Presdir PT Inter Korana Indi Adi Sunaryo, selaku mitra, di sela-sela Pameran Industri Pertahanan Indo Defence, di Jakarta, Kamis (8/11) lalu, rencananya Terrex akan diujicoba dipasangkan pada panser buatan PT Pindad, pekan ini. Ini sebagai optimalisasi system penembakan sekaligus pengamanan individual pada kendaraan lapis baja 6x6 Anoa, produksi PT Pindad.

Terrex yang digunakan memang pas ukurannya untuk melengkapi senapan mesin berat (SMB) caliber 12,7 mm x 99 (.50 Browning) produksi PT Pindad yang mengikuti model ST Kinetics, yaitu CIS 50 MG. Panser 6x6 Anoa produksi PT Pindad tengah diuji apakah dapat dioptimalkan dengan dilengkapi perangkat Terrex.

Humas PT Pindad, Tuning Rudiyati yang dikonfirmasi, Minggu (11/11), belum memberikan keterangan. (KOMPAS/WDN/MIK)
Continue reading →

Thursday, March 15, 2012

Menteri BUMN : Saya Akan Merebut ATS Indonesia Dari Singapura

Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan berencana membentuk perusahaan baru yang akan mengatur sistem lalu lintas udara (Air Traffic System/ATS) secara lebih terintegrasi untuk keselamatan dan kenyamanan penumpang pesawat terbang.
BUMN baru tersebut juga disiapkan untuk mengambil alih sistem layanan penerbangan di sebagian wilayah Indonesia yang saat ini masih dikontrol Singapura. Negara tetangga itu kini masih mengatur penerbangan di wilayah Batam, Medan, Pekanbaru, Pontianak, Bangka Belitung, dan Palembang.

Selama ini ATS di Indonesia dikelola oleh dua BUMN, yaitu Angkasa Pura I untuk wilayah Indonesia timur dan Angkasa Pura II untuk wlayah Indonesia Barat.
"Indonesia harus menganut single air traffic provider, sekarang masih double dan belum terintegrasi," kata Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan, saat ditemui di ruang kerjanya di Jakarta, Kamis, 15 Maret 2012.

Dahlan menjelaskan BUMN baru tersebut nantinya akan berstatus perusahaan umum (Perum) yang berdaulat penuh terhadap udara Indonesia. Dengan terbentuknya BUMN baru ini diharapkan Indonesia akan siap mengambil alih pengelolaan sistem layanan penerbangan terintegrasi dalam 1-2 tahun mendatang.
"Indonesia memang menyerahkan kontrol negara kita ke negara sahabat, karena kita sendiri belum mampu. Karena itu, sebelum meminta, kita harus meyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia sudah mampu mengelola," jelasnya.

Dahlan menjelaskan, proses pembentukan BUMN baru ini ditargetkan selesai pekan depan. Selanjutnya, BUMN bakal meminta persetujuan pemerintah ditandai dengan Peraturan Pemerintah (PP) yang akan keluar dalam satu bulan mendatang.
Untuk pembentukan BUMN baru tersebut, Kementerian BUMN telah menunjuk Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti S.Gumay sebagai ketua badan pengawas dan Dirut AP I, Tommy Soetomo dan AP II Tri S. Sunoko sebagai anggota badan pengawas.

"Nantinya dewan pengawas ini yang akan mengusulkan siapa yang menjadi direksi perum Single ATS provider ini," katanya.(VIVANEWS/WDN)
Continue reading →

Thursday, February 16, 2012

Pengamat : Dinamika Asia Pasifik Dan Jet Tempur Mutakhir

Jakarta - Berada di Pameran Kedirgantaraan Singapore Airshow 2012 pengunjung sejenak bisa melupakan hal-hal serius, seperti perekonomian dunia yang tidak cerah. Jajaran pesawat sipil dan militer di pelataran, atau derum mesin jet di udara Changi, seperti memberi optimisme tersendiri bagi industrialis kedirgantaraan, yang produknya terentang mulai dari komponen, radar, rudal, hingga produk akhir berupa pesawat terbang sipil dan militer generasi mutakhir.

Sekarang Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memang melihat kondisi kurang menguntungkan, di mana penerbangan sipil hanya akan menghasilkan margin keuntungan 0,6 persen tahun ini (yang berarti hanya sekitar 3,5 miliar dollar AS dari pendapatan industri yang besarnya 600 miliar dollar AS). Itu pun—seperti dicatat Tony Tyler (Business Times, 13/2)—masih tergantung pada bagaimana Eropa bisa menyelesaikan krisis utangnya.

Namun, dalam situasi itu, penerbangan sipil masih menyaksikan dinamika yang luar biasa di Asia Pasifik. Iklan Lion Air dan Boeing yang mengangkat kontrak pembelian 230 jet Boeing 737 (201 Boeing 737 Max dan 29 737-900ER) setidaknya bisa menyiratkan hal itu.

Jadi, sementara di Eropa sejumlah maskapai penerbangan— sebagaimana negara bersangkutan—dilanda kesulitan, di kawasan Asia Pasifik ada suasana cerah. Tahun 2010, sepertiga penumpang pesawat bepergian ke, dari, atau di lingkungan Asia Pasifik. Itu seimbang dengan ukuran pasar Amerika Utara dan Eropa.

Tyler menambahkan, pada tahun 2015 pusat gravitasi industri penerbangan akan berpindah ke timur. Pada tahun itu, rute Asia Pasifik akan mencapai 37 persen, melewati Amerika Utara dan Eropa yang 29 persen.

Pesawat militer

Di awal pembukaan Singapore Airshow 2012, salah satu topik hangat adalah keputusan India membeli 126 jet tempur Rafale buatan Dassault Perancis untuk memenuhi kebutuhannya akan MMRCA (Medium Multi-Role Combat Aircraft). Pembelian senilai hampir 11 miliar dollar AS ini di satu sisi akan memanjangkan napas industri kedirgantaraan Perancis di atas, namun masih menyisakan kekecewaan bagi para pesaing yang dikalahkannya, khususnya Eurofighter Typhoon. Sebelumnya, Rafale telah melempar jet Gripen, F-16IN Fighting Falcon, F/A-18IN Super Hornet, dan juga MiG-35 keluar dari persaingan.

Pengadaan alutsista udara oleh India ini hanya menambah deretan pembelian yang telah diumumkan sejumlah negara Asia Pasifik. Misalnya saja Jepang yang beberapa pekan lalu mengumumkan pembelian F-35 Lightning II untuk memperkuat Angkatan Bela Diri Udaranya.

Sebelumnya, sejumlah negara Asia Pasifik lain, seperti Thailand, telah membeli jet Gripen JAS-39 buatan Swedia, Indonesia dan Malaysia telah menambah pesanan jet Sukhoinya. Sementara itu, Filipina yang selama ini ketinggalan dalam akuisisi alutsista udara, kini tengah memfinalisasi rencana pembelian jet latih lanjut yang bisa berfungsi sebagai pesawat serang ringan. Persaingan mengerucut ke dua tipe, yakni M-346 buatan Alenia Aermacchi dan T-50 buatan Korea Aerospace Industries.

Masih tentang Filipina, setelah mendengar Indonesia mendapat 24 unit F-16 secara gratis, Presiden Benigno S Aquino III kini juga bermaksud mendapatkan perlakuan sama dari AS. (Aviation Week & Space Technology, 6/2)

Selebihnya, sejumlah negara juga mengupayakan pengembangan kemampuan rekayasa dalam negeri, baik sendiri maupun melalui kerja sama. China dengan rancangan jet tempur siluman (stealth, tidak kasat radar) Chengdu J-20 adalah salah satu contohnya. Sementara itu, Indonesia dan Korea juga tengah mengembangkan jet tempur KFX.

Oleh dinamisme untuk menguasai teknologi kedirgantaraan militer, ataupun didorong oleh kebutuhan yang dilatarbelakangi kerisauan keamanan, program pengadaan pesawat tempur tampak nyata di lingkungan Asia Pasifik.

Dalam situasi seperti ini, ketika di Barat para pembuat dihadapkan pada keterbatasan anggaran, yang berbuntut pada pengurangan pesanan, dan pabrik pun mengalami kelebihan kapasitas, pengamat Barat mengkhawatirkan penjualan pesawat berteknologi canggih ke negara mana pun. Ini dikhawatirkan akan membuat teknologi sensitif akan mudah jatuh kepada siapa pun. (Tim Mahon, The Wall Street Journal, 15/2).

Bisa saja kemungkinan ini terjadi karena kekuatan pembeli lebih besar di era yang disebut buyer’s market, seperti disinggung oleh pengamat militer Andi Widjayanto dalam Seminar 50 Tahun Kohanudnas di Jakarta, 6 Februari lalu. Tetapi, harga alutsista yang semakin mahal dan regulasi yang tegas ditegakkan membuat buyer’s market bukan fenomena luas. Keinginan Jepang membeli jet tempur F-22 Raptor yang tidak terwujud adalah salah satu buktinya.

Tetapi di luar itu, program modernisasi kekuatan udara—sebagai matra yang sejak Perang Teluk 1991 semakin diakui kehebatannya—seperti tak terbendung. Asia Pasifik, baik karena kinerja ekonominya yang relatif unggul, dan pada sisi lain dihadapkan pada tantangan keamanan yang dipandang cukup riil, tampak memimpin dalam derap akuisisi alutsista udara. Singapore Airshow yang berlangsung 14-19 Februari 2012 nyaring menyiarkan gaung ini.(KOMPAS/WDN)
Continue reading →

Wednesday, February 15, 2012

Menhan Jajal Kokpit AH-64 Apache Longbow Milik RSAF

Singapura - Pameran dirgantara Singapore Airshow 2012 resmi dibuka, Selasa (14/2/2012) di Changi Exhibiton Centre (CEC), Singapura. Beragam pesawat komersial, jet tempur hingga peralatan pertahanan militer digelar dan siap dieksplorasi. Berikut laporan wartawan SOLOPOS, Alvari Kunto Prabowo dari Singapura.

Begitu menginjakkan kaki di area pamer CEC, Solopos.com langsung tertuju pada sosok Boeing 787 Dreamliner. Pesawat produksi perusahaan kompetitor Airbus ini memang sudah diprediksi bakal menyedot perhatian. Pesawat berkapasitas 200-350 penumpang ini memang tampak mencolok dari pesawat-pesawat lain yang dipamerkan. Pabrikan Boeing mengklaim pesawat ini menganut paham green plane alias pesawat minim emisi. Bobot pesawat yang lebih ringan membuat pesawat ini menenggak bahan bakar 20 persen lebih sedikit dibandingkan pesawat jenis lain.

“Tim kami telah menerapkan sistem pemantauan kinerja pesawat otomatis yang memungkinkan pesawat ini memantau sendiri kondisinya dan melaporkan kebutuhan perawatan atau perbaikan ke komputer induk,” jelas Boeing Commercial Airplanes International Communications, Miles Kotay.

Setelah Boeing giliran pesawat produksi Embraer yang menjadi tujuan Solopos.com berikutnya. Di stan ini sebuah pesawat Legacy 650 terbaru terparkir rapi. Usut punya usut, pesawat tersebut adalah milik aktor laga kondang Jackie Chan. Setelah serah terima pada awal Februari, pesawat itu langsung dipamerkan Singapore Airshow. Namanya juga pesawat pribadi maka jangan heran banyak ornamen khusus yang dipasang si empunya.

“Salah satu yang mencolok adalah penambahan ikon naga pada ekor pesawat,” kata President Embraer Executive Jets, Ernest Edwards.

Selain Embraer, helikopter S-92 Legacy of Heroes debutan Sikorsky juga tak boleh dipandang sebelah mata. Helikopter multi peran ini terus diperkenalkan Sikorsky sejak setahun belakangan. Bahkan untuk membuktikan bahwa mereka telah berkelana, awak S-92 mempersilakan Solopos.com untuk urun tanda tangan di tubuh pesawat. “Ini adalah upaya kami untuk memperkenalkan pesawat ini pada khalayak,” ujar salah seorang pekerja Sikorsky, Jane.

Selesai mengunjungi Sikorsky, Solopos.com memilih untuk istirahat sejenak. Memang tak mudah mengitari areal seluas 100.000 meter persegi di CEC ini. Saat sedang istirahat di stan Angkatan udara Singapura atau Royal Singapore Air Force (RSAF) tiba-tiba muncul rombongan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Wakil KSAD Letjen TNI Budiman dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Indonesia Marsekal Madya Erris Herryanto.

Purnomo pun langsung menjajal duduk di kokpit helikopter tempur AH-64 Apache Longbow milik RSAF. Menhan terlibat perbincangan serius dengan dua pilot RSAF. Menhan mengatakan Indonesia berupaya menambah lagi helikopter serbu. Pilihannya adalah jatuh pada delapan unit Apache tersebut. “Mengejar 2015, Indonesia harus memiliki pesawat-pesawat terbaru agar tidak ketinggalan dari negara ASEAN lainnya,” ujar Purnomo.

Selain RSAF yang menampilkan hampir seluruh arsenal andalannya, Singapore Airshow kali ini juga diikuti Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) yang berpangkalan di Kadena Jepang. Mereka memajang di antaranya F-15C/D Eagles, pesawat tanker KC-135R/T Stratotankers serta pesawat system peringatan dini E-3B/C Sentries (AWCS). Sedangkan Angkatan Udara Inggris (RAF) tampaknya malu-malu dalam ajang kali ini. RAF “hanya” memamerkan Airbus A330 Multi Role Tanker Transport (MRTT).

Singapore Air Show yang dihelat hingga Sabtu (19/2/2012) itu diikuti lebih dari 900 peserta dari 50 negara dan 266 delegasi dari 80 negara. Menurut Managing Director Experia Events, Jimmy Lau, respons untuk tahun acara ini sangat positif dan pihaknya selaku penyelenggara berupaya menjadikan Singapore Airshow sebagai acara pilihan untuk kegiatan dirgantara kelas dunia. “Acara ini bisa dijadikan pemain bidang penerbangan untuk bertukar pikiran dan mencari peluang bisnis. Meskipun ketidakpastian ekonomi saat ini, kami yakin industri terutama wilayah Asia-Pasifik terus tumbuh,” paparnya.

Singapore Airshow 2012 menurutnya merupakan yang terbesar dalam penyelenggaraan di Singapura. Dalam ajang kali ini lebih dari 65 jenis produk militer terbaru, puluhan pesawat penumpang pesawat dan jet mewah bisnis dipajang. Dan bukan airshow namanya kalau tidak ada demonstrasi aksi terbang udara. Ikuti laporannya esok hari.(Solopos/WDN)
Continue reading →

50 Negara Ikut Serta Dalam Singapore Airshow

Singapura - Pameran kedirgantaraan terbesar di Asia, Singapore Airshow 2012, resmi dibuka di Changi Exhibition Centre, Singapura, Selasa (14/2/2012).

Pameran menghadirkan perkembangan terkini di industri penerbangan dan teknologi mutakhir pertahanan terutama pertahanan udara.

Sekitar 900 peserta dari 50 negara tampil dalam pameran ini. Sebagian peserta merupakan produsen pesawat terbang maupun komponen pesawat. Sedangkan yang lain dari perusahaan penerbangan dan jasa terkait dunia penerbangan.

Sejumlah industri pertahanan juga memamerkan produk mereka baik pesawat tempur, persenjataan berat, maupun teknologi canggih pengintaian.

Pameran akan berlangsung hingga 19 Februari 2012. Untuk tanggal 14-17 Februari 2012 hanya diperuntukkan bagi para undangan dan pebisnis. Sedangkan di dua hari terakhir baru dibuka untuk umum.

Pukau pengunjung

Yang menarik perhatian pengunjung selama pameran adalah digelarnya akrobatik udara yang menampilkan penerbang-penerbang profesional. Pilot stunt aerobatic asal Australia, Tony Blair, menampilkan ketrampilannya dengan pesawat baling-baling tunggal jenis Rebel 300.

Selanjutnya tim aerobatik Royal Australia Air Force Roulette tampil dengan enam pesawat latih jenis Pilatus. Mereka adalah para penerbang instruktur dari Akademi Penerbangan Angkatan Udara Australia.

Selain aerobatik, sejumlah pabrikan pesawat juga mendemonstrasikan pesawat-pesawat terbaru mereka.(KOMPAS/WDN)
Continue reading →

Tuesday, February 14, 2012

Komisi I : Bila DCA Diteruskan Maka Kedua Negara Harus Diutungkan

Jakarta - Singapura berkepentingan terhadap perjanjian pertahanan (Defence Cooperation Agreement/DCA) dengan Indonesia karena negara itu membutuhkan tempat latihan bagi pasukannya.

"Perlu dipahami bahwa Singapura berkepentingan terhadap DCA bukan dalam konteks kerja sama pertahanan dalam pengertian yang umum, melainkan negara tersebut hanya membutuhkan lahan milik Indonesia sebagai tempat latihan pasukannya," kata Sekretaris Jenderal DPP PDIP Tjahjo Kumolo kepada ANTARA, Selasa.

Hal itu dikemukakan Tjahjo yang juga anggota Komisi I DPR RI sehubungan dengan rencana pertemuan rutin tahunan antara Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong yang pada tahun ini diagendakan bulan depan.

Di lain pihak, wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah 1 ini mengutarakan bahwa Indonesia sebenarnya sangat berkepentingan terhadap perjanjian ekstradisi dengan negara tersebut.

"Walaupun secara rutin dilakukan pertemuan di antara pejabat tinggi kedua negara itu, pihak Indonesia tidak mengesahkan DCA, Singapura juga tidak akan setuju terhadap perjanjian ekstradisi," kata Tjahjo.

Apalagi dari segi pertahanan, kata dia, alat utama sistem senjata (alutsista) Singapura jauh lebih unggul dibandingkan dengan Indonesia.

Selain itu, Singapura juga memiliki aliansi pertahanan dengan negara lain yang dikenal dengan "Five Power Defense Agreement" (FPDA), yaitu sistem aliansi pertahanan antarlima negara (Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura, dan Malaysia).

Disebutkan Tjahjo, salah satu kesepakatan negara-negara FPDA adalah adanya klausul bahwa serangan terhadap salah satu negara anggota merupakan serangan pula terhadap negara anggota lainnya.

Dari sisi ASEAN, dia berharap pada tahun 2015 Komunitas ASEAN sudah terbentuk.

"Namun, apakah Indonesia dapat memainkan peran utama dalam Komunitas ASEAN sehingga Singapura merasa perlu melakukan pendekatan dengan Indonesia?" tambahnya.

Sekjen DPP PDI Perjuangan ini berharap agar pertemuan rutin antara Presiden RI dan pejabat tinggi Singapura yang diagendakan pada bulan Maret 2012 tidak sebatas seremonial.

"Atau, malah justru lebih menguntungkan pihak Singapura?" katanya lagi.

"Saya kira Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan serta kementerian lainnya harus merumuskan agenda pembicaraan Presiden RI dan PM Singapura yang lebih komprehensif integral. Setidaknya untuk kepentingan kerja sama bilateral bersama Indonesia dan Singapura," kata wakil rakyat asal Kota Semarang itu.(ANT/WDN)
Continue reading →

Saturday, October 15, 2011

Lihat Senjata SPR-2 Buatan Pindad, Tentara Singapura Bilang, 'Good'

Depok - 'Good....,' kata salah seorang petembak kontingen Angkatan Darat Singapura, sambil terus memandangi dan melihat detail fitur senapan runduk anti material versi SPR-2, yang dipajang di stand PT Pindad di sela-sela kejuaraan tembak AARM ke-21, di Depok, Jawa Barat.

Tentara dari Singapura itu satu dari 10 kontingen angkatan darat negara-negara ASEAN yang berkumpul untuk adu tangkas, tepat, dan trengginas dalam pemakaian senapan ringan dan semi otomatik. Nama gelaran itu adalah ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) yang bertempat di Markas Komando Divisi I Kostrad, yang berlangsung mulai hari ini.

Good memang bukan excellent atau outstanding, tapi ucapan dari tentara Singapura itu semoga bukan basa-basi karena negara kecil itu juga punya senapan serbu perorangan dan senapan tembak tepat buatan industri sendiri. Sebutlah SAR-80 dan generasi terakhirnya, SAR-21.

Yang terakhir ini bahkan diakui kualitas dan akurasi serta endurabilitasnya oleh banyak militer dunia. Sama-sama kaliber 5,6 milimeter kali 45, namun bahkan Angkatan Darat Amerika Serikat juga mengangkat topi atas kinerja senapan serbu berkonsep bullpup itu.

Sambil melihat detail fitur senapan SPR-2, sebagian besar petembak angkatan darat dari sepuluh negara ASEAN yang berkunjung ke stand PT Pindad, juga berpose layaknya penembak runduk menggunakan SPR-2 sambil meminta salah seorang rekannya mengabadikan posenya lewat kamera.

"Jangan lupa nanti fotonya dikirim via email yaa...," ujar salah seorang anggota kontingen Angkatan Darat Brunei Darussalam.

Diding Sumardi dari Divisi Senjata PT Pindad mengemukakan pihaknya baru membuat lima prototipe dari SPR-2, namun sudah membuat sejumlah amunisi untuk senapan runduk dengan amunisi berkaliber 12,7 x 99 mm itu.

"Kami telah bandingkan dengan sejumlah senapan runduk yang selama ini digunakan TNI baik Kopassus, Kopaska maupun Paskhas. Kita bandingkan agar senapan yang kami hasilkan ini dapat menjadi produk unggulan," katanya.

Diding mengatakan SPR-2 memiliki kapasitas megasen lima butir dengan panjang keseluruhan 1.550 mm, berat 16 kilogram, dan jarak tembak efektif 2.000 meter.

PT Pindad mempunyai tiga produk Senapan Penembak Runduk (SPR) atau senapan sniper anti material tank yang berkualitas dunia. SPR produksi PT Pindad ada tiga varian, SPR-1, SPR-2 dan SPR-3. Senapan tersebut dapat menembus baja yang tebalnya tiga sentimeter dari jarak 900 meter.

"SPR 1 didesain menggunakan munisi kaliber 7,62 mm dengan jarak efektif 900 m," kata Diding. Selain senapan runduk, dalam kegiatan lomba tembak angkatan darat ASEAN itu juga ditampilkan berbagai produk PT Pindad termasuk Senapan Serbu (SS) berbagai varian, senapan SM2-V1 dan miniatur kendaraan taktis, kendaraan tempur seperti panser ANOA 6x6.(Republika/WDN)
Continue reading →

Thursday, October 6, 2011

Pengamat : Teknologi Alutsista TNI Masih Di Bawah Singapura & Malaysia

Jakarta - Teknologi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) milik TNI dinilai masih berada di bawah Malaysia dan Singapura. Namun untuk kemampuan tempur pasukan, TNI boleh berbangga hati.

"Untuk teknologi memang berada di bawah Malaysia dan Singapura. Tapi saya kira kemampuan personel masih lebih unggul," ujar pengamat militer Mufti Makarim saat dihubungi detikcom, Kamis (6/10/2011).

Namun Indonesia tentunya tidak bisa terus berbangga dengan kemampuan personelnya saja. Tuntutan ke depan, kemampuan personel yang tinggi harus didukung dengan alutsista yang modern.

Dalam membangun sistem persenjataan, TNI harus memprediksi ancaman ke depan. Jika masih merasa ancaman lebih banyak dari dalam negeri, maka fokus pertahanan tetap di darat dengan komando teritorial menjadi intinya. Namun jika TNI sudah merasa ancaman terbesar dari luar, maka pembangunan kekuatan akan fokus pada kekuatan laut dan udara.

"Kalau fokusnya tetap menambah pasukan untuk digelar di seluruh Indonesia ya pasti anggarannya akan habis untuk belanja prajurit, bukan untuk membari alutsista," katanya.

Menurutnya ada dimensi yang harus dipertimbangkan saat membeli alutsista. Yang pertama adalah pertimbangan Alutsista bukan hanya dibeli, tetapi juga harus dirawat. Jangan sampai saat akan digunakan untuk bertempur ternyata tidak ada suku cadangnya.

"Lalu kemampuan sinerginya. Ini berkaca pada pengalaman masa lalu. TNI mempunyai banyak senjata dari macam-macam negara. Akibatnya, jangankan menghadapi musuh dari luar, saat operasi militer di Aceh saja kebingungan," jelasnya.(DETIK/WDN)
Continue reading →

Tuesday, September 27, 2011

Delegasi IT Kemhan Indonesia Kunker ke Singapura dan Korsel

Jakarta - Delegasi IT (Information Technologies) Kementerian Pertahanan RI, Mabes TNI dan Mabes Angkatan Darat melaksanakan kunjungan Kerja ke beberapa negara pengguna IT terkemuka. Adapun tujuan kunjungan kerja tersebut adalah mempelajari tentang sistem pengamanan Jaring internal dan Eksternal di jajaran Kemhan dan TNI.

Delegasi mengawali kunjungan kerja selama lima hari (19-23 September 2011) tersebut dengan menghadiri Workshop “ The IBM Smarter Defense” di IBM Singapura Pte Ltd 9 Changi Business Park Central I The IBM Place, Singapura Senin (19/9). Workshop tersebut menjelaskan tentang Defense Operation Platform yang digunakan dilingkungan Kementerian Pertahanan Amerika, Australia dan negara-negara barat lainnya.

Pada hari berikutnya Delegasi IT Kemhan Selasa, (21/9) melanjutkan rangkaian kunjungan kerjanya menuju Huneed Technologies di Incheon, Korea Selatan dan Pameran IT di CoexMall, Seoul Korsel. Usai mengikuti pameran tersebut Rabu, (22/9) delegasi mengunjungi Microsoft Korea, Inc Seoul Korsel dan diterima oleh Direktur Public Sector, Mr. Woo Sung Lim. Saat berada di Microsoft Korea, Inc rombongan menerima paparan tentang produk-produk terbaru yang dihasilkan Microsoft Korea diantaranya, Microsoft Link Communication serta menyaksikan demo teleconfrance.

Pada hari yang sama delegasi meneruskan kunjungan ke Bandara di Perbatasan Negara Korea Selatan dan Korea Utara. Seluruh rombongan juga berkesempatan menyaksikan sistem pengamanan Bandara dari dalam Bunker. Keesokan harinya Kamis, (23/9) Delegasi melanjutkan perjalanan ke DMZ ( Demiliterized Zone) dan Tunnel no. 3 di Paju perbatasan Korsel dengan Korut.

Turut serta dalam Delegasi IT Kemhan dan TNI, diantaranya Kapusdatin Kemhan, Brigjen TNI Akhmad Buldan, M.A, Kapuskom Publik Kemhan, Brigjen TNI Hartind Asrin, Waka Pusinfolahta TNI, Kolonel Arm. Royke Kaparang, dan Ses Disinfolahta, Kol. Caj Drs. Syarif Usman.(DMC/WDN)
Continue reading →

Thursday, September 15, 2011

TNI AU Dan RSAF Lakukan Latgab Di Pekanbaru

Pekanbaru - Skadron Tempur (Skapur) TNI AU dan Republic of Singapore Air Force (RSAF) berlatih bersama di Pekanbaru, Riau, Kamis (15/9/2011).

Latihan Joint Fighter Weapon Course (JFWC) TNI AU - RSAF diikuti Skadron F-5 dan F-16 RSAF, serta Skadron Hawk-109/209, Skadron F-5 dan Skadron F-16 TNI AU.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI Azman Yunus mengatakan, latihan itu merupakan salah satu kegiatan latihan bersama terbesar, dari yang pernah dilaksanakan TNI AU dan RSAF.

Rencananya latihan tersebut akan berlangsung sampai tanggal 11 November 2011 dan akan ditutup oleh KASAU dan CAF RSAF. Latihan itu merupakan lanjutan kegiatan serupa pada tanggal 11 Agustus 2011 di Singapura.(KOMPAS/WDN)
Continue reading →

Wakil PM Singpura Kagum Akan Proyek KFX/IFX Antara Indonesia - Korsel

Jakarta - Wakil Perdana Menteri Singapura Theo Chee Hean menyatakan kagum terhadap pengembangan proyek pesawat jet tempur K-FX/I-FX antara Indonesia dan Korea Selatan.

"Itu adalah program sangat luar biasa....," katanya, saat diterima Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Rabu.

Dalam kunjungan kehormatannya selama sekitar 15 menit itu, Wakil PM Chee Hean menyatakan sangat kagum dengan pembangunan pertahanan Indonesia yang cukup maju belakangan ini.

"Saya perhatikan kemajuan pembangunan pertahanan, alustsista, sangat meningkat," katanya.

Menanggapi itu, Menteri Purnomo mengatakan kemajuan pembangunan pertahanan Indonesia belakangan ini tak terlepas dari kenaikan anggaran pertahanan yang diberikan pemerintah.

"Sebagian kenaikan anggaran pertahanan itu digunakan untuk mengganti beberapa pesawat jet tempur seperti F-5 dan Hawk-MK53 dengan Super Tucano," katanya.

Tak hanya itu, tambah Purnomo, Indonesia juga melakukan kerja sama pembuatan alat utama sistem senjata seperti pesawat jet tempur dengan Kora Selatan yakni K-FX/I-IFX yang merupakan jet latih tempur generasi 4,5.

Kesepakatan pengembangan bersama pesawat tempur KFX disepakati kedua negara pada 15 Juli 2010 di Seoul, Korsel. Pesawat jet tempur KFX sendiri sebetulnya merupakan proyek lama Republic of Korea Air Force (ROKAF) yang baru bisa terlaksana sekarang.

Proyek ini digagas Presiden Korea Kim Dae Jung pada bulan Maret 2001 untuk menggantikan pesawat-pesawat yang lebih tua seperti F-4D/E Phantom II dan F-5E/F Tiger.

Dibandingkan F-16, KFX diproyeksi untuk memiliki radius serang lebih tinggi 50 persen, sistim avionic yang lebih baik serta kemampuan anti radar (stealth). Menhan Purnomo menambahkan Indonesia berupaya memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata secara mandiri, termasuk dalam pengembangan pesawat tempur.

Karena itu, Indonesia sepakat untuk bekerja sama dengan Korsel, katanya, menambahkan.

Selain pesawat tempur, Indonesia sudah lama menjalin kerja sama industri pertahanan dengan Korea Selatan antara lain dengan pembuatan kapal jenis landing plaform dock (LPD).

Dalam kunjungannya ke Indonesia, Wakil PM Theo Chee Hean juga melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono.(DEPHAN/WDN)
Continue reading →

Menhan : Tidak ada lagi kesepakatan pertahanan RI - Singapura

Jakarta - Menteri Pertahanan (Menhan), Purnomo Yusgiantoro, menegaskan bahwa tidak ada lagi pembahasan kesepakatan kerja sama pertahanan (Defence Cooperation Agreement/DCA) antara RI dengan Singapura yang ditandatangani kedua pemerintahan pada 2007.

Sesaat sebelum menerima kunjungan kehormatan Wakil Perdana Menteri (PM) Singapura, Theo Chee Hean, di Jakarta, Rabu, Punomo mengatakan kepada ANTARA News: "Tidak ada lagi pembahasan tentang itu."

Purnomo Yusgiantoro menuturkan, setiap kerja sama pertahanan yang dilakukan dengan sejumlah pihak harus ada kesepakatan pelaksanaannya (implementing arrangement).

"Ini kita belum menyepakati apa-apa. Jadi, tidak ada lagi kerja sama kesepakatan pertahanan itu," katanya.

Perundingan DCA (Defence Cooperation Agreement) antara Indonesia dan Singapura telah berlangsung sejak Juli 2005 selama tujuh kali putaran. Putaran terakhir dilaksanakan pada 5 - 6 Desember 2006 dengan menyepakati 13 pasal, dan empat pasal lainnya belum tercapai kesepakatan.

Pembahasan tersebut dilakukan paralel dengan pembicaraan mengenai ekstradisi antara dua negara dan selalu dikoordinasikan dengan pihak Departemen Luar Negeri, sehingga nantinya kerja sama pertahanan kedua negara dapat benar-benar mendukung kepentingan nasional Indonesia.

DCA akhirnya ditandatangani pada 27 April 2007 oleh Menhan kedua negara disaksikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong.

Dalam perjalanannya, kedua negara tidak dapat melaksanakan kesepakatan kerja sama itu secara mulus karena menuai kontroversi di masing-masing pihak, terutama menyangkut Implementing Arrangement (IA) Military Training Area (MTA) di Area Bravo yang berada di Kepulauan Natuna.

Kebuntuan terhadap beberapa pasal dalam DCA antara RI dan Singapura, antara lain berdampak pihak Singapura mengabaikannya dan tidak membahas lebih lanjut, terutama menyangkut ekstradisi.

Dalam pertemuan bilateral sekira 15 menit di Kantor Kementerian Pertahanan RI pada Rabu ini, wakil pemerintahan kedua negara itu juga tidak membahas tentang kemungkinan DCA dibahas kembali.

Para pihak hanya berbincang tentang perkembangan kerja sama yang telah dijalin kedua negara selama ini, khususnya dalam bidang pertahanan.

Bahkan, Chee Hean mengaku kagum dengan pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia dalam industri pertahanan, baik yang dilakukan secara mandiri maupun yang bekerjasama dengan sejumlah negara, seperti Korea Selatan dan Serbia.(ANTARA/WDN)
Continue reading →

Tuesday, September 6, 2011

TNI AL Akan Melakukan Latgab Kapal Selam Bersama AS, Singpura Dan Korsel

Jakarta - Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno mengatakan, pihaknya tengah merintis latihan bersama kapal selam dalam latihan bersama dengan tiga negara yakni Amerika Serikat, Singapura dan Korea Selatan.

"Kami sedang merintis, bahkan dengan AS kita harapkan sudah bisa dimulai pada 2012," katanya, Senin. Kasal mengemukakan, tahapan kerja sama latihan kapal selam diawali dengan pertukaran awak kapal selam TNI Angkatan Laut dengan awak kapal angkatan laut tiga negara itu.

"Selanjutnya awak kapal selam TNI Angkatan Laut akan diperkenalkan dengan kapal selam dari angkatan laut tiga negara itu, begitu pun sebaliknya," ujar Soeparno. Tahapan selanjutnya, tambah dia, latihan bersama kapal selam antara TNI Angkatan Laut dengan angkatan laut AS, Singapura dan Korsel dalam bingkai latihan bersama bilateral yang rutin dilakukan TNI Angkatan Laut dengan angkatan laut tiga negara itu.

"Latihan bersama kapal selam itu, tidak melulu kapal selam dengan kapal selam. Bisa saja kapal selam dengan kapal atas permukaan sesuai skenario latihan yang telah disepakati. Jadi banyak ragam dan pola latihan yang akan dilakukan disesuaikan dengan pola ancaman keamanan maritim nasional, regional maupun internasional," tutur Soeparno.

Tentang ancaman terhadap kedaulatan RI utamanya wilayah perairan dengan kehadiran kapal selam tiga negara itu dalam rangka latihan bersama, Kasal mengatakan,"semua hal tentu sudah diperhitungkan sangat matang,".

Soeparno menambahkan,"banyak kapal selam negara tertentu yang melintas di sekitar wilayah perairan Indonesia selama ini. Indonesia merupakan negara kepulauan dan berada di persimpangan dua samudra besar. Jadi semua kemungkinan sudah dipertimbangan dengan matang,".(REPUBLIKA/WDN)
Continue reading →

Wednesday, July 27, 2011

Indonesia Dan Singapura Tingkatkan Kerja Sama Militer

Jakarta - Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro menerima kunjungan kehormatan Menhan Singapura Ng Eng Hen, di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Selasa (26/7). Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan hubungan kerja sama bilateral kedua negara khususnya di bidang pertahanan.

Dalam pertemuan tersebut, Menhan RI dan Menhan Singapura sepakat untuk terus berupaya meningkatkan kerjasama pertahanan kedua negara yang selama ini telah berjalan dengan baik.

Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Brigjen TNI Hartind Asrin dalam pernyataan tertulisnya, Menhan RI juga menyampaikan kepada Menhan Singapura terkait dengan tindak lanjut rencana kegiatan ADMM Retreat yang akan dilaksanakan di Bali Oktober mendatang.

Selain itu, Menhan RI mengapresiasi suksesnya penyelenggaraan "ASEAN Humanitarian Assistance Disaster Relief Exercise" pada tanggal 12-14 Juli 2011 di Singapura dan Jakarta dimana TNI dan SAF menjadi co-host.

ASEAN Humanitarian Assistance Disaster Relief Exercise tersebut dilaksanakan dengan maksud untuk meningkatkan kerjasama militer negara-negara ASEAN yang bertujuan untuk membiasakan penggunaan model operasi dan pengembangan Standard Operating Procedure (SOP) Humanitarian Assistance Disaster Relief (HARD). ASEAN HARD Exercise juga dilaksanakan untuk meningkatkan kerjasama Civil–Military Cooperation (Cimic).

Turut haadir dalam pertemuan tersebut, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin, Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto, Dirjen Strahan Kemhan Mayjen TNI Puguh Santoso, Staf Khusus Menhan Bidang Kerjasama Internasional Soemadi D.M. Brotodiningrat dan Kapuskom Publik Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin.

Sementara Menhan Singapura didampingi Duta Besar Singapura untuk Indonesia Asok Mirpuri, Permanent Secretary, Ministry of Defence Chiang Chie Foo, Dir Policy Office Cheng BG Cheng Siak Kian dan Atase Pertahanan Singapura di Jakarta Kol. Tham Chong Yean.(JURNAS/WDN)
Continue reading →

Tuesday, June 28, 2011

Menhan : Tak Ada Lagi Kerjasama Pertahanan Indonesia Dengan Singapura

Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan bahwa sejak menandatangani perjanjian kerjsama pertahanan (defense cooperation agreement/DCA) pada 2007 lalu, Indonesia dan Singapura tidak pernah membahasnya lagi.

"Tidak ada lagi pembahasan tentang itu (DCA-red)," katanya di Jakarta, Senin, terkait kemungkinan dibukanya kembali pembahasan mengenai perjanjian ekstradisi kedua negara.

Usai memimpin Sidang ke-3 Komite Kebijakan Industri Pertahanan Pertahanan (KKIP) ia menuturkan, setiap kerja sama pertahanan yang dilakukan dengan sejumlah pihak harus ada kesepakatan pelaksanaannnya (implementing agreement).

"Ini kita belum menyepakati apa-apa. Jadi, tidak ada lagi kerja sama kesepakatan pertahanan itu," kata Purnomo menegaskan.

Perundingan Defence Cooperation Agreement atau DCA antara Indonesia dan Singapura telah berlangsung sejak Juli 2005 selama tujuh kali putaran. Putaran terakhir dilaksanakan pada 5 Desember-6 Desember 2006 dengan menyepakati 13 pasal dan empat pasal lainnya belum tercapai kesepakatan.

Pembahasan tersebut dilakukan pararel membahas mengenai ekstradisi antara dua negara dan selalu dikoordinasikan dengan pihak Departemen Luar Negeri sehingga nantinya kerja sama pertahanan kedua negara dapat benar-benar mendukung kepentingan nasional Indonesia.

DCA akhirnya ditandatangani pada 27 April 2007 oleh menhan kedua negara disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Namun, dalam perjalanannya kesepakatan kerja sama itu tidak dapat dilaksanakan secara mulus karena menuai kontroversi di masing-masing pihak, terutana menyangkut Implementing Arrangement (IA) Military Training Area (MTA) di Area Bravo yang berada di Kepulauan Natuna.

Karena kebuntuan terhadap beberapa pasal dalam DCA antara RI dan Singapura, pihak Singapura sempat mengabaikannya dan tidak membahas lebih lanjut dengan mitranya Indonesia. Akibatnya, perjanjian ekstradisi belum disepakati hingga kini.

Akibatnya, sejumlah terduga pelaku korupsi seperti Nunun Nurbaeti, Muhammad Nazzarudin, dan para tersangka kasus BLBI yang sebagian besar "lari" ke Singapura tidak dapat diekstradisi ke Indonesia.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, hingga kini perjanjian ekstradisi yang digandengkan dengan kesepakatan kerja sama pertahanan RI-Singapura, sama sekali tidak ada kemajuan.

"Belum, sama seperti dulu," kata Menlu Marty di Kantor Presiden Jakarta, Jumat, seusai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kunjungan kehormatan Menlu Singapura K Shanmugam.

Menlu Marty menambahkan Indonesia telah memulai kembali proses komunikasi informal dengan parlemen untuk mengkaji kembali dan menjajaki langkah-langkah yang mungkin dilakukan ke depan, terkait pembahasan Perjanjian Ekstradisi yang dilakukan satu paket dengan Kesepakatan Kerja sama Pertahanan (DCA).(Republika/WDN)
Continue reading →

Wednesday, June 15, 2011

Indonesia Desak Singapura Untuk Bebaskan Gemini

Jakarta - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Michael Tene, mengatakan Pemerintah Indonesia mendesak Pemerintah Singapura segera membebaskan kapal MT Gemini yang telah disandera perompak sejak 30 April 2011. Kapal berbendera Singapura itu disandera perompak di sekitar perairan Somalia. Di kapal itu, ada 13 warga negara Indonesia.

"Kami terus mendesak dan Pemerintah Singapura pun telah berkomitmen membebaskan para awak kapal," kata Michael Tene di Jakarta, Rabu, 15 Juni 2011.

Menurut Tene, belum ada kabar menggembirakan dari proses pembebasan kapal MT Gemini. Dari informasi yang diperoleh, Pemerintah Singapura dan pemilik kapal MT Gemini masih terus melakukan negosiasi dengan para perompak. "Pemilik kapal masih terus melakukan komunikasi dan negosiasi dalam pembebasan kapal," kata Tene.

Tene menuturkan komunikasi pemilik kapal dengan kapal dan perompak memang agak sulit dibandingkan kasus pembebasan Kapal Sinar Kudus. Kapal berbendera Indonesia itu dibebaskan dalam waktu 48 hari. "Komunikasinya sangat berbeda dengan kondisi saat pembebasan kapal Sinar Kudus," kata Tene. "Komunikasi hanya seminggu sekali, sehingga sulit bernegosiasi."

Pemerintah tak bisa bertindak secepat pembebasan kapal Sinar Kudus. Saat itu, Indonesia bisa fokus dan total karena karena kebijakan tindakan di tangan pemerintah. Sedangkan kondisi saat ini, berkaitan dengan Pemerintah Singapura dan pemilik kapal dari Singapura. Apalagi dalam kasus kapal MT Gemini ini, kata dia, pelaku perompaknya berbeda dengan yang membajak kapal Sinar Kudus.

Meski demikian, Tene meyakinkan jika anak buah kapal MT Gemini dalam keadaan sehat dan selamat. Anak buah kapal ini berasal dari Indonesia, Cina, Korea, dan Myanmar. "Semua dalam keadaan sehat," kata Tene.

Soal tebusan, Tene mengaku tak tahu persoalan teknis. Menurut dia, penanganan pembebasan Kapal MT Gemini sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Singapura. "Kami hanya menawarkan bantuan saja," kata Tene. Termasuk uang tebusan, Indonesia siap. "Prinsipnya kami mendorong pembebasan secepatnya."(TEMPO/WDN)
Continue reading →

Tuesday, June 14, 2011

TNI AL Kirim Dua Kapal Perang Ke Singapura Untuk Latihan Bersama

Ilustrasi.

Jakarta – Dua Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) di bawah jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) melaksanakan latihan Passage Exercise (Passex) dengan Royal Singapore Navy (RSN) di Perairan Selat Malaka, pada saat kunjungan kapal perang RSN di Belawan, Selasa (14/6).

Passex ini digelar bersifat insidensial yang dilakukan saat kapal perang RSN ke Indonesia melakukan kunjungan atau lawatan ke negara lain. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme personel Angkatan Laut pengawak kapal perang kedua negara.

TNI AL dalam hal ini Koarmabar pada latihan Passex kali ini melibatkan dua KRI yakni KRI Barakuda – 814 yang termasuk dalam jenis Fast Patrol Boat (FPB) dan KRI Viper – 820 yang termasuk jenis Patroli Cepat (PC 40 class), sedangkan RSN melibatkan RSS Freedom dan RSS Independence yang termasuk dalam Fearless class. Passex yang akan digelar di Selat Malaka akan menguji kemampuan personel masing-masing Kapal Perang dalam hal penguasaan bendera, manuver serta pertukaran informasi situasi laut.

Sebelum pelaksanaan latihan di selat Malak tersebut para personel masing-masing kapal perang telah dibekali dengan pemberian materi latihan di pangkalan yang bertempat di Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) I Belawan. Selain kegiatan yang tersebut diatas para perserta juga mengadakan kegitan olah raga bersama yang diikuti oleh anak buah kapal perang.

Pelaksanaan passex ini digelar sampai dengan 16 Juni 2011. Saat ini kedua kapal perang RSN yang akan melaksanakan latihan Passex telah berada di Belawan.(POS KOTA/WDN)
Continue reading →

Tuesday, June 7, 2011

Menhan: Perjanjian Ekstradisi Terpisah dari DCA

Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan perjanjian ekstradisi antara Indonesia dengan Singapura tidak terkait dengan Defence Cooperation Agreement (DCA). Perjanjian kerjasama pertahanan Indonesia - Singapura dalam DCA sendiri mentok dan tidak ada kata sepakat.

Karena itu, Purnomo mengatakan, masalah ekstradisi masih dibicarakan antara Indonesia dengan Singapura. Karena perjanjian tentang ekstradisi tidak sepaket dengan DCA.

"Mereka bilang itu tidak satu paket. Jadi kalau mau ada perjanjian ekstradisi ya silakan. Itu terpisah dengan DCA," kata Purnomo di Gedung DPR, Selasa, 7 Juni 2011.

"Kalau pemerintah merasa perlu dengan Singapura masalah ekstradisi, ya dibicarakan. Kayak misalnya pembebasan pajak, dibicarakan ya dibicarakan, nggak perlu dikaitkan (dengan DCA)," ucap Purnomo.

"Jadi jangan punya mindset seperti dulu bahwa DCA itu diselesaikan dulu, kemudian nanti akan terjadi trade off atau kompensasi dengan masalah ekstradisi. Jangan berpikir begitu," lanjut dia.

Sebelumnya, Kedutaan Besar Singapura mengatakan perjanjian ekstradisi sudah ditandatangani Indonesia dengan Singapura pada tahun 2007. “Penandatanganan perjanjian tersebut juga disaksikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong di Bali pada 27 April 2007,” kata Sekretaris Pertama Bidang Politik Kedutaan Besar Singapura di Indonesia, Herman Loh, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews, Sabtu malam, 4 Juni 2011.

Namun, perjanjian ekstradisi belum bisa dilakukan karena belum ada ratifikasi di DPR. Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Michael Tenne, ada perbedaan posisi antara Indonesia dengan Singapura dalam memandang perjanjian ekstradisi.

Singapura menginginkan perjanjian ekstradisi sepaket dengan DCA, sedangkan Indonesia ingin agar kedua perjanjian itu berdiri sendiri-sendiri. “Singapura mengaitkan kedua perjanjian itu, sementara Indonesia tidak. Indonesia ingin perjanjian ekstradisi diratifikasi tanpa harus menunggu ratifikasi kerja sama pertahanan,” jelas Tenne.

Singapura menjadi 'surga' bagi sejumlah tersangka kasus hukum di Indonesia, yang kemudian memilih bersembunyi di sana. Salah satu tersangka yang menjadi incaran antara lain Nunun Nurbaeti Daradjatun, tersangka kasus suap Pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia tahun 2004.(VIVANEWS/WDN)
Continue reading →

Wednesday, May 25, 2011

Lima Perwira TNI AU Untuk Menjalani Latihan Simulator Di Singapura

Jakarta - Lima perwira TNI AU yang bertugas sebagai penerbang Pesawat Helikopter di Skadron Udara 7 Lanud Suryadarma melaksanakan latihan simulator Pesawat Helikopter jenis EC 120 Colibri di eurocopter south east asia, Changi Air Base, Singapura, Senin (23/5).

Latihan dilaksanakan selama lima hari hingga, Jumat (27/5) bertujuan melatih kemampuan penerbang menghadapi segala kemungkinan buruk yang terjadi ketika mengawaki Pesawat Helikopter saat di darat maupun terbang, sehingga memiliki pengetahuan untuk bertindak dengan aman ketika ada di cockpit EC 120 Colibri.

Menurut Mayor Pnb Sapuan S.Sos., ketua rombongan yang juga Kepala Dinas Pesonel Lanud Suryadarma dalam surat elektronikanya menyatakan setiap hari tiap penerbang melaksanakan dua kali latihan dengan materi-materi seperti emergency when start engine, emergency system drill, emergency during flight, emergency on area dan instument flying. Selama latihan mereka tinggal di Changi Air Base.

Ditambahkan latihan telah dilaksanakan atas kerjasama TNI AU dengan Royal Singapore Air Force (RSAF) sejak tahun 2008 untuk mempererat kerjasama kedua belah pihak. Sedangkan para penerbang yang ikut latihan tersebut selain Mayor Pnb Sapuan S.Sos adalah Mayor.Pnb.Tarmuji, Kapten Pnb.Yanwar Effendi, Kapten Pnb.Adi Buana dan Lettu Pnb Oktavianus Olga.(TNI AU/WDN)
Continue reading →

Total Pageviews

Blog Archive

Labels

Followers